Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Mengenal Idrus Andi Paturusi, Sang Dokter Kemanusiaan

M Iqbal Al Machmudi
17/11/2025 08:54
Mengenal Idrus Andi Paturusi, Sang Dokter Kemanusiaan
Dokter Idrus Andi Paturusi.(Dok. Pribadi (Iakmi))

SEBUTAN 'dokter kemanusiaan' telah melekat lama pada diri Idrus Andi Paturusi, seorang dokter ahli bedah tulang (ortopedi). Dengan keahlian yang dimilikinya sebagai dokter, Idrus Andi Paturusi konsisten mengabdikan diri di masyarakat, khususnya dalam kondisi ekstrem, seperti di berbagai lokasi bencana alam.

Perjalanan Idrus sebagai 'dokter kemanusiaan' dimulai pada tahun 2000 dengan mendeklarasikan Safe Community di Makassar atau yang disebut sebagai Deklarasi Makassar. Safe Community tersebut merupakan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan gawat darurat.

Jika ada korban bencana maka Safe Community tersebut bisa menuju lokasi bencana dan segera melakukan pertolongan pertama. Selain itu, komunitas tersebut juga melakukan pelatihan kepada ahli medis sehingga mereka mampu memberikan pertolongan.

"Saya itu sudah tidak tahu puluhan daerah bencana yang saya selalu datangi dan Alhamdulillah saya bisa membantu korban-korban bencana sesuai dengan kemampuan dan tenaga yang saya miliki," ujar dia.

Membekas di Ingatan

Dari puluhan lokasi bencana yang ia datangi dan ratusan korban yang ia bantu, yang paling membekas adalah penanganan korban setelah tsunami di Aceh tahun 2004 dan likuifaksi di Palu tahun 2018. Kedua bencana tersebut memiliki perbedaan penanganan karena beragam bencana yang terjadi di dua daerah tersebut. Terutama di Palu terjadi 3 bencana yaitu gempa, likuifaksi, dan tsunami.

Banyak lokasi bencana yang Idrus datangi, ia melihat kurang cepatnya penanganan bagi korban bencana atau tidak banyak orang yang bisa datang pada hari-hari pertama bencana.

Ia menceritakan ketika tsunami di Aceh. Ia dan timnya datang ke Kota Serambi Mekkah itu pada hari kedua. Sementara tim dari Kementerian Kesehatan baru datang seminggu setelah bencana.

"Kemudian saya tanya, kenapa terlambat datang? Dia bilang, kita musti bikin laporan dulu karena tidak mudah mengeluarkan dana dari kantor," ucapnya.

Dengan kondisi demikian, ia berpikir korban gawat darurat bisa terlambat ditangani. Jadi, ia berinisiatif agar Tim Safe Community dari Makassar bisa bergerak menuju lokasi bencana alam yang dibutuhkan.

"Selain itu, kita memang tidak mengharapkan dana dari mana pemerintah karena kami ada buffer stock baik obat-obatan maupun dana. Jadi kalau ada apa-apa (bencana) bisa langsung berangkat saja. Tetapi kalau di belakangan pemerintah mau reimburs itu terima kasih, tapi kalau tidak, tidak masalah," ungkap Idrus.

Tularkan Semangat

Dengan berbagai pengalamannya di lapangan ia berharap bisa menularkan semangatnya kepada dokter-dokter muda terutama spesialis ortopedi.

Pria berusia 75 tahun itu mengatakan saat ini sudah ada yayasan yang mengumpulkan alat-alat untuk operasi patah tulang dan pendanaan untuk semisal terjadi bencana maka bisa langsung cepat tanggap. 

"Jika bencana terjadi di daerah wilayah timur, maka center dari Makassar yang akan bergerak atau bisa dari Surabaya. Tapi kalau bencana terjadi wilayah barat kita ajak center dari Aceh, Jakarta, Bandung, dan lain sebagainya. Jadi pembagian itu sudah diatur sehingga tidak numpuk jadi pada waktu bencana," ungkapnya.

Sementara tugas dari Idrus melakukan koordinasi dengan jumlah ortopedi sekitar 1.800 dokter agar dokter-dokter muda dapat berkesempatan membantu korban-korban bencana.

Lifetime Achievement Award

Tahun ini, berkat kiprah dan pengabdiannya, Idrus meraih Lifetime Achievement Award dari Indonesian Orthopaedic Association. Penghargaan tersebut diberikan kepada Idrus atas dedikasi dan perjalanannya selama menjadi dokter spesialis ortopedi yang membantu korban-korban bencana alam seperti Tsunami di Aceh pada 2004 hingga terjadinya likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018 lalu.

Dengan diberikannya penghargaan tersebut ia merasa benar-benar dihargai karena pengabdiannya untuk membantu korban bencana tidak sia-sia. "Saya kira semua yang diberi penghargaan ada rasa kepuasan dengan apa yang telah dilakukan. Di samping itu, saya kira apa yang pernah saya lakukan itu tidak sia-sia bahwa ada yang menghargai," kata Idrus saat dihubungi, Sabtu (15/11). (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya