Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Sanitasi yang Baik, Langkah Kunci Cegah Demam Rematik pada Anak

Cornelius Juan Prawira
10/11/2025 18:34
Sanitasi yang Baik, Langkah Kunci Cegah Demam Rematik pada Anak
Demam rematik (DR) yang dapat berkembang menjadi penyakit jantung rematik (PJR) pada anak.(Dok. Freepik)

Demam rematik (DR) yang dapat berkembang menjadi penyakit jantung rematik (PJR) pada anak masih menjadi ancaman yang belum dapat diatasi secara optimal. Faktor utama penyebabnya adalah kepadatan hunian yang tinggi, ventilasi yang buruk, serta minimnya fasilitas sanitasi yang memadai.

Selain itu, rendahnya tingkat pemeriksaan kesehatan serta tidak memadainya pendataan nasional turut memperburuk kondisi ini.
Tersedianya sarana sanitasi yang baik menjadi suatu kebutuhan mendesak. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2022) menunjukkan bahwa 58% sekolah di Indonesia tidak memiliki akses ke sanitasi dasar.

Begitu pula di lingkup keluarga, di mana pada 2024, Badan Pusat Statistik mencatat 89% rumah tangga belum memiliki akses sanitasi layak, sementara hanya 80% rumah yang memiliki fasilitas cuci tangan yang memadai.

Dalam hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya pencegahan primer yang melibatkan peran aktif anak, orangtua, sekolah, dan pemerintah untuk menghindari DR, antara lain melalui langkah-langkah berikut:

  1. Mengenali gejala demam rematik, segera melakukan pengobatan, dan patuh pada pemberian antibiotik dalam durasi 10-14 hari.
  2. Revitalisasi fasilitas sanitasi dan ventilasi di sekolah maupun rumah.
  3. Menjaga kebersihan gigi dengan menyikat gigi secara rutin.
  4. Menutup mulut saat batuk atau bersin.
  5. Mengurangi kepadatan dalam kamar tidur anak.
  6. Tidak berbagi alat makan dengan orang lain.
  7. Menerapkan budaya cuci tangan yang benar.

Pemerintah diminta untuk meluncurkan program skrining, pendataan nasional, serta pengadaan Benzatin Penicillin G (BPG) di fasilitas kesehatan primer, sekunder, dan tersier.

Selain itu, IDAI juga mengingatkan pentingnya pencegahan sekunder untuk mengurangi risiko kekambuhan demam rematik dan memperburuk kondisi PJR. Jika anak sudah terdiagnosis DR atau PJR, pengobatan dengan antibiotik harus dilanjutkan, yaitu:

Suntikan intramuskular Benzatin Penisilin G setiap 3-4 minggu, dengan dosis:

  • < 27 kg: 600.000 IU
  • 27 kg: 1,2 juta IU

Alternatif obat oral berupa Phenoxymethyl Penisilin, dengan dosis 2 x 250 mg per hari.

Pemberian antibiotik ini harus diteruskan minimal selama 5 tahun atau hingga anak berusia 21 tahun, tergantung pada tingkat kerusakan katup jantung.

IDAI juga menekankan bahwa anak yang terdiagnosis demam rematik atau penyakit jantung rematik disarankan untuk menghindari aktivitas fisik berat, seperti olahraga, guna mencegah kondisi kesehatan yang lebih buruk. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya