Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Anak Muda NU Tolak Rencana Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto

Despian Nurhidayat
09/11/2025 14:21
Anak Muda NU Tolak Rencana Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto
Aksi menolak pemberian gelar pahlawan nasional Soeharto.(Dok. MI/Usman Iskandar)

AKTIVIS muda Nahdlatul Ulama (NU) dari kalangan Gen Z, Lily Faidatin menegaskan penolakannya terhadap rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada mantan pemimpin rezim Orde Baru, Soeharto. Menurut Lily, langkah tersebut tidak adil bagi para korban dan pihak-pihak yang terdampak langsung oleh perilaku otoriter, perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Soeharto.

“Tolak dong,” ungkapnya dilansir dari laman resmi NU, Minggu (9/11).  

Lily yang juga sebagai seorang santri menilai bahwa seorang tokoh tidak cukup hanya dilihat dari jasanya semata. Ia menyampaikan bahwa dalam tradisi NU pentingnya menekankan nilai-nilai tasawuf, toleransi, dan amar ma’ruf nahi munkar dalam menilai sosok dan peristiwa.

“Kita harus melihat secara adil. Beliau memang berjasa dalam hal pertumbuhan ekonomi bangsa kita yang saat itu tidak memerlukan impor beras dari luar, tetapi kita juga harus secara adil bahwa lebih banyak orang yang dilukai, lebih banyak orang yang terkena imbas dari kebijakan Soeharto itu. Sampai hari ini, lukanya belum sembuh bagi jutaan orang yang terkena imbasnya,” jelasnya.

Lily mengungkapkan, sebagai bagian dari generasi muda, dirinya baru mengenal sosok Soeharto secara lebih mendalam ketika memasuki dunia perkuliahan.

Menurutnya pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional akan menimbulkan ketidakadilan sejarah.

“Ketika Soeharto kemudian dijadikan sebagai pahlawan nasional rasanya sangat tidak adil bagi korban dan orang-orang yang pernah bersinggungan dan terdampak dari adanya Orde Baru itu,” ujar Lily.

Ia menegaskan bahwa masih banyak bukti bahwa luka akibat kebijakan Orde Baru belum sepenuhnya pulih.

“Kita mungkin tahu bahwa Aksi Kamisan menjadi salah satu bukti bahwa era Orde Baru belum selesai, bahkan sampai hari ini. Sangat tidak keren kalau misalnya kita sebagai generasi muda turut mendukung Soeharto sebagai pahlawan nasional. Mungkin kalau menjadi pahlawan, ya bagi keluarganya sendiri saja,” ucapnya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya