Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Puasa Jangka Pendek tidak Berdampak pada Kinerja Otak Orang Dewasa

Thalatie K Yani
07/11/2025 11:44
Puasa Jangka Pendek tidak Berdampak pada Kinerja Otak Orang Dewasa
Ilustrasi(freepik)

PUASA sering dianggap dapat menurunkan konsentrasi atau kemampuan berpikir, terutama bagi mereka yang bekerja atau belajar. Namun, sebuah analisis besar terhadap lebih dari 70 penelitian justru menemukan hal sebaliknya. Puasa jangka pendek hampir tidak berpengaruh pada kinerja otak orang dewasa.

Riset ini dilakukan tim dari Paris Lodron University Salzburg (PLUS) dan University of Auckland (UA), dipimpin Dr. Christoph Bamberg, ahli kognitif dari PLUS, dan Dr. David Moreau, ahli saraf dari UA. Studi ini meneliti bagaimana kebiasaan makan memengaruhi perhatian dan daya ingat manusia.

“Orang sering khawatir jika berpuasa, mereka tidak bisa fokus di tempat kerja atau belajar dengan efektif. Hasil kami menunjukkan bahwa bagi kebanyakan orang dewasa, puasa jangka pendek tidak berdampak besar pada ketajaman mental,” kata Dr. Moreau.

Otak Dewasa Tahan Terhadap Puasa

Dalam berbagai uji standar, orang dewasa yang berpuasa 8 hingga 24 jam menunjukkan hasil hampir sama dengan mereka yang makan seperti biasa. Penurunan performa, jika ada, sangat kecil dan tidak berpengaruh signifikan pada aktivitas harian.

Namun, peneliti mencatat waktu dalam sehari berpengaruh. Kinerja menurun sedikit di sore hari, sesuai dengan ritme alami tubuh. Selain itu, tugas yang melibatkan gambar atau isyarat makanan membuat peserta yang lapar sedikit lebih lambat, tetapi tidak berdampak pada tugas netral lainnya.

“Sepertinya otak cukup tangguh menghadapi kekurangan makanan sementara,” tambah Dr. Moreau.

Anak dan Remaja Tidak Sama

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak dan remaja ternyata lebih rentan terhadap efek puasa. Analisis terhadap berbagai studi tentang sarapan di sekolah menunjukkan bahwa melewatkan makan pagi dapat menurunkan fokus, daya ingat, dan kemampuan memecahkan masalah.

Otak yang masih berkembang memerlukan lebih banyak glukosa sebagai bahan bakar. Karena itu, sarapan menjadi penting agar anak dapat belajar secara optimal. Sekolah disarankan memperhatikan kebutuhan energi siswa, terutama bagi mereka yang kesulitan mengakses makanan secara teratur.

Mengapa Otak Tetap Aktif Saat Lapar

Penelitian medis menjelaskan bahwa puasa singkat memicu tubuh beralih dari glukosa ke sumber energi lain, yaitu keton, yang berasal dari lemak. Keton ini tidak hanya memberi energi tetapi juga membantu sel otak tetap efisien dan tahan terhadap stres.

Fleksibilitas metabolik inilah yang membuat kebanyakan orang dewasa tetap stabil secara kognitif meski berpuasa dalam waktu singkat. Namun, waktu dan konteks tetap penting, kemampuan berpikir cenderung menurun pada sore hari atau saat seseorang melihat makanan.

Bagi yang menjalani puasa, para peneliti menyarankan untuk menjadwalkan pekerjaan berat di pagi hari dan berbuka sebelum tugas penting di sore hari.

Kesimpulannya, bagi orang dewasa sehat, melewatkan satu atau dua kali makan tidak akan menurunkan kinerja otak secara signifikan. Namun bagi anak-anak dan remaja, sarapan tetap penting untuk mendukung kemampuan belajar setiap hari. (Earth/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik