Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet mengungkap sebagian besar orang yang mengaku sensitif terhadap gluten sebenarnya tidak bereaksi terhadap gluten itu sendiri. Sebaliknya, gejala yang mereka alami kemungkinan besar disebabkan faktor lain seperti karbohidrat fermentasi (FODMAP), komponen lain dalam gandum, atau bahkan interaksi antara otak dan sistem pencernaan.
Studi komprehensif ini menganalisis berbagai penelitian tentang non-celiac gluten sensitivity (NCGS), kondisi yang dialami sekitar 10% populasi dunia. Peneliti berupaya memahami mengapa sebagian orang mengalami gejala seperti kembung, sakit perut, dan kelelahan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, padahal mereka tidak menderita penyakit celiac.
Asisten Profesor Jessica Biesiekierski dari University of Melbourne, yang memimpin penelitian, mengatakan hasil riset ini menantang anggapan umum tentang sensitivitas gluten.
“Berlawanan dengan kepercayaan populer, sebagian besar penderita NCGS tidak bereaksi terhadap gluten,” ujarnya. “Temuan kami menunjukkan bahwa gejala lebih sering dipicu oleh karbohidrat fermentasi (FODMAP), komponen gandum lainnya, atau bahkan ekspektasi dan pengalaman sebelumnya terhadap makanan.”
Dalam uji coba yang dikontrol ketat, hanya sedikit peserta yang menunjukkan reaksi nyata terhadap gluten. Sebagian besar respon serupa dengan efek plasebo.
Menurut Biesiekierski, bukti terbaru menunjukkan penderita irritable bowel syndrome (IBS) yang menganggap dirinya sensitif terhadap gluten sering bereaksi serupa terhadap gluten, gandum, maupun plasebo. “Ini menunjukkan cara seseorang menafsirkan sensasi pada usus sangat memengaruhi gejala yang muncul,” katanya.
Temuan ini memperkuat pandangan NCGS lebih berkaitan dengan gangguan interaksi otak-usus, dibandingkan dengan kelainan akibat gluten semata.
Tim peneliti dari Australia, Belanda, Italia, dan Inggris menilai hasil riset ini dapat memengaruhi cara diagnosis, pemberian saran diet, dan komunikasi kesehatan masyarakat.
“Jutaan orang di dunia menghindari gluten karena mengira itu berbahaya bagi pencernaan mereka,” kata Biesiekierski. “Memahami kondisi ini secara ilmiah dan klinis sangat penting karena memengaruhi hingga 15 persen populasi global.”
Asisten Profesor Jason Tye-Din dari Royal Melbourne Hospital menambahkan pemahaman baru ini akan membantu dokter membedakan NCGS dari gangguan usus lain.
“Membedakan kondisi ini penting agar pasien mendapat diagnosis yang tepat dan perawatan yang disesuaikan, tanpa perlu pembatasan diet yang tidak perlu,” ujarnya.
Biesiekierski menutup dengan menyerukan perubahan narasi publik. “Kami ingin pesan kesehatan masyarakat bergeser dari anggapan bahwa gluten berbahaya, karena riset menunjukkan hal itu tidak selalu benar,” katanya. (Science Daily/Z-2)
Merasa terganggu dan takut kehilangan kewarasan, wanita tersebut mencari bantuan psikiater, Dr. Ikechukwu Obialo Azuonye.
Gagal ginjal sering berkembang tanpa gejala di tahap awal. Kenali tanda-tanda seperti kelelahan, edema, hingga perubahan urine untuk penanganan sedini mungkin.
Daftar 20 makanan tinggi antioksidan versi USDA, dari blueberry hingga kacang merah. Bantu lawan radikal bebas dan cegah penyakit kronis.
Berdasarkan filosofi keseimbangan Yin dan Yang, jamur kuping dipercaya mampu mengembalikan harmoni organ tubuh yang terganggu akibat penyakit.
Selain hipertensi, diabetes dan influenza juga menduduki posisi teratas dalam daftar keluhan kesehatan di posko pemantauan mudik.
Sakit tenggorokan saat bangun tidur bisa disebabkan dehidrasi, alergi, hingga GERD. Kenali 6 penyebab paling umum dan cara mencegahnya sebelum kondisi semakin parah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved