Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ahli kesehatan dan ekologi memperingatkan bahwa praktik perdagangan hewan hidup maupun untuk konsumsi dan juga penjualan satwa liar di pasar tradisional berpotensi menjadi titik awal munculnya penyakit menular baru pada manusia.
Kondisi kerumunan hewan dari spesies berbeda, sanitasi yang buruk, dan kontak langsung antara manusia dengan hewan menciptakan peluang besar bagi virus untuk spill over (melompat) dari hewan ke manusia dan pada beberapa kasus, berkembang menjadi epidemi atau pandemi.
Terdapat beberapa faktor meningkatkan risiko pasar hewan menjadi sumber penyakit baru. Pertama, dikutip dari jurnal yang diterbitkan The Lancet Planetary Health bahwa kehadiran banyak takson hewan berisiko tinggi seperti unggas, mamalia kecil, primata yang diletakkan berdekatan sehingga patogen dapat berpindah antar spesies yang secara alami tidak bertemu.
Faktor kedua dikutip dari jurnal Live and Wet Markets: Food Access versus the Risk of Disease Emergence diterbitkan oleh PubMed Central. Adanya hewan hidup dan hewan yang baru disembelih di area yang sama meningkatkan paparan cairan tubuh dan feses yang mengandung virus.
Dan faktor ketiga dikutip dari ScienceDirect bahwa proses rantai pasok yang panjang dari penangkapan/penangkaran, transportasi, hingga penjualan meningkatkan interaksi antarkelompok hewan dan antara hewan dengan manusia.
Analisis genetika dan epidemiologi terhadap wabah awal covid-19 mengidentifikasi bahwa pasar grosir Huanan di Wuhan, Tiongkok, merupakan lokasi dengan banyak temuan kasus awal dan bukti lingkungan yang menunjukkan keberadaan SARS-CoV-2 di area pasar, sehingga pasar tersebut menjadi fokus penting dalam penelusuran asal-usul virus.
Untuk virus influenza burung (H5N1), bukti lapangan dan pemodelan menunjukkan bahwa perdagangan unggas hidup dan pasar unggas memainkan peran krusial dalam penyebaran dan pemeliharaan virus di populasi domestik, dan intervensi seperti penutupan sementara atau pembatasan perdagangan terbukti menurunkan risiko penularan ke manusia. (H-2)
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Peneliti simulasi wabah H5N1 pada manusia. Hasilnya, hanya ada jendela waktu sangat sempit untuk mencegah pandemi sebelum penyebaran tak terkendali.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti mengatakan selama tidak ada deklarasi epidemi di daerah maka korban keracunan MBG akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Ahli epidemiologi Michael Osterholm memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi pandemi mematikan berikutnya.
Masyarakat perlu dijelaskan bahwa virus influenza yang saat ini banyak ditemukan di berbagai negara tidak selalu lebih berat, tetapi memang lebih mudah menular.
IDAI mengingatkan cacar air sangat menular. Satu anak bisa menularkan varicella ke 8–12 anak lain, terutama di sekolah dan lingkungan dengan kontak erat.
Pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) sekaligus Ketua PDITT dr. Iqbal Mochtar, meminta masyarakat tidak panik dengan penyakit ini, apalagi dengan istilah super flu.
Superflu merupakan influenza tipe A virus H3N2 subclade K yang sudah ada dari dulu.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Hingga saat ini, telah dilaporkan 189.312 kasus flu positif di New York pada musim ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved