Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAH merasa seolah-olah kamu menjadi sasaran empuk nyamuk, sementara orang lain di sekitarmu tidak? Ternyata, ada penjelasan ilmiah di balik fenomena magnet nyamuk ini.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa nyamuk tidak menggigit sembarang orang, melainkan memilih korban mereka dengan cukup selektif.
Profesor entomologi Jonathan F Day mengungkapkan bahwa salah satu faktor utamanya adalah jumlah karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan tubuh seseorang.
“Jumlah CO2 yang kamu hasilkan—yang dipengaruhi oleh tingkat metabolisme, faktor genetik, dan lainnya—meningkatkan ketertarikan nyamuk terhadapmu,” jelasnya dilansir dari La Bible, Senin (15/9).
Semakin tinggi produksi CO2, semakin besar pula peluangmu menjadi incaran serangga ini.
Selain itu, asam laktat—zat kimia yang menyebabkan otot terasa kram—juga dapat membuat seseorang lebih menarik di mata nyamuk.
Day menambahkan, warna pakaian juga punya pengaruh.
“Cara kamu berpakaian penting. Kalau kamu memakai pakaian berwarna gelap, kamu akan lebih menarik bagi nyamuk karena terlihat menonjol dari latar belakang, sementara warna terang tidak begitu,” ujarnya.
Nyamuk juga tertarik pada panas tubuh, sehingga orang yang sedang berolahraga, mengonsumsi alkohol, hamil, atau memiliki berat badan lebih tinggi cenderung lebih sering digigit.
Selain itu, ada satu faktor menarik lain yang diduga turut memengaruhi yakni golongan darah.
Sejumlah studi menemukan bahwa orang dengan golongan darah O tampaknya lebih disukai nyamuk. Hal ini diduga karena nyamuk mampu mengenali antigen yang berbeda pada permukaan sel darah merah setiap golongan darah.
Menurut laporan Healthline, orang dengan golongan darah O menghasilkan antigen H—prekursor dari antigen A dan B—yang dianggap menggugah selera bagi nyamuk.
Sebuah penelitian pada 1974 menemukan bahwa nyamuk lebih memilih inang dengan golongan darah O, dan studi pada 2004 kembali menguatkan hasil ini dengan menyebut bahwa subjek bergolongan darah O lebih banyak menarik nyamuk dibanding golongan darah lainnya.
Penelitian lain pada 2019 juga menunjukkan preferensi tertinggi pada golongan darah O ketika nyamuk diberi pilihan darah dari berbagai golongan.
Namun, perusahaan farmasi Pfizer menekankan bahwa hubungan antara golongan darah dan ketertarikan nyamuk masih kontroversial.
“Penelitian laboratorium tentang apakah golongan darah membuat seseorang lebih (atau kurang) menarik bagi nyamuk telah memicu banyak spekulasi, tetapi hasil ilmiahnya masih bertentangan,” jelas mereka.
Pfizer menambahkan bahwa kemungkinan seseorang menjadi magnet nyamuk lebih berkaitan dengan bau kulit dan mikrobiota daripada golongan darah. (Z-1)
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Orang golongan darah O cenderung bisa mengalami kondisi yang lebih parah saat terkena kolera, sementara mereka dengan golongan darah A atau B lebih rentan mengalami gangguan pembekuan darah.
Selama ini golongan darah sering dianggap sekadar informasi dasar di rekam medis, berguna ketika seseorang hendak menjalani tes darah atau operasi.
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Peneliti berhasil mengubah ginjal bergolongan darah A menjadi tipe O menggunakan enzim, menciptakan potensi donor organ universal.
Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis.
Ada delapan jenis golongan darah yang berbeda, dan jenis yang Anda miliki tergantung pada gen yang diwariskan dari orang tua Anda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved