Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
POLITISI dan pembuat kebijakan ternyata meremehkan kesediaan publik untuk berkontribusi dalam menghadapi krisis iklim. Hal ini membuat banyak kebijakan hijau bersifat setengah hati dan kurang ambisius.
Dalam sebuah survei pada sidang United Nations Environment Assembly (UNEA), para delegasi diminta menebak berapa persen penduduk dunia bersedia menyumbangkan 1% dari penghasilannya demi mengatasi perubahan iklim. Rata-rata jawaban mereka adalah 37%. Namun, riset terbaru menunjukkan angka sebenarnya jauh lebih tinggi, yaitu 69%.
Tak hanya itu, 89% responden global juga menyatakan bahwa pemerintah mereka “harus berbuat lebih banyak untuk melawan pemanasan global”.
Perbedaan besar antara persepsi dan kenyataan ini digambarkan peneliti sebagai kasus “pluralistic ignorance”. Kondisi ketika orang salah menilai kemauan orang lain untuk bertindak, sehingga kebijakan ambisius sering dihindari.
Yang mengejutkan, kesenjangan persepsi ini justru muncul di kalangan peserta UNEA, yang terdiri dari 191 delegasi dari 53 negara, termasuk 24 negosiator kebijakan aktif. Padahal, 83% di antaranya setuju bahwa individu bisa berperan nyata dalam aksi iklim.
Menurut Dr. Ximeng Fang dari Saïd Business School, Universitas Oxford, temuan ini menunjukkan adanya “diskoneksi” antara pandangan pembuat kebijakan dengan aspirasi publik. Sementara itu, Dr. Stefania Innocenti dari Smith School of Enterprise and the Environment menambahkan, rasa ragu itu membuat politisi cenderung “main aman” dengan melemahkan proposal kebijakan yang seharusnya berani dan ambisius.
“Net zero bukan hanya mungkin, tapi juga masuk akal secara ekonomi,” jelas Fang. Ia menekankan pentingnya membangun narasi iklim yang menonjolkan harapan dan optimisme, bukan sekadar ancaman.
Dr. Joshua Ettinger dari George Mason University berharap riset ini mendorong para pembuat kebijakan untuk lebih berani: “Mereka punya dukungan publik yang lebih besar daripada yang mereka kira.” (The Guardian/Z-2)
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved