Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
ILMUWAN dari University of Illinois Urbana-Champaign berhasil menggabungkan pencitraan super cepat dengan algoritma cerdas untuk mengintip langsung aktivitas kimia di otak manusia. Teknologi ini mengubah pemindaian MRI konvensional menjadi semacam mikroskop metabolik, yang mampu membedakan jaringan otak sehat dari tumor, menilai tingkat keganasan kanker otak, bahkan memprediksi kekambuhan multiple sclerosis (MS) jauh sebelum gejalanya muncul dalam MRI struktural biasa.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Biomedical Engineering, tim yang dipimpin Profesor Zhi-Pei Liang dari Departemen Teknik Elektro dan Komputer sekaligus anggota Beckman Institute, memperkenalkan teknologi baru yang dapat memindai seluruh otak hanya dalam waktu sekitar 12 menit. Hebatnya, teknologi ini memberikan gambaran metabolisme dan kadar neurotransmiter secara non-invasif dengan resolusi tinggi.
“Memahami bagaimana otak bekerja—dan apa yang salah saat terjadi gangguan—adalah tantangan besar sains modern,” kata Liang. “MRI telah sangat membantu dalam mengungkap misteri ini selama empat dekade terakhir. Kini, teknologi kami menambahkan dimensi baru: kemampuan melihat langsung metabolisme otak dan mendeteksi perubahan metabolik yang berkaitan dengan penyakit.”
MRI konvensional selama ini hanya menampilkan struktur otak secara detail, dan fMRI menunjukkan perubahan aliran darah yang berkaitan dengan aktivitas saraf. Namun, keduanya tidak memberikan informasi tentang proses metabolik otak.
Teknologi baru ini, yang disebut magnetic resonance spectroscopic imaging (MRSI), memungkinkan pemetaan metabolit dan neurotransmiter secara langsung. Menurut peneliti utama Yibo Zhao, perubahan metabolik sering terjadi lebih awal dari kelainan struktural atau fungsional yang biasanya baru terlihat di MRI standar.
“Dengan mengamati perubahan metabolisme, kita bisa mendiagnosis dan menangani penyakit otak lebih awal,” ujar Zhao.
Upaya sebelumnya dalam MRSI kerap terhambat oleh waktu pemindaian yang lama dan sinyal lemah. Tim dari Illinois berhasil mengatasi hambatan ini dengan menggabungkan metode pencitraan ultracepat dan pengolahan data berbasis pembelajaran mesin (machine learning) fisika.
Dengan teknik baru ini, tim berhasil memindai otak secara menyeluruh hanya dalam 12,5 menit—suatu pencapaian yang mendekatkan teknologi ini pada penggunaan klinis sehari-hari.
Dalam pengujian terhadap kelompok sehat, peneliti menemukan aktivitas metabolik dan neurotransmiter yang bervariasi di berbagai bagian otak, menandakan bahwa metabolisme otak tidak seragam.
Lebih jauh, pada pasien tumor otak, mereka mendeteksi peningkatan kadar kolin dan laktat—penanda metabolik—yang tidak terlihat pada MRI klinis standar, meskipun tampilan tumor tampak sama.
Pada pasien dengan multiple sclerosis, teknologi ini bahkan mampu mengidentifikasi perubahan molekuler akibat peradangan saraf hingga 70 hari sebelum perubahan tersebut bisa dideteksi MRI konvensional.
Dengan memantau perubahan metabolik dari waktu ke waktu, dokter dapat menilai efektivitas terapi dan menyesuaikan pengobatan berdasarkan profil metabolik unik setiap pasien.
“Pencitraan metabolik otak dengan resolusi tinggi memiliki potensi klinis yang sangat besar,” kata Liang, yang merupakan murid dari mendiang Paul Lauterbur, penemu teknologi MRI dan peraih Nobel. “Ini adalah impian Lauterbur: menciptakan pencitraan metabolik yang cepat dan tajam untuk aplikasi klinis—dan kini, kami semakin dekat untuk mewujudkannya.”
Sebagai sistem kesehatan global bergerak ke arah pengobatan presisi dan prediktif, teknologi ini bisa menjadi alat penting dalam deteksi dini dan penanganan penyakit neurologis secara personal dan efektif. (Science Daily/Z-2)
Selain sakit kepala dan asfiksia (kekurangan oksigen), gas tertawa dapat memicu terbentuknya bekuan darah serta gangguan pada hitung darah.
Kesehatan otak seharusnya dirawat sejak dini melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten.
Penelitian terbaru mengungkap ekspresi wajah primata dan manusia adalah tindakan terencana, bukan sekadar respons emosional otomatis.
Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan dilansir oleh laman PsyPost mengungkap bahwa misi luar angkasa tidak hanya berdampak pada otot dan tulang manusia
Kolin merupakan nutrisi esensial yang berperan langsung dalam pengaturan suasana hati, daya pikir, dan emosi.
Pernahkah kamu melihat wajah pada rumput, batu, bangunan, atau mungkin benda-benda terdekat di sekitar?
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
KECANTIKAN sejati bagi seorang wanita sering kali didefinisikan melalui pantulan cermin. Namun, esensi sebenarnya terletak pada pancaran empati dan kekuatan dari dalam hati.
Angka kematian akibat kanker di Indonesia tercatat masih 234.000 kasus tiap tahun, dengan kasus tertinggi kanker payudara yang menurut Globocan 2020 tercatat 66.000 kasus.
PENYANYI Alika Islamadina menerapkan pola hidup yang lebih sehat setelah menjadi caregiver (perawat) bagi ibunya yang mengalami kanker.
Pasien sering datang dengan kondisi umum yang sudah menurun sehingga mempersulit proses tindakan dan pemulihan.
KEMAMPUAN story telling atau bercerita sangat dibutuhkan untuk memberi pemahaman yang benar bagi masyarakat terkait langkah pengobatan yang tepat dalam mengatasi kanker.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved