Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SAAT perhatian dunia tertuju pada perubahan iklim global, QNET menyoroti ancaman yang lebih dekat, yakni polusi udara dalam ruangan. Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, perusahaan gaya hidup dan kebugaran global itu mengajak masyarakat untuk memulai aksi perlindungan lingkungan dari rumah sendiri.
Polusi udara di dalam ruangan kini menjadi perhatian serius, seiring dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan, badai debu, dan emisi global yang makin memperburuk kualitas udara. QNET menyebut udara yang dihirup di dalam rumah bisa lebih berbahaya dibandingkan di luar.
"Ketika kita berbicara tentang keberlanjutan, kita sering kali berfokus pada hutan, lautan, dan lahan pertanian. Namun, lingkungan terdekat kita adalah rumah kita," kata Chief Marketing Officer QNET Trevor Kuna.
Mengutip data WHO, 99% populasi dunia kini menghirup udara yang sudah melewati batas aman, dengan kualitas udara dalam ruangan bisa lima kali lebih buruk dari udara luar.
Padahal, rata-rata manusia menghabiskan hingga 90% waktunya di dalam ruangan. Dengan demikian, udara bersih di rumah menjadi kebutuhan dasar, bukan sekadar kenyamanan.
Sebagai bagian dari solusi, QNET mengedepankan inovasi produk HomePure Zayn, alat pemurni udara berteknologi tinggi yang mampu menyaring hingga 99,8% kontaminan, termasuk virus, alergen, asap, dan partikel mikro lainnya. Produk ini juga dilengkapi dengan teknologi sterilisasi UV dan sistem penyaringan enam tahap.
"HomePure Zayn mencerminkan visi QNET tentang inovasi berkelanjutan yang meningkatkan kesejahteraan. Udara bersih seharusnya menjadi hak asasi manusia, bukan kemewahan," kata Trevor.
Tak hanya pada level rumah tangga, QNET juga mengimbau pemerintah, perencana kota, dan aktivis lingkungan untuk memasukkan kualitas udara dalam ruangan ke dalam agenda kebijakan iklim, terutama di wilayah perkotaan yang rentan. (E-1)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui bahwa tantangan polusi di Ibu Kota semakin kompleks, sehingga regulasi lama seperti Perda Nomor 2 Tahun 2005 sudah tidak lagi memadai.
Penelitian terbaru mengungkap polusi udara telah ada sejak Kekaisaran Romawi Kuno.
Konsentrasi partikel halus () di Tangerang Selatan kerap melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Riset Northwestern University ungkap asap kayu di rumah menyumbang 20% polusi mematikan di AS.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved