Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
NASI sudah lama menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Namun, di tengah meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat, nasi kerap disalahkan sebagai penyebab naiknya berat badan (BB) dan lonjakan gula darah.
Tak sedikit orang mulai menggantinya dengan makanan lain, bahkan menghindarinya sepenuhnya. Tapi benarkah nasi seburuk itu?
Salah satu mitos paling umum adalah bahwa nasi putih menyebabkan kegemukan. Padahal, kenaikan berat badan lebih berkaitan dengan total kalori yang dikonsumsi dibanding satu jenis makanan saja. Nasi memang mengandung karbohidrat tinggi, tetapi selama dikonsumsi dalam porsi wajar dan diimbangi dengan protein serta serat, nasi tidak akan otomatis membuat berat badan melonjak.
Porsi berlebihan dan pola makan tinggi gula serta lemak jenuh-lah yang sering kali jadi penyebab utamanya. Jadi, bukan nasi yang salah, melainkan cara konsumsinya yang perlu dikontrol.
Kandungan indeks Glikemik (IG) dalam nasi tergolong tinggi. Hal itu berarti lonjakan gula darah akan lebih cepat dibandingkan saat mengonsumsi makanan lain. Namun, penting untuk dipahami bahwa efek ini juga tergantung pada apa yang dikonsumsi bersama nasi.
Menambahkan lauk berprotein seperti ayam, telur, atau tempe, serta sayuran berserat dapat memperlambat penyerapan gula dalam tubuh. Jadi, nasi tetap bisa masuk dalam pola makan sehat, asalkan dikombinasikan secara tepat.
Tidak semua nasi sama. Bila dibandingkan nasi merah atau coklat, kandungan serat dalam nasi putih lebih rendah. Nasi merah, misalnya, masih mengandung lapisan dedak yang kaya serat dan vitamin B. Kandungan serat dalam nasi membantu mengendalikan gula darah dan membuat kenyang lebih lama.
Memilih jenis nasi yang lebih utuh bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin tetap makan nasi tanpa khawatir terhadap lonjakan gula darah.
Tubuh membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi, guna mendukung kinerja otak dan aktivitas fisik. Nasi yang termasuk karbohidrat kompleks berperan dalam menyuplai energi tersebut. Energi ini penting agar tubuh dapat menjalankan berbagai kegiatan dengan optimal. Dalam jumlah cukup, nasi bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Justru menghindari nasi tanpa menggantinya dengan sumber karbohidrat sehat lain dapat menyebabkan tubuh lemas, kurang fokus, hingga menurunnya metabolisme.
Bijaklah Mengonsumsi, Bukan Berarti Menghindari
Daripada menghindari nasi sepenuhnya, yang terpenting adalah mengelola porsinya dan menyeimbangkannya dengan makanan bergizi lainnya. Mitos bahwa nasi selalu menyebabkan kenaikan berat badan atau gula darah naik tidak sepenuhnya benar. Dengan pemahaman yang tepat, nasi tetap bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat. (Halodoc/Z-2)
TANTANGAN dalam upaya menurunkan berat badan menjadi ideal saat ini disebut semakin kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai faktor di lingkungan.
Berat badan tak kunjung turun meski rutin olahraga? Terlalu banyak kardio, kurang istirahat, hingga pola makan bisa jadi penyebabnya. Simak penjelasannya.
Orang yang berolahraga lebih banyak membakar kalori ekstra, tetapi mereka tidak kehilangan berat badan sebanyak yang diharapkan berdasarkan jumlah kalori yang terbakar.
Diet karnivora tidak direkomendasikan karena bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang dan tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum.
MENINGKATNYA prevalensi obesitas di Indonesia mendorong perlunya pendekatan pengendalian yang semakin adaptif terhadap perilaku dan preferensi masyarakat.
Setiap orang memiliki respons metabolisme yang berbeda yang dapat dipengaruhi oleh hormon, kebiasaan makan, hingga kondisi kesehatan.
Ahli nutrisi menyarankan makan sayuran non-tepung lebih dulu sebelum protein dan karbohidrat untuk mengatur gula darah, memperlambat pencernaan karbohidrat.
Penelitian terbaru ungkap sari lemon dapat memperlambat pencernaan pati dan menekan lonjakan gula darah setelah makan karbohidrat.
Mengenali tanda-tanda awal gula darah tinggi, mengetahui langkah pertolongan pertama, serta menerapkan pola hidup pencegahan menjadi hal penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Banyak orang mengaitkan kadar gula darah tinggi atau hiperglikemia langsung dengan diabetes. Namun, kenyataannya ada faktor lain.
Risiko metabolisme tubuh juga perlu diwaspadai dari tingginya kadar gula darah. Selain resistensi insulin, gula darah yang tinggi dapat meningkatkan komplikasi serius
Latihan kekuatan atau angkat beban dapat memberikan manfaat yang lebih besar daripada olahraga lari, khususnya dalam mengontrol gula darah dan mengurangi lemak tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved