Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA peneliti di Keck School of Medicine University of Southern California (USC) telah menciptakan tes darah baru yang dapat mempermudah pendeteksian penyakit Alzheimer sejak dini. Alat inovatif ini disebut Penta-Plex Alzheimer’s Disease Capture Sandwich Immunoassay (5ADCSI). Ia dapat mengukur lima protein utama yang terkait dengan Alzheimer dalam satu tes.
Jumlah tersebut lebih banyak daripada kebanyakan tes saat ini. Alat itu juga menggunakan peralatan yang sudah ditemukan di banyak laboratorium sehingga lebih mudah diakses.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of Alzheimer’s Disease dan didukung oleh National Institutes of Health. Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa protein tertentu, seperti amiloid dan tau, terbentuk di otak seiring perkembangan Alzheimer.
Protein yang sama ini juga muncul dalam darah sehingga para peneliti dapat melihat tahap awal penyakit tersebut. Mendeteksi protein tersebut sejak dini dapat memungkinkan dokter untuk melakukan intervensi sebelum kehilangan ingatan yang serius terjadi.
Sebelumnya banyak tes lain yang lebih mahal memerlukan alat khusus dan hanya melihat satu atau dua penanda pada satu waktu. Tes 5ADCSI menonjol karena melacak lima biomarker penting sekaligus. Tes ini menggunakan teknologi xMAP®, platform yang banyak digunakan yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Luminex.
“Keuntungan terbesarnya adalah tes kami sangat hemat biaya dibandingkan dengan teknologi lain yang sudah ada, dan relatif mudah diterapkan karena banyak laboratorium di universitas, rumah sakit, dan klinik sudah menggunakan teknologi ini,” kata Ebrahim Zandi, profesor madya mikrobiologi molekuler dan imunologi di Keck School of Medicine yang memimpin penelitian tersebut, seperti dilansir dari Scitechdaily, Jumat (30/5).
Menciptakan tes berbiaya rendah dinilai sangat penting karena dapat mempermudah pemeriksaan tahunan untuk penyakit Alzheimer. Seperti tes kolesterol dan gula darah, 5ADCSI dapat mengidentifikasi pasien yang mungkin mendapat manfaat dari pengobatan atau perubahan gaya hidup, seperti peningkatan olahraga, untuk mencegah atau memperlambat Alzheimer.
"Dalam 10 hingga 20 tahun Alzheimer berkembang, protein seperti amiloid dan tau perlahan terbentuk. Jika kita memiliki tes darah yang terjangkau yang mendeteksi protein tersebut sejak dini, kita dapat memulai intervensi jauh sebelum gejala muncul,” kata Zandi.
Untuk membuat tes 5ADCSI, para peneliti pertama-tama memilih serangkaian biomarker yang diketahui terbentuk pada penyakit Alzheimer, yakni dua jenis amiloid (A?40 dan A?42), tau terfosforilasi, rantai ringan neurofilamen (NfL), dan protein asam fibrilar glial (GFAP).
Mereka mengembangkan uji khusus untuk mendeteksi keberadaan biomarker tersebut dalam sampel darah menggunakan teknologi xMAP®. Metode ini menggunakan manik-manik kecil berkode warna yang dilapisi antibodi yang mengikat biomarker tertentu.
Saat sampel darah ditambahkan, biomarker dalam sampel mengikat manik-manik tersebut. Sensor pencitraan yang canggih kemudian mendeteksi warna yang dipancarkan dari manik-manik untuk mengukur biomarker.
Setelah uji tersebut dibuat, para peneliti menggunakannya untuk mengukur biomarker terkait Alzheimer dalam 63 sampel darah di tiga kelompok, yakni 11 pasien dengan penyakit Alzheimer, 17 pasien dengan gangguan kognitif ringan (pendahulu Alzheimer), dan 35 peserta yang sehat.
Uji 5ADCSI mendeteksi kadar biomarker tertinggi pada pasien dengan penyakit Alzheimer, diikuti oleh mereka yang mengalami gangguan kognitif ringan. Satu biomarker khususnya, p217Tau, menunjukkan korelasi yang sangat kuat dengan kondisi tersebut.
Peneliti kemudian menggunakan tes yang sama untuk mengukur biomarker dalam cairan serebrospinal (CSF). Biasanya itu mengandung kadar protein terkait Alzheimer yang lebih tinggi tetapi lebih sulit dan lebih mahal untuk dikumpulkan.
Mereka menemukan korelasi sedang hingga kuat antara hasil darah dan CSF yang menunjukkan bahwa tes darah cukup sensitif untuk deteksi dini protein.
Uji 5ADCSI dimulai sebagai solusi penelitian untuk masalah praktis. Christopher Beam, profesor psikologi di USC Dornsife College of Letters, Arts, and Sciences, membutuhkan cara yang lebih terjangkau untuk mengukur biomarker Alzheimer untuk penelitiannya tentang penuaan kognitif. Zandi memberikan solusi dalam bentuk 5ADCSI.
Kini, tim tersebut tengah berupaya mengembangkan teknologi tersebut dan membuktikan bahwa teknologi tersebut dapat berfungsi sebagai alat ukur di klinik. Untuk mengembangkan studi pembuktian konsep tersebut, para peneliti berencana menguji keakuratan 5ADCSI pada beberapa ratus pasien di berbagai tahap penyakit Alzheimer.
Zandi membayangkan penggunaan tes tersebut secara luas, terutama karena mengandalkan teknologi yang terjangkau dan tersedia secara luas, bahkan di luar AS. Tujuan jangka panjangnya adalah menciptakan penilaian risiko kesehatan otak yang memasangkan 5ADCSI dengan pengujian genetik untuk APOE4, varian gen yang terkait dengan penyakit Alzheimer, untuk membantu orang memahami risiko pribadi mereka terhadap kondisi tersebut. (H-2)
EXECUTIVE Director Alzheimer Indonesia Asmara Pusparani menilai orangtua yang sudah mengalami lupa yang tidak wajar maka sebaiknya segera melakukan deteksi dini.
Tes otak singkat Fastball berdurasi tiga menit mampu mendeteksi gangguan memori terkait Alzheimer jauh sebelum diagnosis resmi.
Penekanan penelitian penyakit Alzheimer ditujukan untuk diagnosis sebelum gejala-gejala timbul. Sejumlah tes bio-kimia telah dapat melakukan deteksi awal.
Tes darah baru mampu mendeteksi risiko komplikasi mematikan pada pasien hypertrophic cardiomyopathy (HCM). Terobosan besar bagi jutaan pengidap jantung genetik.
Studi mengukur 250 zat dalam darah 500.000 relawan dan membuka jalan bagi tes darah yang dapat memprediksi risiko penyakit hingga satu dekade sebelum gejala muncul.
Peneliti kembangkan tes darah yang mampu mengukur usia biologis 11 organ dan sistem tubuh. Alat ini dapat memprediksi risiko penyakit, mendeteksi penurunan dini.
FDA menyetujui tes darah pertama untuk deteksi dini Alzheimer. Diagnosis kini lebih mudah, cepat, dan tanpa prosedur invasif seperti PET scan dan pungsi lumbal.
Penelitian di Australia menemukan tes darah dengan akurasi tinggi untuk mendiagnosis penyakit celiac tanpa konsumsi gluten.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved