Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak Amanda Soebadi mengatakan anak dengan gangguan autisme memiliki beberapa tingkat keparahan sehingga membutuhkan dukungan yang tepat sesuai tingkat keparahan yang mereka alami.
"Klasifikasi ini sih buatan manusia, level 1, level 2 dan level 3, tapi dalam kenyataannya di dalam level tersebut tingkat beratnya autisme
itu bisa bervariasi," ujar dokter spesialis anak lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, dikutip Senin (21/4).
Anak dengan gangguan austime level 1 memiliki kesulitan minimal sehingga membutuhkan dukungan dalam komunikasi sosial tapi bantuannya tidak banyak.
"Cukup dia punya teman baik yang bantu dia dalam komunikasi, tapi anaknya biasanya relatif normal dalam kehidupan bermasyarakat," kata Amanda.
Namun, lanjutnya, dalam bersosialisasi memiliki keterbatasan mendekati atau mencoba dekat dengan teman lainnya.
"Harus temannya yang ngajak bermain baru habis itu dia bisa," tambah dia.
Level dua autisme, kata dia, membutuhkan dukungan atau bantuan yang lebih substansi.
"Kalau level dua dia lebih butuh dukungan yang lebih, jadi dia mungkin perlu guru bayangan,kalau tidak dia semaunya sendiri karena defisit komunikasi bukan hanya ekspresif, tapi juga dalam menerima instruksi dari gurunya dia juga kesulitan (karena tidak paham)," jelasnya.
Sementara untuk level tiga membutuhkan dukungan sangat substansial, kemampuan komunikasi sosial sangat terbatas, kemampuan verbal atau bicara hingga dewasa terbatas.
"Kalau level tiga betul-betul butuh bantuan penuh jadi kalau dia tidak dibantu dia semaunya sendiri dan perilakunya tidak sesuai untuk
lingkungan dia berada," ungkap Amanda.
Pada autisme, kata dia, selain defisit komunikasi verbal dan nonverbal, anak juga mengalami kesulitan memproses informasi, bahasa dan
instruksi dan mengalami gangguan eksekutif atau dalam melakukan sesuatu, misalnya mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang terdiri dari beberapa langkah mengerjakannya.
Menurutnya, fungsi eksekutif itu tidak semua orang, terutama anak dengan autisme memiliki cara pikir untuk dapat mengerjakan PR yang dimulai dari beberapa langkah itu.
Anak juga kerap mengalami gangguan input sensorik atau merasakan sesuatu dari lingkungan, misalnya suara dari seseorang, gambar di layar dan lainnya dengan memilah dan merasakan sensorik mana yang patut mendapat perhatian.
"Jadi dia tidak tahu di antara stimulus mana yang harus direspons, itu dia tidak bisa memilahnya," jelasnya.
Gangguan lain yang dialami adalah anak terlihat kurang terampil, memikirkan atau terobsesi dengan satu hal dia akan cenderung memikirkan satu hal yang sama.
Hingga kini, menurutnya, penyebab secara pasti autisme belum diketahui secara jelas atau multifaktoral kompleks serta terjadi karena faktor interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. (Ant/Z-1)
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Penyangkalan tersebut membuat orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah reguler.
Semakin dini autisme dideteksi, intervensi yang dilakukan dapat semakin maksimal sehingga mampu menekan gangguan dalam perkembangan anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved