Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM beberapa dekade terakhir, angka kanker paru-paru di kalangan non-perokok telah meningkat drastis. Penelitian dari American Cancer Society mengungkapkan beberapa faktor penyebabnya.
Melansir dari Verywell Health, meningkatnya kasus kanker paru-paru di kalangan non-perokok terjadi bersamaan dengan penurunan jumlah perokok, yang mencapai titik terendah sebesar 11,5% pada tahun 2021. Pada 2023, lebih dari 20.000 kematian akibat kanker paru-paru dilaporkan di kalangan non-perokok di AS.
Baca juga : Kematian Kanker pada Pria Diperkirakan Meninggkat Hingga Tahun 2050
Secara statistik, kanker paru-paru di kalangan non-perokok menjadi penyebab kematian akibat kanker terbanyak kedelapan di AS, dan secara global, menjadi penyebab kematian akibat kanker terbanyak kelima.
Walaupun kanker paru-paru sering dikaitkan dengan merokok, hanya sekitar 15% perokok yang akhirnya terserang penyakit ini, menunjukkan bahwa ada faktor lain yang berperan dalam meningkatkan risiko kanker, baik pada perokok maupun non-perokok.
Kanker paru-paru, seperti kanker lainnya, dapat berkembang tanpa alasan yang jelas. Teorinya, mutasi kanker dapat berkembang secara spontan pada seseorang yang memiliki kecenderungan genetik terhadap penyakit tersebut.
Baca juga : Pengembangan Vaksin mRNA dan Pemeriksaan Genomik untuk Pencegahan Kasus Kanker
American Cancer Society mencatat tiga penyebab utama kanker paru-paru pada non-perokok:
Gas radon adalah gas yang tidak terlihat dan tidak berbau, yang dapat terakumulasi di rumah yang dibangun di atas tanah dengan kandungan uranium. Paparan gas radon diperkirakan menyebabkan sekitar 21.000 kematian akibat kanker paru-paru di AS setiap tahun.
Asap rokok orang lain, juga dikenal sebagai secondhand smoke, bertanggung jawab atas lebih dari 7.000 kematian akibat kanker paru-paru di AS. Asap rokok dapat menempel di permukaan, pakaian, dan furnitur, menjadi risiko tambahan terutama bagi anak-anak.
Baca juga : Indonesia Luncurkan Rencana dan Pengendalian Nasional untuk Penanganan Kanker
Banyak zat karsinogenik yang digunakan di industri dan manufaktur dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru, seperti polusi udara, asbes, arsenik, kromium, dan asap diesel.
Orang yang bekerja di bidang konstruksi, pertukangan batu, pengecatan, atau industri pabrik berisiko tinggi.
Untuk mengurangi risiko terkena kanker paru-paru, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Target Nol Kematian Dengue 2030 Dinilai Masih Penuh Tantangan
SEORANG siswa bunuh diri di NTT. Anak berinisial YBS yang baru menginjak 10 tahun, Psikiater, menekankan bahwa anak berusia 10 tahun sudah memahami konsep kematian
Selain sakit kepala dan asfiksia (kekurangan oksigen), gas tertawa dapat memicu terbentuknya bekuan darah serta gangguan pada hitung darah.
Penyalahgunaan gas tertawa dapat memicu timbulnya bekuan darah, gangguan hitung darah, serta menghambat fungsi saluran pembuangan (buang air besar dan kecil).
VILPA merupakan akitifitas singkat tetapi intens yang biasa kita lakukan. Durasi setiap aktivitas biasanya hanya 30–60 detik, tetapi intensitasnya cukup tinggi.
Sseorang yang terbiasa terpapar sinar matahari aktif umumnya memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved