Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru mengungkap adanya hubungan antara ukuran jaringan otak dengan depresi. Penelitian ini menunjukkan bagian otak yang terlibat dalam mengatur emosi dan motivasi jauh lebih besar pada orang yang mengalami depresi dibandingkan mereka yang sehat.
Temuan ini menawarkan wawasan baru mengenai bagaimana depresi berkembang dan potensi langkah-langkah pencegahannya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini menunjukkan bagian otak yang disebut frontostriatal salience network, yaitu jaringan otak yang berperan penting dalam mengatur emosi dan motivasi, ditemukan lebih besar hingga 73% pada penderita depresi dibandingkan dengan orang sehat. Jaringan ini mengontrol perhatian terhadap ancaman dan imbalan.
Baca juga : Ini Alasan Aroma Parfum Bisa Pengaruhi Suasana Hati
Dr Charles Lynch, salah satu peneliti dari Weill Cornell Medicine di New York, menjelaskan ekspansi jaringan ini memakan lebih banyak "real estate" di permukaan otak, sehingga jaringan otak lain yang berdekatan menjadi lebih kecil. “Jaringan ini memakan lebih banyak 'real estate' di permukaan otak dibandingkan yang kita lihat pada orang sehat,” kata Lynch. Penemuan ini memberikan petunjuk penting dalam memahami perubahan otak pada penderita depresi.
Penelitian ini menggunakan teknik pencitraan otak yang disebut fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging), yang menggunakan medan magnet untuk menghasilkan gambar otak yang sangat detail. Tim peneliti memeriksa 141 orang yang mengalami depresi dan 37 orang sehat, mengukur ukuran jaringan otak mereka dan menghitung rata-ratanya untuk setiap kelompok.
Hasilnya menunjukkan jaringan otak ini tidak berubah seiring waktu atau dengan pengobatan seperti stimulasi magnetik transkranial. Namun, sinyal antarbagian jaringan menjadi kurang sinkron saat gejala depresi muncul, yang menunjukkan perubahan ini terkait dengan tingkat keparahan gejala di masa depan.
Baca juga : Jangan Takut Berobat Ketika Mengalami Depresi, Kenali Gejalanya
Lebih lanjut, penelitian ini juga menemukan anak-anak yang nantinya mengembangkan depresi di masa remaja sudah memiliki jaringan otak yang membesar, bahkan sebelum gejala depresi muncul. Hal ini menandakan ekspansi jaringan otak ini bisa menjadi faktor risiko depresi, bukan hanya akibat dari kondisi tersebut.
Penemuan ini membuka pintu bagi pengembangan pengobatan yang lebih personal. Dengan memahami jaringan otak tertentu berperan penting dalam depresi, para peneliti dapat mengembangkan terapi yang lebih terfokus untuk memperbaiki fungsi jaringan tersebut.
Namun, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab, seperti apakah perubahan pada jaringan otak ini bersifat permanen atau dapat di balik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan membuka jalan menuju pengobatan depresi yang lebih efektif.
Baca juga : Dipusatkan di Bandung, Ganesha Operation Gelar Seminar Motivasi di 50 Kota
Prof Conor Liston dari Weill Cornell Medicine, yang juga menjadi penulis dalam penelitian ini, menekankan hasil ini bisa memberikan rasa tenang bagi penderita depresi. “Mengetahui ada sesuatu yang dapat diidentifikasi di otak, yang berkaitan dengan depresi mereka dan mungkin berkontribusi pada risiko, bisa memberikan rasa lega bagi beberapa orang,” jelas Liston.
Sementara itu, Dr Miriam Klein-Flügge dari Universitas Oxford, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengapresiasi pentingnya studi ini meski terkejut karena penelitian ini tidak membahas amigdala—bagian otak yang telah lama dikaitkan dengan depresi.
“Pekerjaan ini sangat kokoh dan penting, tapi yang menarik adalah amigdala tidak disebutkan, padahal ini adalah area yang sudah lama menjadi pusat perhatian dalam riset depresi,” kata Klein-Flügge.
Ia menambahkan masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi apakah ukuran jaringan otak ini bisa digunakan sebagai prediktor risiko seseorang mengembangkan depresi. “Ini merupakan langkah penting menuju kemungkinan intervensi yang lebih cepat dan lebih personal,” tambahnya. (The Guardian/Z-3)
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di jagat maya menjadi pemicu utama kecemasan masyarakat saat ini.
Sifatnya yang non-invasif, tanpa obat, tanpa efek ketergantungan, dan tanpa downtime menjadi keunggulan terbesar Exomind.
Kepemilikan ponsel pintar pada remaja awal dikaitkan dengan faktor risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
Kesehatan mental pelajar semakin memprihatinkan. Data CDC dan WHO menunjukkan tingginya depresi, pikiran bunuh diri, dan kasus bullying pada remaja di sekolah.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga melakukan edukasi dan workshop kesehatan mental di sekolah-sekolah dan komunitas, serta penguatan tenaga psikolog klinis di puskesmas kecamatan.
Pengemudi mobil Audi yang menerobos Gerbang Tol Simatupang, pintu masuk utama menuju Tol JORR di Jakarta Selatan, pada Rabu (19/11) diklaim mengalami depresi.
Pengendara wajib memiliki sisi emosional yang terkontrol agar tidak mengambil keputusan ceroboh yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
FILM drama Musuh Dalam Selimut siap hadir di layar Bioskop tanah air mulai 8 Januari 2026. Cinta segitiga yang penuh plot twist dan memancing emosi para penonton.
Stres bisa memicu perubahan emosi dan respons tubuh.
Semakin remaja mengenali emosi dan nilai-nilainya, semakin mudah ia menentukan langkah dan pilihan hidup yang sesuai.
Kesulitan meregulasi emosi dan impulsivitas bisa menjadi salah satu faktor seorang anak dalam kenakalan yang akhirnya berujung pada tindak kriminal.
Penelitian terbaru mengungkap AI modern seperti ChatGPT mampu menjawab tes kecerdasan emosional lebih akurat dibanding manusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved