Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, virus mpox atau cacar monyet yang ditularkan melalui kontak kulit tidak sama penularannya dengan virus Covid-19 yang ditularkan melalui udara, dan keduanya tidak menyebar dengan cara yang sama.
Direktur Departemen Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove baru-baru ini berbicara tentang virus mpox selama program yang diadakan di media sosial X dengan ketua tim Manajemen Kasus Akut Kantor Regional WHO untuk Afrika, Otim Patrick Ramadan.
Kerkhove mengatakan bahwa pihaknya sama sekali tidak menemukan kesamaan situasi perkembangan virus korona dengan cacar monyet.
Baca juga : WHO Kembali Tetapkan Mpox Sebagai Kegawatdaruratan Global, Ini Gejalanya
“Kami tidak melihat situasi yang sama terjadi,” kata Kerkhoveaid, mengutip Anadolu, Jumat (23/8).
"Siapa pun bisa tertular mpox, jika anda melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi. Namun, itu tidak berarti semua orang akan tertular mpox," imbuhnya.
Kerkhoveaid menyebutkan, Penularan virus SARS-CoV-2 melalui udara yang cepat dan efisien, yang menyebabkan penyebaran covid-19 secara global. Hal itu menyoroti perbedaan signifikan dalam cara virus ini beroperasi dibandingkan dengan virus lainnya.
Baca juga : WHO Sarankan Vaksinasi Terarah Untuk Atasi Wabah Cacar Monyet
“Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dengan informasi yang tepat, dengan menghentikan transmisi dengan berbagai cara,” ungkap dia.
Menurut WHO, Mpox adalah penyakit virus yang dapat menyebar melalui kontak langsung serta melalui permukaan yang terkontaminasi seperti seprai, pakaian dan jarum.
Sementara itu, Patrick Ramadan menegaskan bahwa mpox dapat menyerang siapa saja.
Baca juga : Perubahan dan Tantangan Mpox: Evolusi, Penyebaran, dan Tindakan Global
“Kami melihat penularan di tingkat masyarakat yang berdampak pada anak-anak, namun kami juga melihat orang dewasa yang juga terkena dampaknya,” tutur dia.
“Saat ini, di kawasan Afrika, kita mengalami wabah aktif di 13 negara, dan di 13 negara ini, kita melihat banyak orang terdampak."
"Menyebut 30 persen kasus di Burundi dan negara tetangga Republik Demokratik Kongo, tempat wabah tersebar luas, ditemukan pada mereka yang berusia di bawah 18 tahun, ini mengkhawatirkan."
Baca juga : WHO: Cacar Monyet Bukan lagi Darurat Kesehatan Global
Ramadan menekankan bahwa vaksinasi merupakan sarana kesehatan masyarakat tambahan untuk membendung virus mpox, dan dia menyesalkan bahwa jumlah vaksin yang tepat tidak dapat dicapai di Afrika.
Mengingat bahwa WHO saat ini merekomendasikan penggunaan vaksin MVA-BN dan LC16 terhadap mpox, Ramadan menegaskan pentingnya vaksinasi yang ditargetkan bagi mereka yang berisiko dan berisiko tinggi penularan.
Minggu lalu, WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika menyatakan mpox sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional dan kontinental.
Menurut angka terbaru CDC Afrika, sebanyak 17.541 kasus mpox dan 517 kematian sejauh ini telah dilaporkan dari 13 negara Afrika.
Republik Demokratik Kongo, episentrum wabah saat ini, menyumbang 96 persen dari semua kasus dan 97 persen dari semua kematian yang dilaporkan sepanjang 2024.
Kongo telah mencatat 16.700 kasus mpox yang terkonfirmasi atau diduga, termasuk lebih dari 570 kematian.
Afrika Selatan mencatat 24 kasus terkonfirmasi, termasuk tiga kematian, dan Kamerun mencatat lima kasus terkonfirmasi, termasuk dua kematian.
Burundi melaporkan lebih dari 100 kasus, sementara Nigeria memiliki 39 kasus, Liberia memiliki lima kasus, Rwanda memiliki empat kasus, Pantai Gading dan Uganda masing-masing memiliki dua kasus, dan Kenya memiliki satu kasus terkonfirmasi. (Z-6)
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan virus Nipah (NiV) ke dalam daftar patogen prioritas yang berpotensi memicu pandemi berikutnya.
DISEASE Outbreak News (DONs) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan laporan resmi meninggalnya pasien akibat infeksi virus Nipah (NiV) di Banglades
LEBIH dari 18.500 pasien di Gaza, Palestina, membutuhkan pengobatan medis khusus yang tidak tersedia di daerah kantong tersebut. Demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
BARU-baru ini outbreak virus Nipah menyebabkan kewaspadaan kesehatan di banyak negara Asia. Infeksi virus Nipah pada manusia menyebabkan berbagai gejala, kenali penularan dan pengobatannya
LEDAKAN teknologi digital telah menyusup ke setiap sudut kehidupan anak-anak Indonesia, membawa kemudahan sekaligus ancaman diam-diam: krisis gaya hidup pasif.
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved