Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
LULUSAN dari sekolah vokasi, baik pada jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun perguruan tinggi, masih menghadapi tantangan dalam penyerapan di dunia kerja. Selain itu, berdasarkan pengalaman pelaku industri, masih sedikit lulusan pendidikan vokasi yang punya kematangan sikap dan mental untuk siap menghadapi budaya kerja secara profesional karena kurangnya pembentukan karakter.
"Dalam pengamatan kami, para lulusan vokasi sangat ahli dan memiliki hard skill yang bagus, tetapi masih kurang dalam softskill seperti kemampuan berkomunikasi dan mengelola masalah. Selain itu, karakter mereka menjadi pekerjaan rumah yang dapat membentuk mereka siap bekerja," jelas perwakilan Asosiasi Pastry Indonesia, Nayundha Yustriana, di Jakarta, Selasa (9/7).
Menurut Nayundha, setidaknya terdapat tiga kompetensi penting yang harus dikuasai oleh calon tenaga kerja, yakni keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan perilaku (attitude). Sayangnya, Nayundha melanjutkan, kebanyakan penyelenggara pendidikan vokasi terlalu berfokus pada pembentukan skill calon tenaga kerja. Padahal, knowledge dan attitude juga merupakan bekal penting untuk kematangan cara bekerja di industri.
Baca juga : Gap Antara Sekolah dan Industri Penyebab Tingginya Angka Pengangguran
"Kami telah bekerjasama dengan SMK dan perguruan tinggi vokasi di berbagai provinsi Indonesia, mulai dari penyelarasan kurikulum, penerimaan praktik kerja, hingga kerja sama dalam bentuk kemitraan. Sebagai industri yang bergerak di bidang hospitality, faktor keramahtamahan menjadi penting tetapi lulusan vokasi sering kali masih kurang mumpuni dan belum terlalu dikedepankan," katanya.
Perwakilan dari United Tractors, Dimas Aryo, menjelaskan bahwa kesenjangan antara kompetensi lulusan pendidikan vokasi dan kebutuhan industri juga dipengaruhi oleh ketersediaan sarana ajar atau alat praktik yang tertinggal dibandingkan dengan perkembangan industri. Bahkan kerap kali alat teknologi industri juga belum bisa menjawab tantangan kemajuan global secara umum.
"Pendidikan vokasi masih terbatas pada alat praktik, bahkan alat praktik yang kami berikan juga sudah tertinggal jaman. Misalnya saat ini dunia sedang berfokus pada teknologi hibrida, kita juga sedang bermain pada penyediaan solar panel. Kita coba mengintervensi dengan memberikan transfer knowledge alat kepada vokasi. Namun terkadang saat sekolah mengalami pergantian kepengurusan dan kurikulum, sering kali itu menjadi tantangan baru," imbuhnya.
Merespons hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI) Uuf Brajawidagda menjelaskan bahwa pihaknya terus mendorong para pendidik dan satuan pendidikan vokasi untuk menerapkan pembelajaran inklusif untuk membangun karakter siswa sehingga dapat menjadi lulusan yang siap kerja.
"Definisi dan atribusi kebutuhan soft skill dari masing-masing industri berbeda-beda. Industri manufaktur berbeda dengan industri kreatif dalam soft skill, tetapi ada kesamaan yaitu pembelajar dan cepat beradaptasi. Itulah yang menjadi pegangan kita untuk membangun karakter. Hal ini selalu kami kedepankan dalam sistem Merdeka Belajar. Kita berusaha membuka seluas-luasnya interaksi sekolah dengan industri agar terjadi pengembangan skill dan karakter siswa," ujarnya. (Z-2)
Sertifikasi yang merupakan syarat fundamental guna memasuki pasar kerja global, akan dimaksimalkan supaya bisa dilakukan di dalam negeri.
Lulusan pendidikan Vokasi dituntut tidak hanya adaptif, tetapi juga memiliki kompetensi digital yang kuat agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempertegas komitmennya dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) industri yang unggul melalui penyelenggaraan Wisuda Serentak Politeknik.
Kemendikdasmen melalui Ditjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus menegaskan komitmennya untuk memperkuat layanan pendidikan inklusif.
Kemitraan berkelanjutan mampu memberikan manfaat berlapis, salah satunya memperkuat kapasitas institusi pendidikan sebagai penyedia talenta.
Kegiatan edukasi investasi di SMK Metland  menunjukkan komitmen kuat dunia pendidikan dalam menyiapkan generasi muda yang melek finansial sejak dini.
Kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul lahir dari sistem pendidikan yang inklusif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.Â
Penguatan proses pembelajaran teknik yang relevan dengan kebutuhan industri menjadi fokus utama ABB Motion melalui inisiatif ABB Motion Goes to Campus.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa ekosistem akademik yang kolaboratif mampu melahirkan capaian kelas dunia.
PERUBAHAN sering bergerak seperti arus di laut dalam; tak tampak di permukaan, tapi cepat dan kuat menentukan arah.
SEBUAH studi Bloomberg baru-baru ini melaporkan bahwa jumlah mahasiswa asing di perguruan tinggi Amerika Serikat turun 1,4%
Peran aktif perguruan tinggi harus didorong dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) nasional agar memiliki daya saing global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved