Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
Berdasarkan data statistik, prevalensi osteoporosis (pengeroposan tulang) di Indonesia, khususnya pada wanita usia 50-80 tahun, mencapai 23%. Sementara pada kelompok usia di atas 80 tahun mencapai 53%.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena osteoporosis dapat menyebabkan kerapuhan tulang dan kerentanan terhadap patah tulang.
“Osteoporosis atau yang sering disebut sebagai tulang keropos, sering terjadi terutama pada perempuan menjelang tahap klinik proses penuaan,” ujar Dr. dr. Nadia Permatasari, seorang dokter yang menekuni potensi Stem Cell yang diharapkan dapat berkontribusi positif dalam pengobatan osteoporosis di masa depan.
Baca juga : Kenali Osteoporosis, Silent Disease Tanpa Gejala
Nadia mulai memberikan atensi lebih terhadap potensi stem cell pada saat menghadiri Annual Meeting International Society for Stem Cell Research (ISSCR) dengan Harvard Stem Cell Institute (HSC) sebagai co-sponsor di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.
Nadia memiliki harapan bahwa potensi stem cell akan memberikan kontribusi positif pada pencegahan penyakit-penyakit degeneratif yang sukar disembuhkan.
Perempuan yang menamatkan studi Doktor Bidang Ilmu Kedokteran Kekhususan Anti Aging Medicine di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini, juga merupakan seorang dosen pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Bogor.
"Dalam mengajar, saya selalu menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam mengatasi tantangan kesehatan yang kompleks seperti osteoporosis,” ujarnya, Senin (21/4).(M-3)
Peneliti HKUMed temukan protein Piezo1 yang bertindak sebagai sensor olahraga pada tulang. Inovasi obat baru untuk cegah osteoporosis tanpa gerak fisik.
Patah tulang akibat osteoporosis bukan sekadar persoalan tulang rapuh, tetapi kerap disertai penyakit penyerta yang membuat penanganannya semakin kompleks.
Bone Scan terhadap lebih dari 500.000 orang di 16 kota, hasilnya menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bahwa lebih dari 50% di antaranya berisiko mengalami osteoporosis.
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada perempuan disebabkan erat kaitannya dengan hormon estrogen yang membantu metabolisme tulang.
Osteoporosis sering kali disebut sebagai silent disease, karena baru diketahui setelah terjadi patah tulang.
Pencegahan osteoporosis harus dimulai dari penerapan gaya hidup sehat dan aktif sejak usia muda.
Stimulasi 40Hz setiap hari mampu menjaga fungsi kognitif pasien, bahkan menurunkan biomarker utama penyakit Alzheimer.
Memasuki tahun 2026, data menunjukkan pergeseran tren medis yang mengkhawatirkan: lonjakan signifikan kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun (Gen Z).
Perkembangan janin yang tidak sempurna hingga memicu PJB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dari sisi kesehatan orang tua maupun lingkungan.
Stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved