Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Kesehatan menyatakan bahwa saat ini tingkat kecukupan tempat tidur di rumah sakit dengan kasus demam berdarah yang tinggi mengalami peningkatan. Namun demikian, jumlahnya dikatakan masih terpantau aman.
"Saat ini tingkat kecukupan tempat tidur di rumah sakit di beberapa kabupaten/kota yang kasus DBD tinggi terpantau ada peningkatan tetapi masih dalam taraf bisa menampung penderita DBD," ungkap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi kepada Media Indonesia, Selasa (2/4).
Saat ini hal yang perlu diwaspadai ialah gejala dan tanda DBD tidak seperti dulu lagi alias manifestasinya bisa bermacam-macam.
Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa virus dengue atau penyakit DBD yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti cukup unik dan terbagi menjadi empat serotypes (jenis) yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Seseorang yang sebelumnya terkena DBD oleh salah satu serotypes mungkin sudah mendapat kekebalan atau imunitas, tetapi ketika terjangkit virus DBD serotypes yang lain akan mengalami gejala DBD kembali.
Baca juga : Kasus DBD Naik Dua Kali Lipat dari Tahun Lalu
Bahkan jika imunitasnya menurun, gejala akan lebih berat dari sebelumnya. Imran menekankan bahwa risiko inilah yang perlu dimitigasi dan membutuhkan pemberian vaksinasi, meskipun saat ini masih berbayar.
"Ini yang perlu kita mitigasi tentang perlunya cek antigen NS1 sebagai marker infeksi virus dengue pada tubuh. Memang vaksinnya belum program (vaksinasi nasional), jadi masih bayar sendiri," ujar Imran.
Ke depan, dia tidak menampik bahwa nanti vaksinasi DBD dapat masuk program vaksinasi nasional, tentu dengan beberapa syarat yang berlaku. "Kemungkinan tetap ada (vaksin DBD jadi program vaksinasi nasional), tetapi disesuaikan prioritas," tuturnya.
Selain itu, Imran meminta masyarakat tetap melakukan langkah preventif dengan memperkuat pemberantasan sarang nyamuk, memperkuat gerakan 3 M, dan juru pantau jentik setiap rumah. Masyarakat juga diharapkan mampu memperluas lokasi intervensi teknologi nyamuk berWolbachia dan paling penting melakukan peningkatan daya tahan tubuh serta terakhir melakukan vaksinasi dengue. (Z-2)
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Bukan saja saat malam tiba, tapi pada siang hari pun nyamuk memenuhi sudut-sudut ruangan tenda pengungsian dan kamar.
Musim hujan membawa udara segar dan tanah yang kembali hijau, tapi juga satu “tamu” yang tak diundang: nyamuk! Begini cara efektif mrncegahnya.
Perubahan iklim diduga buka jalan bagi nyamuk untuk hidup di Islandia.
SERANGAN nyamuk di sejumlah lokasi pengungsian pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang menjadi perhatian serius. Kemenkes memastikan kondisi tersebut Kejadian Luar Biasa (KLB).
Terdapat 160 kasus DBD pada Oktober 2025, 161 kasus pada November dan meningkat menjadi 163 kasus DBD pada Desember 2025 di Jakarta Barat.
Kasus super flu dan demam berdarah dengue (DBD) selama musim hujan menjadi perhatian khusus Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kasus DBD pada Januari 2026 yakni dua kasus dari wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang, satu kasus dari Puskesmas Alai dan Puskesmas Kedabu Rapat.
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
ECDC mencatat lebih dari 5 juta kasus demam berdarah dengue (DBD) secara global sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved