Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
WILAYAH timur Indonesia lebih berpotesi mengalami kejadian gempa bumi dibanding dengan wilayah-wilayah lainnya. Pasalnya, di wilayah itu banyak sesar-sesar aktif yang membentang serta kompleksnya unsur tektonik. Hal itu diungkapkan oleh Guru Besar Geofisika dari Universitas Brawijaya Adi Susilo.
“Indonesia timur memang lebih rawan terhadap gempa bumi. Karena di sana lebih banyak sesar aktif dibandingkan Indonesia bagian barat,” kata Adi saat dihubungi, Minggu (12/11).
Adi menyebutkan, misalnya saja di wilayah Maluku. Menurut dia, wilayah tersebut terletak pada pertemuan beberapa lempeng bumi. Hal itu yang menyebabkan sering terjadinya gempa di wilayah Maluku.
Baca juga : Getaran Gempa Kupang Dirasakan Hingga Pulau Rote
“Gempa beruntun yang terjadi di Maluku juga disebabkan oleh jalur yang sama dengan gempa yang terjadi di wilayah Jawa. Jadi jalur itu membentang melewati Jawa, Maluku, Papua, sampai ke Filipina dan Jepang,” bebernya.
Selain itu, wilayah Maluku juga merupakan lokasi subduksi lempeng Indo-Australia. Subduksi ini berada di sepanjang Laut Banda yang menimbulkan potensi gempa pada kedalaman sedang hingga dalam.
Baca juga : Gempat Magnitudo 5,4 Guncang Kota Kupang
Di samping itu, faktor lainnya yang menyebabkan Maluku sering diguncang gempa berkekuatan tinggi ialah adanya aktivitas gunung berapi di Laut Banda akibat subduksi lempeng Indo-Australia.
“Selain itu, ada juga sesar Laut Seram yang merupakan bagian dari sesar Sorong. Sesar ini kemudian menyebabkan terjadinya gesekan yang menyebabkan gempa di permukaan,” ucap dia.
Namun demikian, Adi menyatakan seringnya intensitas gempa yang terjadi bukan berarti ada potensi gempa yang lebih besar lagi.
“Justru kalau sering muncul gempa, energinya sudah banyak dikeluarkan. Sehingga untuk daerah sekitar tersebut, potensi gempa besar cukup kecil. Tapi, untuk daerah Maluku lainnya yang jarang gempa, potensi gempa besarnya besar,” beber dia.
Menurut Adi, gempa bumi memang bukanlah bencana alam yang dapat diprediksi. Karenanya, perlu upaya-upaya mitigasi yang cukup untuk mengantisipasi kerugian dan korban jiwa dari adanya bencana tersebut. Salah satu yang perlu dilakukan ialah pemetaan sesar aktif. Menurutnya, masayarakat perlu mendapatkan edukasi mengenai zona rawan gempa dan bagaimana cara untuk menghadapi gempa bumi.
“Selain itu perlu juga dibuat bangunan tahan gempa. Gempa-gempa besar yang terjadi menjadi pembelajaran bahwa mitigasi dari sisi ketahanan bangunan menjadi penting. Mungkin untuk bangunan-bangunan tradisional itu sudah lebih dipersiapkan soal dampak, namun kini banyak bangunan rumah yang kerangkanya justru tidak tahan terhadap gempa. Karenanya itu perlu dipersiapkan,” beber Adi.
Dihubungi terpisah, staf pengajar di Kelompok Keahlian Geofisika Global, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung Endra Gunawan mengungkapkan, perlu adanya sistem peringatan dini, bukan hanya seismometer tapi juga data GPS untuk mengetahui pola deformasi yang terjadi.
“Dari data GPS ini kita bisa tahu sebenarnya bagaimana kondisi tektonik di wilayah tersebut. Apakah sudah release semua energi dengan gempa tersebut atau masih ada energi yang tersimpan,” ucap Endra.
“Selain itu, edukasi masyarakat. Suka atau tidak suka, Indonesia rawan gempa. Artinya, edukasi masyarakat menjadi krusial, apalagi apabila dissuport oleh kejadian gempa di komunitas masyarakat atau sekolah-sekolah,” pungkas Endra.
Gempa beruntun
Berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pekan ini terdapat sejumlah kejadian gempa bumi beruntun di wilayah Indonesia timur. Pertama, ialah gempa bekekuatan 7,2 magnitudo yang terjadi di wilayah Laut Banda, Maluku pada Rabu (8/11) pukul 11.52.53 WIB.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyatakan, gempa tersebut merupakan gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi batuan (kerak bumi) di dasar Laut Banda. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser.
“Hingga 11 November 2023, BMKG mencatat adanya 151 aktivitas gempa bumi susulan dengan magntudo terbesar 6,8 magnitudo,” ucap Daryono.
Selanjutnya, pada Rabu (8/11) pukul 14.23.47 WIB, wilayah Maluku Tengah diguncang gempa tektonik berkekuatan 5,1 magnitudo. Daryono menyatakan, gempa itu terjadi akibat adanya deformasi kerak bumi di bawah Pulau Seram.
Lalu, pada Rabu (8/11) pukul 19.04.32 WIB, wilayah Pantai Utara Sarmi, Papua, diguncang gempa tektonik dengan kekuatan 4,8 magnitudo.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser,” beber Daryono.
Teranyar, gempa terjadi di wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Minggu (12/11) pukul 09.105.17 WIB dengan kekuatan 5,4 magnutudo. Gempa tersebut menimbulkan kerusakan ringan berupa retak rambut pada tembok dan beberapa rumah warga. (Z-5)
PAKAR kegempaan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Nana Sulaksana, mengatakan Jawa Barat (Jabar) memiliki banyak sesar aktif di berbagai wilayahnya.
DIREKTUR Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi di sekitar sesar aktif.
WILAYAH Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dan sekitarnya diguncang gempabumi tektonik, Selasa (25/3). Hasil analisis BMKG menunjukkan berkekuatan M=4,9.
Keberadaan sesar aktif sulit dipetakan karena kondisi wilayah Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi sehingga tingkat erosi dan pelapukan batuan juga tinggi.
Pakar Geologi UGM, Gayatri Indah Marliyani, mengungkap keberadaan sesar aktif penyebab rentetan gempa bumi beberapa waktu terakhir sulit dipetakan.
PAKAR gempa ITB menyebut, bencana gempa bumi ini kembali mengingatkan masyarakat akan risiko gempa di wilayah Jabar, yang tidak hanya berasal dari zona megathrust di pantai selatan.
BMKG mencatat sedikitnya 20 gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,1 hingga 4,1 terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada Selasa (10/3) dini hari.
Menurut BMKG, gempa Sukabumi itu berada di 7.62 LS dan 106.41 BT, 71 kilometer dari barat daya Kabupaten Sukabumi, atau tepatnya ada di 26 kilometer laut.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang wilayah 94 kilometer tenggara Kabupaten Simeulue pada Senin, 3 Maret 2026, pukul 11.56.45 WIB.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,0 mengguncang wilayah barat laut Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku, pada Selasa pukul 00.40 WIB.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,0 mengguncang wilayah barat daya Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.
Ilmuwan Kyoto University temukan mekanisme unik bagaimana aktivitas matahari memengaruhi kerak bumi melalui ionosfer. Mungkinkah badai matahari memicu gempa?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved