Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM beberapa pekan terakhir ini, berbagai wilayah di Indonesia secara bergantian dilanda gempa, dengan magnitudo beragam dari yang kecil hingga besar.
Gempa magnitude 5,yang 0 terjadi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (18/9) silam, berdampak pada rusaknya ribuan rumah dan juga bangunan. Gempa yang terjadi pada pukul 09.41 tersebut berada pada 24 km tenggara Kabupaten Bandung dengan kedalaman 10 kilometer.
Baca juga : 5 Fakta Sesar Sumedang Penyebab Gempa di Akhir Tahun 2023
Sehari berselang, gempa juga terjadi di Morotai, Maluku Utara dengan magnitude 5,6. Disusul, Sabtu (21/9), di Kabupaten Gianyar, Bali, dengan kekuatan 4,8 magnitude yang ditengarai dipicu oleh aktivitas sesar daratan di wilayah tersebut. Berlanjut ke Kalimantan Barat, Minggu (22/9), Kabupaten Sanggau juga tidak luput dari gempa bumi dengan kekuatan 4,4 magnitude.
Seolah tidak cukup sampai di situ, Selasa (24/9), gempa bumi dengan magnitude 6,4 mengguncang Gorontalo selama beberapa detik, dengan titik gempa berada pada 74 km barat daya Gorontalo.
Terhadap gempa-gempa ini, Badan Geologi Kementerian ESDM telah menyatakan bahwa gempa yang terjadi di Kabupaten Bandung akibat dari patahan atau sesar Kertasari bukan karena aktivitas Sesar Garsela seperti yang diprediksi sebelumnya.
Baca juga : Rentetan Gempa Jabar dan Sesar Aktif yang Belum Terpetakan
Sesar Kertasari ini merupakan sesar baru yang berjarak 6,61 km ke arah barat dan sejajar dengan arah umum sesar Garsela. Sama halnya dengan gempa yang terjadi di segmen megathrust yang dapat menimbulkan dampak seismik serta tsunami, gempa sesar daratan dengan jarak lebih dekat ke permukaan juga dapat memberikan dampak kerusakan yang signifikan.
Dari hal itu pakar Geologi UGM, Gayatri Indah Marliyani, mengungkap keberadaan sesar aktif sulit dipetakan karena kondisi wilayah Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi sehingga tingkat erosi dan pelapukan batuan juga tinggi. Hal ini menyebabkan bukti-bukti keberadaan sesar aktif di permukaan menjadi sulit ditemui.
Ia menjelaskan kejadian gempa dengan magnitudo besar maupun kecil bisa menjadi petunjuk keberadaan sesar aktif dan bisa dijadikan fokus penelitian dan pemetaan yang lebih terperinci. Penelitian mengenai identifikasi sesar aktif harus terus dilakukan dan didukung oleh semua pihak.
Baca juga : Gempa Sumedang Akibat Sesar yang Belum Terpetakan
"Untuk sesar yang sudah teridentifikasi, potensi dampak yang timbul harus dipetakan dengan baik sehingga area terdampak bisa mempersiapkan diri. Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi sesar aktif juga harus meningkatkan kewaspadaan," tuturnya saat dihubungi viadaring, Selasa (24/9).
Gayatri berujar, kejadian gempa yang terjadi sepanjang September di Indonesia berasal dari sistem sesar dan mekanisme yang berbeda, atau dengan kata lain gempa-gempa tersebut tidak saling terkait. Perlu disadari bahwa Indonesia berada pada wilayah tektonik yang aktif dan berada pada pertemuan banyak lempeng bumi sehingga kejadian gempa di hampir seluruh wilayah Indonesia umum dijumpai.
Sumber gempa ada yg berada di zona subduksi di laut, dan ada yang berasal dari sesar aktif di darat. Kejadian gempa di kedua zona ini tidak saling mempengaruhi," jelas Gayatri. (N-2)
Peralatan pemantau aktivitas Gunung Merapi mencatat lonjakan kegempaan selama periode Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1), dengan total 1.277 kejadian gempa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah Ambon dan sekitarnya di Provinsi Maluku pada Sabtu.
Gempa dangkal magnitudo 4,5 mengguncang Kuta Selatan, Bali. BBMKG menyebut gempa dipicu sesar aktif dasar laut dan tidak berpotensi tsunami.
Dinas seismologi nasional Meksiko melaporkan bahwa gempa bermagnitudo 6,5 tersebut mengguncang negara bagian Guerrero di Meksiko selatan.
Wilayah Laut Banda, Maluku diguncang gempa tektonik pada pukul 10.05 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Aceh Besar mencatat Aceh mengalami sedikitnya 11 kali gempa bumi, Rabu (31/12).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved