Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI musim pancaroba, masyarakat perlu mewaspadai tujuh penyakit yang sering muncul. Penyakit pertama yang perlu diwaspadai yakni diare yang sangat erat kaitan dengan kebersihan individu (personal hygiene).
"Dengan musim panas yang berkepanjangan, suplai air bersih juga akan berkurang. Dengan persediaan air yang tebatas, personal higienis juga menurun dan ini akan meningkatkan penularan penyakit diare," kata Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama saat dihubungi, Sabtu (4/11).
Untuk melindungi diri dari risiko penyakit diare, dianjurkan masyarakat membiasakan cuci tangan dengan sabun setiap akan makan atau minum serta sehabis buang hajat dan membiasakan merebus air minum hingga mendidih setiap hari. Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, hindari tumpukan sampah di sekitar tempat tinggal, serta tidak lupa menghubungi segera petugas kesehatan terdekat bila ada gejala-gejala diare.
Baca juga: Jaga Kesehatan Kulit Balita Dorong Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak
Penyakit kedua yakni demam dengue. Seperti diketahui bahwa vektor penyakit dengue ialah nyamuk Aedes aegypti. Tempat perindukan nyamuk ini ialah air bersih.
Pada musim kemarau, persediaan air sangat terbatas. Karenanya, masyarakat akan cenderung menghemat air, termasuk kebiasaan menguras bak-bak air juga akan menjadi jarang.
Baca juga: 27 Orang Tertular Cacar Monyet dari Hubungan Seksual
Hal ini memberikan kesempatan kepada nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak yang pada akhirnya meningkatkan faktor risiko penularan penyakit demam dengue. Pada pergantian musim dari musim panas ke musim hujan, akan terjadi genangan-genangan air di beberapa kontainer yang sebelumnya tidak berisi air, seperti ban-ban bekas, kaleng yang berserakan, serta talang-talang rumah yang kontruksinya kurang bagus. "Ini semua memberikan kesempatan kepada vektor penyakit demam berdarah untuk berkembang biak," ujar dia.
Ketiga yakni keracunan makanan karena secara umum pada musim panas akan mempercepat rusaknya beberapa bahan makanan akibat pertumbuhan beberapa mikroorganisme pada suhu panas. Hal ini sangat potensial menyebabkan makanan menjadi lebih cepat rusak atau basi. Oleh karena itu masyarakat perlu waspada untuk mengonsumsi makanan.
Keempat yakni demam tifoid sangat erat kaitan dengan ketersediaan air bersih. Penyakit ini juga sangat mudah menular melalui makanan minuman yang diproses kurang bersih.
Kelima, penyakit leptospirosis yang disebabkan bakteri Leptospira. Penyakit ini ditularkan melalui kotoran dan air kencing tikus. Tjandra menjelaskan pada musim hujan, terutama saat terjadi banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan ikut keluar menyelamatkan diri. Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar manusia. Kotoran dan air kencingnya akan bercampur dengan air banjir.
"Seseorang yang memiliki luka, kemudian bermain atau terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran dan kencing tikus yang mengandung bakteri Lepstopira berpotensi terinfeksi dan akan jatuh sakit," ungkapnya. Langkah mengantisipasi penyakit leptospirosis ialah menjaga kebersihan agar tak ada tikus berkeliaran, tidak bermain air saat banjir, terutama jika memiliki luka, serta memakai pelindung seperti sepatu jika terpaksa harus ke daerah banjir. Segera berobat ke sarana kesehatan bila sakit dengan gejala panas tiba-tiba, sakit kepala, dan menggigil.
Keenam yakni penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Pada situasi pancaroba dan polusi udara, ISPA akan meningkat. "Terakhir, masyarakat juga perlu mengantisipasi perburukan penyakit kronik yang mungkin memang sudah diderita. Hal ini terjadi karena penurunan daya tahan tubuh akibat perubahan musim pancaroba," pungkasnya. (Z-2)
Stimulasi 40Hz setiap hari mampu menjaga fungsi kognitif pasien, bahkan menurunkan biomarker utama penyakit Alzheimer.
Memasuki tahun 2026, data menunjukkan pergeseran tren medis yang mengkhawatirkan: lonjakan signifikan kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun (Gen Z).
Perkembangan janin yang tidak sempurna hingga memicu PJB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dari sisi kesehatan orang tua maupun lingkungan.
Stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Case fatality rate (CFR) atau jumlah angka kematian karena demam berdarah dengue (DBD) menurun signifikan dari 2021 di kisaran 0,9%, menjadi 0,4% pada 2025.
Kawasan Asia Tenggara telah lama menjadi episentrum global penularan dengue. Berdasarkan data terbaru, hampir 400.000 kasus dilaporkan di wilayah ini sepanjang 2025.
Indonesia mencatatkan capaian signifikan dalam upaya pencegahan angka kematian dari kasus demam berdarah (DBD).
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meningkat tajam sepanjang 2025. Sebaliknya, kasus demam berdarah dengue (DBD) justru mengalami penurunan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved