Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) menetapkan 16 Oktober sebagai Hari Pangan Sedunia yang diperingati sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan aksi nyata untuk mengurangi kelaparan dan malnutrisi secara global.
Perayaan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan pangan dan akses pada makanan bergizi bagi semua orang, dimana hal tersebut berkaitan erat dengan isu pertanian yang berkelanjutan dan produksi pangan, termasuk bagi generasi di masa datang.
Dengan mengusung tema 'Water is life, water is food. Leave no one behind' di tahun 2023 ini, fokus perhatian diarahkan pada air sebagai sumber kehidupan dan merupakan unsur penting dalam ketersediaan pangan bagi manusia. Lalu adakah kontribusi yang bisa kita berikan?
Baca juga: Cinta Dunia Anak Jadi Motivasi Wantini untuk Terus Mengabdi di Rumah Anak SIGAP Nusa Indah
Menurut FAO, ada beberapa hal penting yang dapat dilakukan sebagai bentuk partisipasi sebagai individu maupun keluarga, yang sekaligus dapat membawa manfaat yang dirasakan lingkungan sekitar.
Kurangi limbah makanan
Menyusun menu dan daftar bahan yang diperlukan sebelum berbelanja akan membantu mengurangi kemungkinan kita membuang bahan makanan. Selain itu kita juga bisa menciptakan hidangan baru dengan memanfaatkan makanan yang tersisa atau belum dimakan (leftover).
Konsumsi makanan segar
Beli dan konsumsi bahan makanan segar. Selain lebih sehat, makanan segar juga lebih ramah lingkungan karena produk makanan/minuman olahan umumnya membutuhkan banyak air dalam proses pembuatannya.
Menurut Program Officer Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation, Sutamara Noor, “Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa konsumsi makanan olahan berkontribusi pada terjadinya obesitas dan peningkatan resiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan diabetes.”
Hemat air, dan jangan cemari air
Menggunakan air secukupnya atau bahkan lebih sedikit saat mandi, memperbaiki keran atau pipa yang bocor, dan mematikan aliran air saat tidak dibutuhkan dapat menjadi cara menghemat air. Selain itu, kita pun dapat membantu menjaga kebersihan dan kemurnian air dengan tidak membuang sisa makanan, minyak, obat-obatan ataupun bahan kimia lainnya ke saluran air.
Dukung para petani lokal
Beli bahan makanan yang ditanam dan dihasilkan oleh daerah sekitar tempat tinggal kita. “Dengan cara ini, kebutuhan gizi kita dan keluarga bisa terpenuhi, bahkan mungkin dengan harga yang lebih terjangkau, dan kita pun mendukung petani lokal yang umumnya menerapkan pola pertanian berkelanjutan.” Ujar Sutamara.
Baca juga: Wapres RI Beri Tanoto Foundation Penghargaan Program Percepatan Penurunan Stunting
Indonesia kaya akan keragaman bahan pangan lokal, untuk itu mayoritas dari kita sesungguhnya mampu untuk memenuhi kebutuhan gizi harian dengan memanfaatkan bahan pangan yang ada di daerah tempat kita tinggal.
“Optimalkan bahan makanan segar dari lingkungan sekitar kita, dan konsumsi secukupnya. Selain untuk kesejahteraan bersama, kelestarian alam yang menjadi sumber pangan kita pun akan lebih terjaga,” tutup Sutamara. (RO/S-3)
Mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
FAO mencatat 43,5% penduduk Indonesia tak mampu membeli pangan sehat. Program Makan Bergizi Gratis dinilai krusial bagi keluarga prasejahtera.
Sebanyak 43,5% penduduk Indonesia belum mampu membeli pangan sehat
Kementerian Kehutanan bersama Food and Agriculture Organization (FAO) kembali menegaskan komitmen untuk mempererat kerja sama dalam mendukung pembangunan kehutanan yang berkelanjutan.
SEBANYAK 733 juta orang di seluruh dunia menghadapi kelaparan pada 2023. Jalur Gaza, Palestina mengalami salah satu krisis pangan paling parah yang pernah tercatat.
Hari Pangan Sedunia pertama kali dideklarasikan pada 1979 oleh FAO dalam konferensi ke-20 mereka.
Sekitar 19 persen orang mengalami kenaikan berat badan saat Ramadan akibat pola makan berlebih saat berbuka.
Secara medis, perut kembung disebabkan oleh penumpukan gas di saluran pencernaan.
Di tengah antusiasme menjalankan ibadah puasa, masyarakat diingatkan untuk tetap memperhatikan pola makan, khususnya dalam mengonsumsi asupan manis saat berbuka.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Masyarakat diingatkan untuk memperhatikan asupan mikronutrien guna menjaga daya tahan tubuh, terutama karena Ramadan tahun ini diprediksi bertepatan dengan musim hujan.
Mahasiswa tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi meski dengan anggaran terbatas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved