Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS cacar air mulai merebak di kalangan anak usia sekolah. Berikut sederet fakta mengenai salah satu penyakit amat menular ini, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan.
Varicella atau lebih dikenal sebagai cacar air adalah penyakit infeksi yang disebabkan virus varicella zoster (VZV). Cacar air merupakan salah satu penyakit yang paling menular yang banyak dialami di masa anak-anak.
Varicella zoster virus adalah alpha-herpesvirus manusia patogen yang menyebabkan cacar air (varicella) sebagai infeksi primer, yang biasanya terjadi pada anak-anak.
Baca juga : Kena Cacar Air, Kapan Anak Bisa Kembali ke Sekolah?
Setelah infeksi primer, virus neurotropik ini menjadi laten atau menetap dalam tubuh, terutama dalam neuron di ganglia otonom perifer di seluruh neuroaksis termasuk akar dorsal ganglia (DRG), ganglia saraf kranial seperti ganglia trigeminal (TG), dan ganglia otonom termasuk yang ada di sistem saraf enterik.
Gejala infeksi virus, diantaranya adalah adanya demam, malaise, sakit kepala, dan nyeri perut, ruam biasanya tidak muncul sebelum masa inkubasi 10 hingga 21 hari, yang pada akhirnya menghasilkan ruam vesikular pruritus.
Baca juga : 5 Fakta Radang Amandel yang Ternyata Menular
Selain itu, infeksi varicella kadang-kadang dapat menyebabkan komplikasi, beberapa di antaranya komplikasi neurologis yang umum seperti serebelitis dan ensefalitis, komplikasi kulit dan jaringan lunak, keterlibatan gastrointestinal atau pernapasan bagian bawah, dan radang paru-paru.
Vaksin varicella direkomendasikan untuk anak 12 bulan yang rentan terhadap infeksi varicella. Vaksin ini biasanya diberikan pada usia 12–15 bulan, kira-kira saat anak-anak menerima vaksin campak-gondong-rubela (MMR) dan booster difteri-tetanus-pertusis (DPT).
Hingga beberapa dekade kemudian, varicella zoster virus laten dapat aktif kembali menjadi herpes zoster (herpes zoster), secara spontan atau mengikuti satu atau lebih dari berbagai faktor pemicu.
Biasanya muncul sebagai erupsi vesikular kulit yang menyakitkan atau gatal yang terjadi dalam distribusi dermatomal yang khas. Reaktivasi virus ini menjadi lebih sering dengan bertambahnya usia inang manusia karena berkurangnya imunitas yang diperantarai sel terhadap virus di individu tersebut.
Pemicu spesifik lainnya untuk reaktivasi virus termasuk imunosupresi dari penyakit atau obat-obatan, trauma, iradiasi sinar-X, infeksi, dan keganasan.
Walaupun komplikasi utama dan terpenting dari herpes zoster adalah postherpetic neuralgia (PHN), telah semakin diakui selama dekade terakhir bahwa reaktivasi VZV menyebabkan berbagai sindrom neurologis akut, subakut, dan kronis.
Pedoman pengobatan untuk pasien imunokompeten dengan varicella terbatas dan termasuk saran mandi air dingin, peningkatan asupan cairan, penggunaan bedak, dan memotong kuku.
Rawat inap diindikasikan untuk kasus-kasus rumit, namun tidak terbatas pada yang berhubungan dengan lesi kulit yang parah, keadaan toksik, nyeri perut/dada, keluhan neurologis, ruam atipikal, dan demam yang berlanjut.
Pengobatan antivirus dengan asiklovir (ACV) tidak dianjurkan sebagai profilaksis, tetapi disarankan untuk mengobati komplikasi dan untuk memperpendek durasi gejala. (Z-4)
Dokter spesialis anak subspesialis infeksi dan penyakit tropik menjelaskan virus varicella zoster dapat menetap secara laten di sistem saraf dan dapat aktif kembali menjadi herpes zoster.
IDAI mengingatkan cacar air sangat menular. Satu anak bisa menularkan varicella ke 8–12 anak lain, terutama di sekolah dan lingkungan dengan kontak erat.
Peningkatan kasus cacar air di kalangan anak-anak menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan tenaga kesehatan.
Cacar air adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Varicella zoster.
Kemenkes juga diminta menggencarkan edukasi soal bahaya penularan penyakit gondongan dan cacar air pada anak.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Pada pasien anak yang dirawat inap akibat radang paru akut (pneumonia), ditemukan bahwa mereka yang mengalami gejala berat, sering kali memiliki lebih dari satu patogen di dalam tubuhnya.
Mikrobiota vagina adalah kumpulan mikroorganisme, terutama Lactobacillus, yang berfungsi melindungi organ reproduksi perempuan.
RSV bukan penyakit batuk pilek biasa yang kemudian orang yang tetap hidup sehat seperti biasa. Tapi bisa berakhir dengan komplikasi ICU, bahkan bisa berakhir dengan kematian.
RSV dapat menyebabkan anak terkena infeksi seperti bronkiolitis dan pneumonia. Meski sering disamakan, kedua penyakit itu ternyata cukup berbeda dari berbagai sisi.
Makanan untuk penderita tifus: pilih yang bergizi, mudah dicerna, dan bantu pulihkan energi. Cegah malnutrisi dengan asupan sehat selama masa pemulihan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved