Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama menyebutkan perlu ada upaya yang lebih keras agar kualitas udara menjadi lebih baik.
"Yang penting hasilnya. Artinya, kebijakan apapun silakan diambil, tapi yang utama itu bagaimana supaya hasilnya (indeks kualitas udara) turun. Sekarang kita lihat hasilnya belum turun (masih tinggi di angka 170 per Selasa pagi), itu poin pertama," ujar Tjandra, Selasa (5/9).
Ia menegaskan, pemerintah perlu bekerja keras menganalisa penyebab utama polusi udara di Jabodetabek, sehingga bisa dilakukan penanggulangan yang tepat.
Baca juga: Pemprov DKI Diminta Konsisten Tangani Polusi Udara
"Ada polusi akibat ulah manusia atau faktor alam seperti El-Nino, cuaca, arus angin, dan lain sebagainya. Jadi memang harus dianalisis, faktor alam apa perannya, dan penyebabnya apa. Walaupun sudah diungkapkan beberapa kali, menurut saya, harus dikaji secara jelas penyebab utamanya yang mana, dan Jakarta ini kan besar, Jakarta Utara dan Selatan bukan tidak mungkin berbeda (penyebabnya)," kata dia.
Ia menuturkan, meski upaya memperbaiki kualitas udara ini sudah dilakukan sekian lama, tetapi angkanya masih belum turun secara bermakna.
"Saya tahu sudah ada beberapa hal yang dilakukan, tetapi kalau dilakukan lebih masif lagi lebih baik, misalnya saya ambil contoh konkret, di beberapa tempat misalnya saat saya di luar negeri, pada saat polusi udara sedang tinggi, pembangunan rumah dihentikan, truk juga tidak boleh masuk kota agar angkanya turun dulu. Penggunaan generator juga tidak boleh yang menggunakan bensin, harus yang menggunakan gas," ucapnya.
Baca juga: Korban Polusi Udara Merebak, Dinkes DKI Siagakan RSUD dan Puskesmas 24 Jam
Contoh yang diungkapkan Tjandra membuktikan analisis penyebab yang tepat bisa menghasilkan intervensi tepat pula sehingga hasilnya lebih terukur.
"Kalau memang penyebabnya industri, harus segera dilakukan langkah konkret. Saya kira pemerintah juga sudah mengeluarkan beberapa pernyataan, yang jelas apapun yang dilakukan, angkanya tolong segera diturunkan," tegasnya.
Ia juga mengatakan masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain menghirup udara yang sudah tercemar.
"Kalau makanan dan minuman tercemar, kita bisa memilih untuk membeli yang bersih sehingga tidak mengganggu kesehatan, tetapi kalau udara tidak bisa, kalau sudah tercemar seperti ini, mau tidak mau harus kita hirup," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Polusi udara luar ruangan dapat meningkatkan risiko diabetes, bahkan pada tingkat polusi yang selama ini dianggap aman oleh EPA dan WHO.
Dokter spesialis kulit dan kelamin, Fitria Agustina, menegaskan bahwa mandi satu hingga dua kali sehari sudah cukup, meskipun Indonesia saat ini tengah menghadapi cuaca ekstrem
Polutan yang terhirup ibu hamil dapat masuk ke aliran darah, menembus plasenta, dan memicu stres oksidatif serta peradangan yang berdampak pada janin.
Pada 2022, beban ekonomi akibat dampak kesehatan dari polusi udara diperkirakan mencapai US$220 miliar, atau sekitar 6,6% dari PDB nasional (PPP).
IQAir mencatat kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 70,5 mikrogram per meter kubik.
Dengan kondisi tersebut, berdasarkan laman IQAir, maka kelompok sensitif disarankan agar sebaiknya tidak beraktivitas di luar ruangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved