Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan awan hujan mulai berkurang, bahkan sangat sedikit sekali. Mereka pun mengimbau pemerintah daerah melakukan antisipasi debit air.
"Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, Sumatra Selatan bagian selatan, hingga Lampung dalam satu pekan ini sangat sedikit sekali dapat awan hujan. Bahkan, mungkin Jawa tidak dapat awan hujan," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Senin (14/8) malam.
Menurut dia, tiap wilayah memiliki karakteristik berbeda jika terdampak fenomena El Nino. Ketika fenomena tersebut terjadi di lahan gambut, potensi besar adalah kebakaran hutan dan lahan (karhurtla). Hal itu berdampak sangat nyata bagi manusia, yakni kekurangan air bersih.
Baca juga: Hari Tanpa Hujan, BMKG Ingatkan Potensi Karhutla
Abdul mencatat terjadi penurunan muka air di sejumlah waduk seperti Waduk Jatiluhur Jawa Barat dan Waduk Gajah Mungkur Jawa Tengah.
Bendung Katulampa di Jawa Barat juga mengalami penurunan muka air secara signifikan. Artinya, sumber mata air di awal titik nol Ciliwung, Citarum sudah turun.
Baca juga: Bencana Kekeringan Dominan Terjadi di Jawa Barat
BNPB sedianya telah melakukan upaya mitigasi. Sejak April, teknologi modifikasi cuaca (TMC) sudah digunakan untuk meningkatkan debit air di waduk dan bendungan. Namun, hal itu belum cukup untuk pemakaian tiga bulan ke depan.
"Jadi, memang kita harus berhemat dalam menggunakan air bersih. Pemerintah daerah yang memerlukan dukungan perangkat atau alat perangkat untuk distribusi air bersih seperti mobil dan lain-lain, BNPB akan mendukung," kata Abdul.
IA memprediksi fenomena El Nino akan bertahan setidaknya sampai Oktober mendatang. (Ant/Z-11)
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, untuk berhati-hati dalam menyusun tata kelola pangan 2026.
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
BMKG mengungkap secara spesifik, La Nina lemah masih akan bertahan di Indonesia pada periode Januari-Februari-Maret.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina diprediksi akan terus terjadi hingga Maret 2026.
Pantau Gambut mengatakan kondisi 2025 masih menunjukkan pola rawan karhutla, terutama di tengah puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober.
MASYARAKAT wilayah Cirebon, yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Indramayu dilanda suhu panas beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca untuk Rabu, 8 Oktober 2025. Pekan pertama Oktober, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki masa peralihan.
KEMARAU panjang semakin berlanjut menyelimuti kawasan Provinsi Aceh.
Masyarakat NTT diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi angin kencang yang bersifat kering. Angin kencang ini berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.
"Jadi saat wilayah yang mudah terbakar meluas, kami mohon bantuan, dukungan yang berada di Provinsi Riau benar-benar menjaga jangan sampai lahan itu terbakar,"
MUSIM kemarau menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Krisis air bersih terjadi di Desa Lebaksiu Kidul, Kecamatan Lebaksiu, yang terdampak
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved