Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia Novie Homenta Rampengan memberikan tiga langkah utama guna mencegah penyebaran virus rabies pada manusia, yang lazim ditularkan lewat perantaraan anjing.
Novie, dikutip Senin (26/6), mengatakan langkah pertama mencegah penyebaran virus rabies adalah memastikan hewan peliharaan, seperti anjing atau kucing, dalam kondisi sehat serta melakukan vaksinasi rutin.
Kedua, apabila mendapatkan gigitan dari hewan yang berisiko terjangkit rabies, segera mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit.
Baca juga: Wabah Rabies di NTT Meluas, Sejumlah Daerah Berlakukan Karantina Hewan
"Saat ada orang tergigit, penanganannya harus tetap tenang. Cuci luka dengan air sabun atau detergen di bawah air mengalir selama 10-15 menit supaya virus ikut terbawa keluar," kata Novie.
Mencuci luka dengan air mengalir sangat disarankan karena jika menggunakan air di dalam wadah, misalnya baskom, virus akan berkutat di tempat.
Langkah ketiga untuk mencegah penyebaran virus rabies adalah secepatnya melapor ke Puskesmas, rumah sakit, atau Rabies Center guna mendapatkan penanganan medis yang lebih cermat.
Baca juga: Kemenkes Telah Distribusikan Ratusan Ribu Vaksin Rabies ke Daerah
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 31.113 kasus rabies dan 11 kasus kematian akibat penyakit tersebut di Indonesia sepanjang 2020 hingga April 2023.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 95% kasus rabies disebabkan oleh gigitan anjing dan lebih dari 40% kasus rabies terjadi pada anak-anak.
"Rabies ditularkan lewat GPHR (Gigitan Hewan Penular Rabies), dalam hal ini anjing. Anak-anak senang bergaul akrab dengan binatang sehingga begitu orangtua terkadang kurang perhatian, suatu waktu rentan diserang oleh hewan tersebut," ungkap Novie.
Novie menjelaskan, secara teori bila angka GHPR meningkat, maka jumlah kasus anak-anak yang digigit oleh hewan maupun berisiko terpapar rabies, juga ikut meningkat. Meski demikian, sejauh ini, kata Novie, belum ada laporan kasus kematian pada anak-anak.
"Secara umum 40% terjadi pada anak-anak, tapi, belum ada laporan kasus kematian," kata Novie.
Dalam menghadapi penyakit rabies, Pemerintah telah menerapkan strategi eliminasi Rabies One Health 2030 dengan target seluruh kabupaten dan kota endemis.
Hingga 2022, capaian strategi ini telah mencapai angka 84% kabupaten/kota endemis eliminasi rabies.
Strategi tersebut meliputi empat skema utama yaitu pencegahan, surveilans, penanganan kasus, dan promosi kesehatan. Skema pencegahan mencakup pengendalian rabies pada faktor risiko (vaksinasi massal hewan penular rabies), profilaksis pra-pajanan pada kelompok masyarakat berisiko tinggi, pemberdayaan masyarakat lewat Tim Siaga Rabies (TISIRA), dan penguatan koordinasi, kolaborasi, serta komunikasi lintas-sektor One Health.
Pada skema surveilans, Pemerintah melakukan integrasi lintas sektor, berbagi informasi hasil laboratorium Kesehatan Hewan kepada sektor Kesehatan Masyarakat, penguatan rencana kesiapsiagaan dan respons wabah, serta penguatan sistem informasi terpadu lintas-sektor.
Sedangkan pada skema penanganan kasus, strategi eliminasi rabies meliputi profilaksis pascapajanan pada kasus GHPR, pemenuhan kebutuhan vaksin dan serum antirabies, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan untuk tatalaksana kasus GHPR, peningkatan akses pelayanan lewat Rabies Center, serta Manajemen Tatalaksana Kasus Gigitan Terpadu lintas-sektor (TAKGIT).
Sementara skema promosi kesehatan melingkupi kampanye cuci luka gigitan hewan penular rabies secara mandiri oleh masyarakat, panduan memelihara hewan penular rabies dengan benar, serta pemanfaatan media informasi dan media sosial untuk sosialisasi rabies.
"Rabies memang mematikan, namun, dapat dicegah melalui kewaspadaan dini kita semua," pungkas Novie. (Ant/Z-1)
Kondisi kaki dapat memberikan petunjuk penting terkait kesehatan saraf, peredaran darah, hingga penyakit sistemik.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Program yang berlangsung sejak Juli hingga November 2025 ini berhasil melampaui target awal 10.000 peserta dan telah menjangkau 12.356 siswa sekolah dasar.
PEMERINTAH Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat (Sumbar) menggelar rapat untuk memperkuat langkah pengendalian rabies menyusul meningkatnya kasus rabies.
Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat (Jakbar) memvaksinasi 663 ekor hewan penular rabies (HPR) selama November 2025.
Pada tahap akhir infeksi, penderita rabies bisa mengalami kondisi mengerikan yang disebut hydrophobia, atau ketakutan ekstrem terhadap air.
Kasus gigitan hewan rabies di Pekanbaru capai 509 kejadian sepanjang 2025. Meski menurun dari 2024, Dinkes tetap imbau warga waspada karena rabies mematikan.
Kasus rabies pun terus meningkat di beberapa kota dan negara, sehingga kewaspadaan pemilik hewan sangat dibutuhkan. Dengan pencegahan yang tepat, risiko rabies
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved