Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUBDIT Kontra Propaganda Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Solihuddin Nasution menyoroti pentingnya literasi damai bagi generasi muda untuk melawan radikalisme.
"Perlu kita memberikan gambaran kepada mereka terkait dengan narasi-narasi yang mengarah kepada bahaya paham radikal terorisme dan pentingnya memberikan narasi-narasi yang bersifat nasional, maupun bersifat kebangsaan atau yang bersifat NKRI," ujar Solnas, sapaan akrab Solihuddin Nasution, seperti dilansir Antara di Jakarta, Kamis (13/4).
Dia menjelaskan pentingnya generasi muda mendapatkan literasi damai. Pengetahuan mengenai literasi damai akan membantu generasi muda dalam bergelut dengan berbagai narasi yang ada di dunia maya.
Pernyataan senada juga diutarakan oleh Guru Besar bidang Ilmu Tafsir Al-Quran dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Jajang A Rohmana.
Jajang mengatakan bahwa generasi muda perlu bersikap kritis dengan menyaring informasi yang didapat sebelum menyebarluaskan informasi tersebut. Generasi muda harus pandai dalam memilah narasi apa yang mengandung nilai-nilai negatif, dan narasi apa yang sebaliknya.
Baca juga: KPPPA Komitmen Tingkatkan Partisipasi Anak dalam Perencanaan Pembangunan
"Dan dengan demikian, maka nanti konten yang negatif tidak akan mudah tersebar kalau sudah ada kewaspadaan dan kehati-hatian dari dirinya untuk tidak mudah menyebarkan itu," katanya.
Dia meminta kepada generasi muda untuk bergerak secara aktif mengisi konten-konten mereka di media sosial dengan status yang menyejukkan dan menunjukkan cinta akan Tanah Air.
"Misalnya, mereka bisa mengisi dengan konten ragam kuliner, kekayaan wisata dalam negeri di berbagai daerah, kekayaan etnik yang mana itu bisa dieksplorasi sebagai bagian cara untuk mengimbangi konten-konten yang selama ini mengarah pada paham-paham yang kurang baik, seperti paham radikal di masyarakat," ujarnya.
Dengan demikian, Jajang meyakini generasi muda tidak akan menjadi silent majority dalam menciptakan perdamaian di Indonesia.
"Saya kira memang perlu ada respons yang aktif dari generasi muda untuk mengisi konten-konten digital dengan pesan-pesan yang damai yang baik," katanya. (Ant/I-2)
Di tengah padatnya dunia digital, tantangan terbesar adalah menjaga agar suara tidak mengalahkan pemahaman, dan teknologi tidak mengikis empati.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, mengatakan peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Di era Presiden Prabowo Subianto, perang melawan narkotika kini tidak lagi hanya bertumpu pada penindakan hukum, melainkan menempatkan penyelamatan generasi muda.
Penutup tahun di Braga pun menjadi simbol transisi: menoleh ke belakang untuk menghargai proses, lalu melangkah ke depan dengan optimisme menyambut 2026 dan meraih mimpi.
Kemenpora bersama FAO mendorong keterlibatan generasi muda Indonesia dalam sektor pertanian, perikanan, dan peternakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan nasional
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan stroke masih menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia. Prevalensi stroke berada di kisaran 8,3 per 1.000 penduduk
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved