Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
DRISANA Center dan Drisana Foundation meluncurkan buku cerita anak bergambar tentang autisme berjudul ‘Kado Alma untuk Dila’. Peluncuran buku tersebut untuk menyambut Hari Autisme yang diperingati setiap 2 April.
Buku ‘Kado Alma untuk Dila’ merupakan buku cerita bergambar anak pertama di Indonesia tentang autisme. Buku ini menunjukkan beberapa karakter anak dengan autisme, serta dinamika dan tantangan yang sering dihadapi keluarga. Buku ini juga disertai fakta dan tips untuk orang tua yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan penerimaan terkait autisme.
Cerita dari buku ‘Kado Alma untuk Dila’ terinspirasi dari pengalaman dan kisah co-founder Drisana, Zavnura yang memiliki anak dengan autisme.
Baca juga : Lewat Buku, KBM JAYA Perkuat Usulan Penetapan Frans Seda sebagai Pahlawan Nasional
"Drisana sengaja mengemas buku ini dengan cerita yang menyenangkan. Kami berharap buku ini akan memberikan pemahaman akan kebutuhan anak dengan autisme serta kebutuhan anggota keluarga lainnya,’ kata Zavnura, melalui keterangannya, Selasa (4/4).
Co-founder serta guru pendidikan kebutuhan khusus di Drisana Nurma menjelaskan sering kali orangtua bingung bagaimana memberikan pemahaman tentang anaknya yang memiliki autisme pada anggota keluarga lain. Dengan buku cerita ini, orang tua dapat memberikan gambaran dan pemahaman serta penerimaan tentang anak dengan autisme.
Baca juga : Setelah Hapus Syarat Calistung, Kemendikbud Mesti Perbaiki Buku Teks SD
Berdasarkan data WHO memperkirakan 1 dari 160 anak memiliki autisme. Di Amerika sekitar 1 dari 36 anak memiliki autisme. Di Indonesia sendiri, meskipun belum ada data yang pasti, diperkirakan terdapat 2,4 juta anak yang memiliki Autisme.
WHO menyatakan, semua orang dengan spektrum autisme memiliki hak untuk dapat mandiri, memiliki otonomi dan kebebasan memilih dalam hidupnya. Hak tersebut mencakup hak untuk mendapatkan penerimaan dan dukungan penuh sehingga dapat memiliki kesempatan pekerjaan yang setara dengan orang-orang neurotipikal.
Drisana berharap buku ini dapat membantu keluarga untuk memahami, menerima dan memberikan dukungan bagi anak dengan Autisme.
"Buku ini akan memberikan pemahaman yang sederhana tapi mendalam, untuk memberikan pengenalan dan penerimaan anak dengan autisme," kata Ama, salah satu orang tua anak dengan autisme.
Saat ini buku ‘Kado Alma untuk Dila’ dapat diperoleh di e-commerce, serta di gerai BUUMI playscape khusus di bulan April sampai Juni 2023. Sebagai hasil dukungan donasi dari Re.juve, Yayasan Drisana juga melakukan program pemberian 1.000 buku ‘Kado Alma untuk Dila’ secara gratis.
Program 1000 buku gratis ini diberikan bagi keluarga yang memiliki anak dengan autisme yang kurang mampu. Pada bulan April ini, Drisana membuka kesempatan bagi organisasi, komunitas, sekolah atau perpustakaan yang merasa membutuhkan buku ini.
"Drisana berharap semakin banyak keluarga dan anak dengan Autisme yang mendapat manfaat dari buku ini. Sehingga mereka bisa mendapat informasi yang dibutuhkan untuk mengurangi stigma melalui cerita yang menyenangkan," kata Nurul Luntungan yang merupakan penulis buku ‘Kado Alma untuk Dila’ dan co-founder Drisana. (Z-5)
Suga BTS ikut menulis buku terapi autisme berbasis musik bersama peneliti Severance Hospital. Ia juga terlibat langsung dalam programnya.
Kabar baik bagi ibu hamil! Tinjauan ilmiah terbaru dari The Lancet menegaskan paracetamol aman dan tidak terbukti meningkatkan risiko autisme atau ADHD pada anak.
Studi menemukan ketidakseimbangan hormon tiroid yang berlangsung selama beberapa trimester kehamilan dapat meningkatkan risiko autisme pada anak.
Penelitian baru menunjukkan kemampuan kognitif, bukan sekadar gangguan pendengaran, menentukan seberapa baik seseorang memahami percakapan di tempat ramai.
Belakangan, asam folinat mulai menarik perhatian sebagai salah satu pendukung terapi pada anak dengan autisme. Apa sebenarnya zat ini dan bagaimana perbedaannya dengan vitamin B9.
Penelitian terbaru dari Stanford mengungkap peran evolusi otak manusia dalam tingginya prevalensi autisme.
Bagi orangtua yang sibuk bekerja, meluangkan waktu singkat namun intensif jauh lebih bermanfaat bagi keterikatan emosional (emotional attachment) anak.
Sejumlah orangtua pun mendukung PP Tunas, salah satunya Mia Santani, 36. Namun ada sejumlah catatan.
PP Tunas dapat menjadi tameng bagi orangtua untuk menjaga anak mereka akan bahaya penggunaan media sosial secara berlebih.
ANAK yang terbiasa mengandalkan gawai dalam kehidupan sehari-hari berisiko menunjukkan reaksi emosional berlebihan (tantrum) saat penggunaannya dibatasi oleh orangtua.
PP TUNAS adalah jawaban atas kekhawatiran kalangan medis terhadap dampak negatif media sosial bagi tumbuh kembang anak.
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved