Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BARU-BARU ini, ramai kasus kekerasan yang dilakukan remaja dan anak. Psikolog Elizabeth T Santosa mengatakan kejadian-kejadian tersebut diakibatkan perkembangan adolescene yang tengah dialami remaja. Dalam periode itu, remaja sangat dipengaruhi oleh perilaku agresif dan berisiko.
"Dilihat dari aktivitas kerja otak, ditemukan bahwa remaja cenderung mudah mengambil risiko dan suka bereksperimen dibandingkan usia dewasa. Selain itu, remaja memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap tekanan sosial. Penggabungan kedua hal tersebut antara tekanan pengaruh sosial dan ambil risiko dapat berakibat tindakan yang negatif ataupun positif," ungkap Elizabeth kepada Media Indonesia, Senin (13/3).
"Misalnya, sedih melihat area perkampungan ekonomi miskin dan melarat membuat sekelompok remaja melakukan bakti sosial untuk membantu penghuni pemukiman. Atau bisa merasa sedih dan sakit hati karena teman perempuannya di-bully, sang pacar lalu melampiaskan kemarahan secara membabi buta untuk balas dendam," sambungnya.
Baca juga: Pastikan Kecukupan Gizi Melalui 68 Bagi Kesehatan Remaja
Agar tidak mengarah ke tindakan negatif, dia menegaskan remaja memerlukan bimbingan dan arahan bijak dari orangtua, guru, dan teman-teman di sekitarnya.
Menurut Elizabeth, bergaul dengan teman yang salah, besar kemungkinan remaja akan ikut-ikut melakukan perilaku negatif. Orangtua yang cuek dan tidak peduli pun akan kena getahnya saat remaja mengambil tindakan tanpa pikir panjang.
"Remaja hanya perlu disupervisi, tidak perlu dimicro-manage. Berikan kebebasan secukupnya namun selalu waspada jika ada perilaku-perilaku yang terlihat tidak baik," tuturnya.
Baca juga: Tinggi Angka Kematian Ibu karena Anemia dan Hamil Usia Remaja
Elizabeth menambahkan, jika remaja memperlihatkan perilaku agresi di rumah, orangtua sebaiknya tidak tinggal diam namun melakukan intervensi seperti teguran ataupun menegakkan kedisiplinan dan aturan main baik di dalam rumah atau di luar rumah.
Selain itu, umumnya karakter anak dibangun dan dipupuk dari mencontoh perilaku orangtua. Orangtua yang karakternya agresif umumnya menghasilkan anak yang berkarakter agresif pula.
Lalu, orangtua yang terlalu sibuk juga rentan melakukan penelantaran terhadap anak sehingga pendidikan moral, agama, kesantunan dalam bertingkah laku tidak ditanamkan sejak kecil. Orangtua karakter ini melemparkan tanggungjawab pendidikan moral kepada guru sekolah atau pengasuh di rumah.
"Orangtua permisif cenderung memanjakan anak sehingga ketika anak berperilaku agresif, orangtua tidak mampu mendisiplinkan dan memilih menyerah sehingga perilaku tidak baik tetap berkelanjutan," tandas Elizabeth. (Z-1)
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Korban diduga hanyut saat hendak menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah.
Remaja yang aktif melaporkan kebaikan tercatat lima kali lebih empati, lima kali lebih prososial, dan hampir empat kali lebih tinggi dalam kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved