Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi mengatakan pemerintah telah melakukan beberapa langkah untuk menghadapi resiko krisis iklim yang berdampak terhadap tanaman pangan di Indonesia. Sejumlah langkah itu berupa pelaksanaan metode-metode quick wins mulai dari pemetaan wilayah rentan banjir pada musim penghujan, penggunaan peralatan pengering, dan pencanangan penggunaan asuransi terhadap petani bila mengalami gagal panen.
Suwandi mengungkap bahwa komoditi beras dan jagung dari tahun ke tahun terus meningkat akan tetapi fenomena perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap stok kebutuhan pokok tersebut.
"Pemerintah mencoba untuk mencanangkan program antisipasi perubahan iklim dengan cara mengidentifikasi varietas yang kerentanan terhadap air dan kekeringan cenderung rendah, peningkatan kualitas SDM, serta peningkatan kualitas riset," terangnya.
Baca juga : El Nino Mengintai, Petani Pinrang Sulsel Terapkan Teknologi Cerdas Iklim CSA
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aris Pramudia mengatakan anomali iklim akan terjadi sepanjang 2023 hingga 2024 di Indonesia. Anomali cuaca itu berpotensi menyebabkan krisis pangan, sehingga perlu ditanggapi dengan tindakan adaptasi dan mitigasi yang dilaksanakan secara beriringan.
"El-Nino yang erat dengan kekeringan dan La-Nina yang erat dengan curah hujan tinggi akan mempengaruhi musim tanam dan musim panen, sehingga berdampak pada penurunan produktivitas pertanian," ujarnya.
Menurutnya, beberapa tindakan adaptasi dan mitigasi telah dirumuskan untuk menghadapi anomali iklim tersebut, di antaranya pemantauan informasi prediksi curah hujan termasuk potensi bencana hidrometeorologi.
Baca juga : IPB Sebut Produksi Pertanian akan Turun 5% Akibat El Nino
Kemudian, menerapkan jadwal tanam yang tepat serta varietas yang adaptif, melaksanakan gerakan penanganan dampak perubahan iklim, serta memanfaatkan infrastruktur panen air hujan yang tepat.
"Tindakan mitigasi perlu dilakukan melalui kolaborasi antara berbagai macam stakeholders, seperti BMKG, BRIN, Kementerian Pertanian, pemerintah daerah serta perguruan tinggi," ujar Aris.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa badai La-Nina dan El-Nino merupakan efek yang timbul akibat perubahan iklim. El-Nino merupakan kejadian di mana suhu air laut di Samudra Pasifik memanas di atas rata-rata suhu normal. Sedangkan, La-Nina merupakan peristiwa turunnya suhu air laut Samudera Pasifik di bawah suhu rata rata di daerah sekitarnya.
Baca juga : Kementan Kerahkan Penyuluh CSA Lombok Tengah Ukur Emisi Gas Rumah Kaca
Saat terjadi La-Nina, jelas Aris, angin berhembus lebih kencang dari biasanya di sepanjang Khatulistiwa di atas Samudra Pasifik, dari Amerika Selatan menuju Asia.
Angin pasat itu membuat air hangat berkumpul di lepas pantai Asia, sehingga menaikkan permukaan air laut. Sementara di sisi timur, kondisi itu menyebabkan air dingin naik ke permukaan.
"Sedangkan saat El-Nina yang terjadi adalah sebaliknya. Angin pasat yang lebih lemah menyebabkan air hangat kembali mengalir, sehingga lebih sedikit air dingin naik ke permukaan," kata Aris.
(Ant/Z-7)
PVTPP Kementan mendeklarasikan Pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK), yang dirangkaikan dengan peluncuran aplikasi Siperintis.
Amran menilai, praktik penyelundupan pangan sebagai tindakan yang mencederai kepentingan bangsa dan petani.
WAKIL Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, memastikan stok dan harga sapi hidup di tingkat produsen tetap terkendali menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) hingga Lebaran tahun depan.
Kementan juga mendiseminasi naskah kebijakan berjudul “Regenerasi Petani untuk Percepatan Pencapaian Swasembada Pangan Berkelanjutan.
PEMERINTAH dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga sapi hidup di tingkat peternak tetap terkendali menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan mentolerir pelaku usaha pangan yang menjual komoditas di atas HET jelang Nataru
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
BMKG mengungkap secara spesifik, La Nina lemah masih akan bertahan di Indonesia pada periode Januari-Februari-Maret.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina diprediksi akan terus terjadi hingga Maret 2026.
KEPALA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki periode menuju puncak musim hujan.
Laut Pasifik Utara mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah. Para ilmuwan bingung mencari penyebab utama gelombang panas laut misterius ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved