Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PENERBIT harus kreatif dalam mempertahankan eksistensinya untuk menerbitkan buku-buku yang menjadi andalan untuk penjualan.
Kreativitas jadi kunci untuk terus menerbitkan buku, sehingga dunia perbukuan Indonesia tetap maju di tengah persaingan melawan digitalisasi di berbagai bidang.
“Memang situasi perbukuan nasional cukup berat, termasuk buku-buku perguruan tinggi. Meski demikian, kita terus mencari terobosan-terobosan baru sehingga mampu bertahan,” ujar Manajer Marketing Group Prenada Media, Endah M, dalam perbincangan dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat – Akademi Televisi Indonesia (LPPM-ATVI), baru-baru ini.
Dalam perbincangan yang ditayangkan di kanal Youtube LPPM ATVI ini, Endah menjelaskan, pihaknya mendatangi kampus-kampus di seluruh Indonesia, untuk menemui para dosen yang juga penulis, mendatangi kementerian, lembaga–lembaga negara, BUMN, maupun perorangan yang akan menulis buku.
“Dengan ‘jemput bola’ kita akan mendapat naskah bagus, juga peluang kerja sama penerbitan,” katanya.
Baca juga: Komunitas Utan Kayu Rilis Buku Membaca Goenawan Mohamad
Ketika buku dari dosen suatu perguruan tinggi, biasanya peluncuran atau bedah buku dilakukan di kampus tersebut.
Dengan demikian, civitas akademika kampus mengetahui adanya penerbitan suatu buku yang dibutuhkan bukan hanya di kampus bersangkutan tapi juga kampus lain di Indonesia, misalnya buku komunikasi, hukum, sosial, dan tema lainnya.
“Pada acara tersebut kami menggelar pameran kecil dan mengadakan penjualan langsung dengan potongan harga atau diskon, baik bagi dosen maupun mahasiswa," jelasnya.
Diakui Endah M yang sudah lebih 25 tahun bergelut di dunia penerbitan buku, beberapa tahun ini, terutama ketika pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia dan Indonesia juga terdampak, maka penerbitan buku merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak. Situasi ini ditambah dengan berkembangnya internet dan digitalisasi yang membuat penerbtan buku cetak sangat terdampak.
“Ada celah yaitu penerbitan melalui flatfoms digital atau e-book, tapi potensinya masih kecil,” katanya.
Lebih lanjut dikemukakan Endah, event-event pameran buku berskala besar juga sangat bermanfaat buat penerbit untuk mempromosikan buku-bukunya, misalnya Islamic Book Fair (IBF) yang memang serig ditunggu-tunggu pencinta buku di Tanah Air.
“Pemeran IBF atau Islamic Book Fair sangat bagus, Karena animo pengunjung yang besar dari berbagai kalangan, berdampak sangat positif pada penjualan, disamping kita promosikan buku-buku baru,” ungkat Endah yang juga Pengurus IKAPI ini.
Endah mengaku bersyukur, sebab Group Prenada Media masih terus menerbitkan buku-buku teks perguruan tinggi yang dibutuhkan masyarakat, khususnya kalangan perguruan tinggi, sehingga ikut membantu proses peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.
“Buku kami, baik di bidang ekonomi, komunikasi, hukum, dan bidang lain, sering jadi bahan bacaan wajib. Kami senang sekali,” ungkapnya.
Namun demikian, kegalauan tidak bias dipungkiri dalam menghadapi naik-turunnya penjualan buku yang diterbitkan Prenada, terutama soal pembajakan.
“Pembajakan buku walau bagaimana pun akan merusak rantai proses penerbitan dan penjualan buku, sementara mereka para pelaku pembajakan buku dengan seenaknya mengambil jalan pintas untuk kepentingan keuntungan mereka," kata Endah.
Ia juga mengusulkan pihak yang berwenangan agar terus mengupayakan pemberantasan pembajakan buku.
Untuk menghadapi pembajakan itu, kata Endah pihaknya mengambil berbagai cara, misalnya memberi diskon harga yang bagus kepada mahasiswa dan dosen.
Selain it terus mengkampanyekan bahwa membeli buku bajakan merusak dan membahayakan dunia perbukuan Indonesia.
Pengalaman 25 tahun
Saking asyiknya terjun dalam dunia perbukuan, tak terasa, Endah sudah merasakan suka dukanya bekerja di dunia penerbitan.
Meskipun bidang perbukuan ini sejak awal tidak terkait dengan latar belakang pendidikannya yang mengambil keahlian sebagai sekretaris.
“Pada saat saya kuliah dan butuh untuk kelencaran biaya, ada pekerjaan di bidang perbukuan. Meski dunia penerbitan itu adalah bukan keinginan karena kuliah yang saya geluti itu bidangnya jauh beda gitu," jelasnya.
"Tapi karena kebutuhan hidup untuk kuliah dan tidak ada dananya mau tidak mau kan harus kerja . Pada saat itu yang ada lowongan di dunia penerbitan, namanya penerbit Rajawali Pers,” ungkap Endah dan akhirnya hingga kini tak beranjak dari dunia penerbitan.
Diungkapkan Endah, banyak kesenangan ternyata di dunia penerbitan. Dirinya pun banyak mengenal dan belajar para penulis yang kebanyakan dosen dan praktisi.
“Mereka semua orang yang pandai, jadi saya pun banyak mengambil ilmu dari mereka para penulis,” katanya.
Paling sering, para penulis merasa buku yang diterbitkannya itu laris manis dan kurang percaya dengan laporan penjualan yang kita buat.
”Tapi dengan penjelasan dan memberikan data penjualan, akhirnya penulis itu mengerti,” katanya. (RO/OL-09)
Buku Tumpeng Indonesia: Dari Dapur Tradisional Menuju Meja Bangsa disusun untuk memberikan perspektif luas mengenai tumpeng sebagai bagian dari kebudayaan.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong pemanfaatan perpustakaan sebagai bagian upaya peningkatan minat baca dan literasi generasi penerus bangsa.
Kolaborasi ini dimulai dengan mengadakan Training of Trainers secara virtual yang dihadiri oleh 191 fasilitator dari Purwakarta, Malang, Kediri, Pekalongan, dan Probolinggo.
Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana membagikan buku ke TBM di Pandeglang dan menegaskan komitmennya mengawal sejarah dan sastra sebagai pelajaran wajib dalam RUU Sisdiknas
Perempuan menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban, terutama pada modus penipuan emosional dan relasi personal.
Nota kesepahaman ini sebagai wujud kolaborasi antara pemerintah pusat dengan daerah yang melingkupi peningkatan literasi, pemartabatan Bahasa Indonesia, pelindungan bahasa daerah
Beby mengungkap cerita dalam film Tolong Saya! (Dowajuseyo) lahir dari kejadian mistis yang ia alami saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Indonesia di Korsel.
Banyak karya akademik yang ia tangani berubah menjadi buku yang lebih komunikatif dan dapat dibaca masyarakat luas.
IRCOMM Group menghadirkan program khusus bagi peneliti dan akademisi. Sebanyak 12 penulis terpilih yang berhasil submit dan lolos tahap editorial review akan mendapatkan sejumlah manfaat.
Menurut Oh Su Hyang, berbicara itu bukan hanya tentang menyusun kata tapi juga bagaimana berbicara itu bisa memikat orang atau bahkan bermakna bagi orang.
PENULIS asal Korea Selatan, Oh Su Hyang, yang dikenal lewat buku laris Bicara Itu Ada Seninya, ternyata punya kebiasaan yang luar biasa yaitu membaca hingga 70 buku setiap bulan.
Dikenal lewat bukunya yang populer Bicara Itu Ada Seninya, Oh Su Hyang ternyata punya masa kecil yang jauh dari kata mudah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved