Sabtu 07 Januari 2023, 09:36 WIB

Penurunan Tanah di Jakarta dan Semarang Perlu Ditangani Secara Komprehensif

Faustinus Nua | Humaniora
Penurunan Tanah di Jakarta dan Semarang Perlu Ditangani Secara Komprehensif

ANTARA FOTO/Aji Styawan
Ilustrasi dampak penurunan tanah

 

DOSEN Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Heri Sutanta mengatakan sebagian kota-kota besar di seluruh dunia termasuk di Indonesia berada di daerah pesisir. Dia menyebutkan kota besar di Indonesia yang berada di pesisir di antaranya Jakarta, Semarang, Samarinda, Makassar, Kupang dan Ambon. Umumnya daerah pesisir ini tanahnya terbentuk dari aluvial karena hasil endapan sungai sehingga lebih mudah mengalami pemadatan dan akhirnya penurunan tanah.

“Hasil penelitian kita di Semarang, kondisi di Jakarta juga sama, penurunan tanah dipercepat oleh pemanfaatan air tanah yang berlebihan dan melebih kapasitas imbuhannya,” kata Heri dikutip laman UGM, Sabtu (7/1).

Dari hasil penelitiannya, di daerah tangkapan air Kota Semarang dulunya terdapat banyak kebun, tanah tegalan dan ruang terbuka, namun kemudian berubah menjadi kompleks perumahan, kawasan industri dan pembangunan infrastruktur lainnya. Hal ini menyebabkan berkurangnya imbuhan di Cekungan Air Tanah (CAT) Semarang.

Heri menyebut di Semarang kenaikan air laut global saat ini mencapai 3-5 milimeter per tahun sementara penurunan tanah mencapai 9 cm.

“Ada kenaikan penurunan tanah 30 kali lebih besar dibanding kenaikan air laut global,” imbuhnya.

Baca juga: Atasi Penurunan Tanah, Pemkot Semarang Minta Industri Pakai Air PDAM

Dijelaskannya, faktor lokal penurunan tanah ini lebih berdampak pada kenaikan relatif permukaan laut di Semarang dan Jakarta. Bahkan, percepatan penurunan tanah ini menyebabkan dua kota di Semarang ini sering dilanda banjir saat curah hujan tinggi karena pos isi daratan di pesisir lebih rendah daripada air permukaan laut.

“Itu juga yang terjadi di Jakarta,” jelasnya.

Baik di Semarang maupun di Jakarta, lanjut Heri, posisi daratan pesisir yang lebih rendah dari air permukaan laut ini harus ditangani secara komprehensif. Daerah pemukiman dan industri yang ada saat ini di kawasan pesisir dapat dilindungi dengan tanggul laut. Selanjutnya juga dipersiapkan banyak pompa untuk mengalirkan air dari drainase ke sungai besar yang aliran airnya menuju laut.

“Harus ada pompa yang disiapkan walaupun membutuhkan biaya operasional yang besar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, di antara kota besar di Indonesia, sementara ini hanya Jakarta dan Semarang yang mengalami proses penurunan tanah yang begitu cepat. Untuk mengantisipasi terjadinya dampak yang lebih besar di kemudian hari, ia mengusulkan agar pemerintah membuat kebijakan yang komprehensif.

“Yang pertama adalah mengatur pengambilan air tanah di dan menjaga imbuhannya melalui perubahan pembatasan penggunaan lahan di daerah tangkapan airnya. Selanjutnya adalah menanggulangi dampaknya, misalnya pembangunan tanggul pantai untuk melindungi infrastruktur dan warga,” pungkasnya.(OL-5)

Baca Juga

AFP

Vaksinasi Covid-19 Bayi 6 bulan Diberikan Triwulan Kedua, Gunakan Pfizer

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 27 Januari 2023, 23:45 WIB
VAKSINASI covid-19 untuk kelompok usia 6 bulan ke atas diperkirakan akan dimulai pada triwulan kedua 2023 karena mempertimbangkan kesiapan...
Antara

Pemerintah Galakkan lagi Program Posyandu Aktif di April 2023

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 27 Januari 2023, 22:45 WIB
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) akan menggerakkan kembali masyarakat agar mengecek kondisi bayi di posyandu melalui Program Posyandu Aktif...
MI/Susanto

Gerak Nuklir Sebagai Sumber Energi Terbarukan di Indonesia Terhambat karena Ini

👤Muhammad Anugrah Ramadhan 🕔Jumat 27 Januari 2023, 22:30 WIB
PEMANFAATAN nuklir di Indonesia diyakini menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang potensial untuk bisa dimanfaatkan demi mencapai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya