Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
MENDETEKSI dini keberadaan kanker ovarium dengan mengenal enam faktor risiko dan empat gejala dapat membantu pasien mendapat penanganan yang tepat dan mengurangi angka kematian. Hal itu dikatakan kata Dokter Spesialis Onkologi Oni Khonsa dari RSUP Persahabatan.
"Kebanyakan datang terlambat, angka yang datang lebih awal itu jauh lebih sedikit dibanding dengan yang telat. Penting untuk tahu tentang 10 faktor risiko dan gejala," ujar Oni dalam sebuah webinar, dikutip Jumat (9/12).
Terdapat enam faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang terkena kanker ovarium yakni memiliki riwayat kista endometrium, keturunan keluarga dengan kanker ovarium atau payudara, mutasi genetik, jumlah persalinan rendah, gaya hidup yang buruk, dan pertambahan usia.
Baca juga: Gandeng Kemenkes, AstraZeneca Kampanye Deteksi Dini Kanker Ovarium
Dari keenam faktor tersebut ditambah dengan empat tanda atau gejala seperti perut kembung, nafsu makan berkurang, sering buat air kecil dan nyeri panggul atau perut. Namun, kanker ovarium tidak disertai gejala pada stadium awal.
"Kalau kita sudah punya salah satu dari enam faktor risikonya, terus ditambah ada gejala perut kembung, mungkin diare, harus periksa meskipun tidak semua gejala itu pada akhirnya kanker ovarium," kata Oni.
Lebih lanjut, Oni mengatakan penting untuk mewaspadai setiap tanda dan gejala. Sebab, kanker ovarium tidak seperti kanker serviks yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan papsmear.
Kanker ovarium juga tidak hanya diderita perempuan yang sudah mengalami menopause. Anak muda pun memiliki peluang yang sama, khususnya jika terdapat keluarga dekat dengan riwayat kanker.
"Kalau enggak ada tanda bukan berarti enggak melakukan pemeriksaan, yang muda belum tentu aman. Ketiga ada kolega sedarah, kita harus waspada tapi bukan hanya kanker ovarium tapi juga kanker payudara, itu satu geng," katanya.
Oni mengatakan minimnya informasi dan pengetahuan masyarakat mengenai kanker ovarium sangat memprihatinkan. Padahal jika dideteksi lebih awal, kanker ovarium dapat ditangani dan 94% pasiennya dapat hidup lebih dari 5 tahun setelah didiagnosa.
Menurut Oni, saat kanker ovarium masih berada di stadium awal, saat kanker masih terbatas di ovarium, penanganan dan pengobatan memiliki kemungkinan besar untuk berhasil.
"Di Indonesia itu kalau enggak mau periksa karena takut ketahuan, padahal memang periksaan itu biar ketahuan. Kalau memeriksa sejak awal dampak-dampaknya juga akan rendah," pungkas Oni. (Ant/OL-1)
KECANTIKAN sejati bagi seorang wanita sering kali didefinisikan melalui pantulan cermin. Namun, esensi sebenarnya terletak pada pancaran empati dan kekuatan dari dalam hati.
Angka kematian akibat kanker di Indonesia tercatat masih 234.000 kasus tiap tahun, dengan kasus tertinggi kanker payudara yang menurut Globocan 2020 tercatat 66.000 kasus.
PENYANYI Alika Islamadina menerapkan pola hidup yang lebih sehat setelah menjadi caregiver (perawat) bagi ibunya yang mengalami kanker.
Pasien sering datang dengan kondisi umum yang sudah menurun sehingga mempersulit proses tindakan dan pemulihan.
KEMAMPUAN story telling atau bercerita sangat dibutuhkan untuk memberi pemahaman yang benar bagi masyarakat terkait langkah pengobatan yang tepat dalam mengatasi kanker.
Kemajuan teknologi medis saat ini menawarkan tingkat kesembuhan yang tinggi, asalkan masyarakat memiliki keberanian untuk melakukan deteksi dini kanker.
Tes darah Galleri yang dikembangkan perusahaan AS, Grail, berhasil mendeteksi lebih dari 50 jenis kanker dalam uji klinis di Amerika Utara.
Demi mendalami perannya sebagai Shella Selpi Lizah, seorang pejuang kanker ovarium, Mawar De Jongh rela menurunkan berat badan hingga 6 kilogram dalam waktu dua bulan.
Louise Altese-Isidori, 50, asal AS, didiagnosis kanker ovarium stadium 4B tanpa gejala apa pun.
Studi PAOLA-1 menunjukkan pasien HRD-positif yang menjalani maintenance therapy dengan Olaparib dan Bevacizumab memiliki masa bebas penyakit hingga 37 bulan.
Bahkan setelah menjalani operasi dan kemoterapi, tingkat kekambuhan kanker ovarium tetap tinggi dalam tiga tahun pertama.
Menurut data GLOBOCAN 2022, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan jumlah kasus kanker ovarium tertinggi di dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved