Rabu 16 November 2022, 10:15 WIB

Biaya Pengobatan Gigi Ternyata Bisa Didiskusikan

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Biaya Pengobatan Gigi Ternyata Bisa Didiskusikan

MI/ANDRI WIDIYANTO
Dokter gigi memeriksa pasien anak di salah satu klinik di Kemang, Jakarta Selatan.

 

SEBAGIAN masyarakat menghindari pemeriksaan ke dokter gigi lantaran biayanya yang dianggap mahal. Padahal, pembiayaan pengobatan bisa didiskusikan sejak awal. Hal itu diungkapkan dokter konservasi gigi Dewi Anggraini Margono.

"Nomor satu, kalau pasien datang dengan keluhan sakit, dia harus pulang dengan tidak sakit. Kemudian dengan komponen biaya, biasanya itu kita bicarakan di awal," ujar lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia itu, dikutip Rabu (16/11).

Ketua Ikatan Konservasi Gigi (IKORGI) Cabang Jakarta Pusat itu, mengatakan pembiayaan pengobatan biasanya dibicarakan sejak awal ketika dokter memeriksa kondisi gigi pasien.

Baca juga: Dokter Utamakan Pertahankan Gigi ketimbang Dicabut

Dokter pun akan memberikan beberapa solusi apabila biaya tidak ditanggung sepenuhnya oleh asuransi. 

Menurut Dewi, saat ini, BPJS kesehatan sudah bisa digunakan untuk mengklaim beberapa kasus gigi.

"Kita sesuaikan dengan pasien, apabila budgetnya tidak mencukupi maka bisa kita rujuk, kita punya rumah sakit pendidikan yang bisa melayani pasien itu dengan biaya yang terjangkau. Tapi dengan tidak mengurangi kualitas pelayanan," kata Dewi.

Lebih lanjut, Dewi mengatakan perawatan saraf gigi atau saluran akar gigi memang tidak hanya dilakukan satu kali. Oleh karenanya, sejak awal, akan dibicarakan mengenai biaya dan juga waktu kunjungan.

Dokter biasanya akan membuat perencanaan perihal tindakan apa saja yang perlu dilakukan kepada pasien untuk mengatasi keluhannya.

Akan tetapi, keputusan akhir selalu menjadi hak pasien untuk melanjutkan atau hanya sampai mengatasi rasa sakit saja.

"Kita memang merencanakan perawatan ideal tapi semua keputusan ada di tangan pasien, baik waktu dan biayanya," katanya.

Dewi juga mengatakan permasalahan gigi dapat mengganggu kondisi kesehatan secara holistik. Selain itu, rasa sakit pada gigi yang bermasalah dapat menurunkan produktivitas.

"Rasa sakit itu kan menurunkan produktivitas kerja, umumnya dialami oleh orang-orang pada usia produktif. Makanya pertama kalau pasien datang kita hilangkan dulu sakitnya," pungkas Dewi. (Ant/OL-1)

Baca Juga

Dok. Istimewa

Potensi Pasar Hijab Dunia Harus Dioptimalkan untuk Membuka Lapangan Kerja

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 30 November 2022, 17:19 WIB
Pada tahun ini belanja diperkirakan akan meningkat hingga 6% menjadi US$313 miliar. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf)...
MI/HO

Lestarikan Budaya Belitong, Mahasiswa Untar Raih Penghargaan MURI

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 30 November 2022, 17:18 WIB
Piagam Rekor MURI diberikan kepada Isyak Meirobie yang merupakan mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen...
Dok. Suntory Garuda

Tampikan Banyak Talenta, Okky Big Star Jadi Salah Satu Medium Peningkatan Kualitas SDM Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 30 November 2022, 17:14 WIB
Potensi tersebut harus diwujudkan antara lain dengan meningkatkan nasionalisme, kualitas SDM, membangun infrastruktur, dan transformasi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya