Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
HIV/AIDS tetap menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia, yang pada 2021 mencatat lebih dari 419 ribu kasus. Kota Surabaya menempati peringkat tertinggi di Jawa Timur dengan lebih dari 15 ribu kasus.
Infeksi HIV/AIDS tak hanya berdampak sistemik, tetapi juga sering kali memunculkan gejala di rongga mulut yang dapat menjadi indikator awal infeksi.
Dilansir dari laman Universitas Airlangga, infeksi HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, membuat penderitanya rentan terhadap infeksi oportunistik, kanker sekunder, dan gangguan saraf. Di rongga mulut, pasien HIV/AIDS dapat menunjukkan gejala seperti kandidiasis, leukoplakia berbulu, dan eritema gingiva linear, bahkan sebelum gejala sistemik muncul. Hal ini menjadikan rongga mulut sebagai “jendela” yang memudahkan deteksi dini infeksi HIV.
Dalam praktik sehari-hari, dokter gigi di Surabaya kerap menangani pasien dengan berbagai keluhan, mulai dari karies gigi, radang gusi, hingga sisa akar gigi. Tak jarang, pasien HIV/AIDS juga datang dengan keluhan semacam ini tanpa menyadari kondisi mereka. Oleh karena itu, pengetahuan dokter gigi tentang manifestasi oral HIV/AIDS menjadi sangat penting, baik untuk mendeteksi kasus baru maupun mencegah penularan.
Sebuah studi oleh tim Universitas Airlangga meneliti sejauh mana pengetahuan dokter gigi di Surabaya tentang manifestasi oral HIV/AIDS dan kaitannya dengan durasi praktik serta pengalaman mereka. Sebanyak 103 responden berpartisipasi dengan menjawab 20 pertanyaan seputar manifestasi oral HIV/AIDS. Hasilnya menunjukkan bahwa; 53,4% dokter gigi memiliki tingkat pengetahuan sedang, 26,2% memiliki pengetahuan baik dan 18,4% memiliki pengetahuan rendah.
Studi ini menemukan tidak ada hubungan signifikan antara durasi praktik dokter gigi dengan tingkat pengetahuan mereka. Bahkan, dokter gigi dengan pengalaman praktik kurang dari 10 tahun cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding mereka yang sudah berpraktik lebih dari 10 tahun.
Hal ini bisa dijelaskan oleh konsep fluid intelligence, kemampuan belajar dan memecahkan masalah baru yang cenderung menurun seiring bertambahnya usia, sedangkan crystallized intelligence, yang berkembang dari pengalaman rutin, kurang efektif dalam mengingat informasi baru dan jarang ditemui, seperti gejala oral HIV/AIDS.
Penelitian ini juga menilai apakah pengalaman merawat pasien HIV/AIDS atau mengikuti pelatihan lanjutan (Continuing Professional Development/CPD) terkait HIV/AIDS berpengaruh terhadap pengetahuan dokter gigi. Hasilnya serupa, tidak ada hubungan signifikan. Artinya, sekadar pengalaman atau pelatihan formal tidak otomatis meningkatkan pemahaman praktis mengenai manifestasi oral HIV/AIDS.
Dengan tingginya jumlah pasien HIV/AIDS di Surabaya, dokter gigi memegang peran kunci sebagai garda depan deteksi dini. Sayangnya, hasil studi menunjukkan bahwa pengetahuan mereka masih bervariasi dan tidak selalu bergantung pada pengalaman atau pelatihan formal. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan edukasi berkelanjutan, baik melalui pelatihan praktik langsung maupun pembaruan materi edukasi berbasis kasus nyata.
Selain itu, studi ini menggarisbawahi pentingnya kesadaran diri untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan, terutama dalam menghadapi penyakit menular seperti HIV/AIDS. Pengetahuan tentang manifestasi oral bukan hanya membantu mendiagnosis dini, tetapi juga dapat mencegah penularan lebih lanjut, mendukung kualitas hidup pasien, dan mendukung upaya pemerintah dalam mencapai target “Three Zeros” pada 2030: nol infeksi baru, nol kematian terkait AIDS, dan nol diskriminasi.
Sebagai kesimpulan, rongga mulut adalah “cermin” kesehatan tubuh, dan dokter gigi adalah “detektif” awal dalam mendeteksi infeksi HIV/AIDS. Studi di Surabaya ini menunjukkan perlunya peningkatan edukasi dan kesadaran akan pentingnya peran dokter gigi dalam penanggulangan HIV/AIDS. Dengan pengetahuan yang memadai, kita tidak hanya dapat membantu pasien, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan masyarakat yang lebih luas. (H-2)
Ketiga masalah itu adalah ketidakharmonisan susunan gigi (maloklusi), gigi berlubang, serta masih rendahnya kesadaran akan perawatan gigi preventif secara rutin.
Bedah ortognatik merupakan prosedur korektif untuk menangani kelainan posisi rahang yang dapat memengaruhi fungsi mengunyah, berbicara, bernapas, serta estetika wajah.
Menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak usia dini menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak.
Pembiaran bisa berpotensi menyebabkan pembengkakan gusi atau lubang semakin besar, dan pada akhirnya, kemungkinan terburuk adalah gigi harus dicabut.
Masyarakat cenderung menunda melakukan perawatan gigi karena kekhawatiran pada harga yang tidak pasti dan kurangnya informasi mengenai layanan yang dibutuhkan.
“Cakupannya yang tahun lalu dilakukan di puskesmas dan sekolah, tahun ini kita mau lakukan di tempat kerja. Termasuk DPR RI,”
Indonesia masih menghadapi ribuan kasus kusta tiap tahun. Empat strategi kunci dari deteksi dini hingga anti-stigma dinilai penting menuju target Zero Leprosy.
Prioritaskan kunjungan antenatal sejak trimester pertama, meskipun ibu hamil merasa sehat.
Tenaga kesehatan dibekali keterampilan VIA–DoVIA dan penggunaan AI HerLens dengan materi mencakup materi klinis, praktik lapangan, serta quality assurance.
Di sisi lain, lebih dari 20% kasus rawat jalan dan biaya klaim rawat jalan di Indonesia disebabkan infeksi saluran pernapasan atas akut.
Kota Bogor menargetkan 2.500 orang/ peserta pemeriksaan HPV-DNA yang akan diselesaikan pada periode 8–15 Desember 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved