Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MASYARAKAT umumnya takut jika memiliki kista pada organ tubuhnya. Padahal, kista tidak selamanya mengerikan. Terdapat kista yang tidak perlu obat ataupun operasi akan sembuh dengan sendirinya, yang disebut kista fisiologis. Namun, ada baiknya tidak menyepelekan kista ini dan segera konsultasikan ke dokter kandungan jika sudah merasakan gejalanya.
Terdapat perbedaan antara tumor dengan kista. Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Onkologi I Putu Agus Suarta Sp.OG, (K)-Onk menjelaskan tumor merupakan benjolan yang seharusnya tidak menjadi ada atau abnormal. Tumor dibagi dua jenis yaitu jinak dan ganas. Tumor jinak jika berada di indung telur bisa disebut kista. Jadi kista salah satu bentuk normalnya adalah tumor jinak. Sementara tumor ganas disebut dengan istilah kanker.
Baca juga: Mengenal Hemoglobin, ini akibatnya jika Kekurangannya
"Kista merupakan sebuah kantong yang berisi cairan seperti air, darah, rambut, tulang atau gigi yang menempel di ovarium , namun bisa juga kista menempel di indung telur. Ada kemungkinan seseorang dua kali terkena kista karena wanita memiliki 2 indung telur," kata dr Putu dalam Talkshow daring beberapa waktu lalu.
Seseorang yang terkena kista ovarium sering tidak terdiagnosis atau tidak bergejala sehingga sering disebut silent killer, dan terdeteksinya sering kali tidak disengaja. Namun ketika sudah besar sering terjadi gejala penekanan seperti nyeri di perut kanan bawah. Jika mengalami ini,maka sebaiknya segera cek ke dokter kandungan.
"Selain itu gangguan menstruasi seperti haid berlebihan, atau justru sedikit, disebut ada haid di antara haid. Ada efek penekanan jadi kencingnya sering, sedikit-sedikit, nyeri dan gangguan ke belakang atau buang air besar," ujarnya.
Kista terbagi menjadi dua yakni fisiologis dan patologis. Kista fisiologis atau normal adalah kista diameternya kurang dari 3cm, dindingnya tipis, dan isinya cairan. Putu menyarankan jika ditemukan kista ini tidak perlu diapa-apakan karena dalam 2-3 bulan akan pecah sendiri dan cairannya akan diserap ke dinding perut.
Ada juga kista patologis yang dibagi menjadi 2 jenis yakni kista cokelat dan kista dermoid. Kista cokelat sering ditemukan pada ibu-ibu dengan gejala khas nyeri haid yang luar biasa. Sementara kista dermoid bisa berisi rambut, tulang, gigi, dan cairan, sehingga banyak mengira pasien kista dermoid dianggap disantet.
"Penyebab tergantung dari jenis kista. Kista fisiologis karena sel telur yang seharusnya hari ke-14 terjadi ovulasi dia tidak terjadi, akhirnya mengandung cairan dan tidak pecah itu yang kista normal. Kista cokelat penyebabnya adalah dinding rahim yang kembali menempel di ovarium," ujarnya.
Untuk kista cokelat sangat tergantung pada kadar estrogen, jadi kemungkinan sangat kecil terjadi pada pasien anak atau pasien menopause karena kadar estrogen sudah habis. Jika dihubungkan dengan makanan maka kista cokelat akan sangat terpengaruh pada makanan dengan kadar estrogen tinggi seperti tempe, tahu, sari kedelai, junk food dan lainnya.
"Sementara kista fisiologis tidak ada hubungannya dengan makanan karena ini hanya berhubungan dengan sel telur," tuturnya.
"Selain itu kista juga bsa muncul jika sering mengikuti program hamil, namun hanya kista fungsional. Jadi tidak perlu ditakutkan yang harapannya pada 2-3 bulan akan pecah," pungkasnya. (H-3)
Tes darah Galleri yang dikembangkan perusahaan AS, Grail, berhasil mendeteksi lebih dari 50 jenis kanker dalam uji klinis di Amerika Utara.
Demi mendalami perannya sebagai Shella Selpi Lizah, seorang pejuang kanker ovarium, Mawar De Jongh rela menurunkan berat badan hingga 6 kilogram dalam waktu dua bulan.
Louise Altese-Isidori, 50, asal AS, didiagnosis kanker ovarium stadium 4B tanpa gejala apa pun.
Studi PAOLA-1 menunjukkan pasien HRD-positif yang menjalani maintenance therapy dengan Olaparib dan Bevacizumab memiliki masa bebas penyakit hingga 37 bulan.
Bahkan setelah menjalani operasi dan kemoterapi, tingkat kekambuhan kanker ovarium tetap tinggi dalam tiga tahun pertama.
Menurut data GLOBOCAN 2022, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan jumlah kasus kanker ovarium tertinggi di dunia.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Selain jumlah, persoalan lain yang disoroti adalah distribusi dokter yang belum merata. Ia menyebut sebagian besar pendidikan kedokteran masih terpusat di Pulau Jawa.
Polda Metro Jaya menetapkan dr. Richard Lee sebagai tersangka kasus perlindungan konsumen atas laporan Dokter Detektif (Doktif).
Kemenkes melepas ratusan relawan dokter dan tenaga kesehatan bantu penanganan bencana di sejumlah wilayah di Aceh.
Tempat praktik yang digunakan bukan merupakan aset pribadi, melainkan unit yang disewa secara harian maupun mingguan.
Universitas itu nantinya tidak hanya berfokus pada pendidikan dokter, tetapi menaungi berbagai disiplin ilmu kesehatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved