Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Imran Agus Nurali memaparkan, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sebanyak 95,5% orang Indonesia masih kurang mengonsumsi buah dan sayur dengan porsi yang cukup.
"Dari hasil Riskesdas 2018, bahkan dari tiga tahun sebelumnya, masalah kita adalah yang makan sayur dan buah masih relatif rendah, di bawah 10%," kata Imran, Senin (1/8).
Padahal, menurut Imran, kurang mengonsumsi buah dan sayur membuat tubuh menjadi kurang serat sehingga menyebabkan peningkatan angka penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, stroke, penyakit jantung, dan obesitas.
Baca juga: Makan Buah, Ini Porsi yang Ideal Menurut Pakar
"Ini (kurang makan sayur dan buah) menjadi salah satu penyebab dalam meningkatkan angka penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, stroke, jantung, dan menimbulkan obesitas juga karena kurang serat," ujar Imran.
Menurut Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor Prof Dodik Briawan, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya angka konsumsi buah dan sayur di masyarakat.
"Dari berbagai survei yang dilakukan di berbagai negara, masyarakat kita punya persepsi makan itu kenyang, tanpa memperhatikan komposisi, seperti harus ada sayur dan buah itu kadang-kadang lupa," papar Dodik.
Faktor lainnya, lanjut Dodik, adalah akses masyarakat terhadap ketersediaan buah di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, menyiapkan buah di meja makan dinilai tidak semudah menyiapkan lauk pauk karena buah harus segera dihabiskan setelah dikupas. Begitu juga dengan sayur yang sebaiknya segera dihabiskan setelah dimasak.
Tidak hanya itu, menurut Dodik, rasa dan tekstur buah yang beraneka ragam tidak selalu bisa diterima oleh lidah setiap orang terutama anak-anak.
"Kalau rasanya asam atau teksturnya kasar, enggak mau makan. Itu permasalahannya mengapa tingkat konsumsinya rendah," imbuh Dodik.
Untuk itu, Dodik menyarankan setiap keluarga perlu meningkatkan kreativitas agar setiap anggota keluarga terutama anak-anak bisa lebih semangat mengonsumsi buah. Misalnya, dengan membuat kreasi seperti salad hingga jus.
"Di Indonesia ini banyak sekali buah sehingga keluarga punya banyak pilihan. Perlu kreativitas terutama ibu-ibu agar buah bisa lebih diterima anak, terutama anak yang kurang suka asam dan tekstur yang banyak seratnya," imbuh Dodik.
Sementara itu, Imran mengatakan pemerintah juga terus melakukan upaya untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mengonsumsi buah dan sayur yaitu melalui program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Salah satu yang digalakkan dalam program tersebut adalah edukasi tentang gizi sehat dan seimbang termasuk di antaranya mengonsumsi buah dan sayur yang cukup dan mengurangi garam, gula, dan lemak.
"Kemudian ada Isi Piringku. Karbohidrat seperti nasi dan roti jangan full satu piring. Diameter piring maksimal 20 cm, nasinya kurang lebih 2 per 6 piring. Kemudian banyak buah dan sayur untuk memenuhi vitamin dan mineral, serat juga," tutup Imran. (Ant/OL-1)
Makanan beku kerap dinilai buruk untuk kesehatan. Padahal, ahli gizi menyebut beberapa jenis makanan beku tetap kaya nutrisi dan justru baik untuk menjaga kesehatan jantung.
Pare atau paria sudah tidak asing di lidah masyarakat Indonesia. Sayuran ini kerap hadir dalam semangkuk siomay atau batagor sebagai lalapan tambahan.
Sayuran merupakan makanan penting dalam pola makan sehat karena memberikan nutrisi yang mendukung pertumbuhan, menjaga daya tahan tubuh, serta mencegah berbagai penyakit.
kelompok usia Gen Z sangat jarang mengonsumsi buah dan sayuran. Berdasarkan Survei Kesehatan Nasional (SKI) 2023 menemukan bahwa konsumsi buah dan sayur
Sayur merupakan sumber penting serat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan.
Mengkonsumsi sayuran secara konsisten dapat mengurangi kemungkinan timbulnya uban, menurut temuan terbaru dari peneliti internasional.
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menegaskan capaian dan penghargaan inovasi daerah tidak boleh menjadi titik akhir dalam berinovasi.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Dengan teknologi bedah robotik, standar perawatan bedah tidak lagi dibatasi oleh jarak geografis, melainkan ditentukan oleh kualitas keahlian dan presisi teknologi.
Bupati Samosir Vandiko Gultom mengusulkan peningkatan daya dukung fasilitas kesehatan di Samosir agar sejalan dengan statusnya sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved