Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
Masifnya perkembangan teknologi informasi dinikmati semua kelompok usia, termasuk anak-anak. Sekarang ini banyak anak sudah piawai menggunakan gadget. Di sisi lain, pemakaian berlebihan bisa berdampak negatif, seperti kecanduan hingga penurunan kemampuan interaksi sosial.
Pola asuh tidak tepat menjadi awal anak kecanduan gadget. Dengan alasan kesibukan, orangtua mengenalkan gadget kepada buah hatinya sejak dini. Sehingga anak terbiasa memakai gadget hingga lupa waktu dan aktivitas lainnya.
“Sebisa mungkin anak dibatasi penggunaan gadget. Kita ajak aktivitas lain. Entah ajak liburan atau komunikasi. Setiap hari kita sediakan waktu untuk berkomunikasi dengan anak,” ujar Guru SMK YAPALIS Krian, Wakil Ketua Relawan TIK Sidoarjo, Moch. Sofi Asrifin di Kediri, Jawa Timur, Jumat (15/7).
Tanda kencanduan gadget, anak dapat lupa waktu dan menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Anak merasa tidak mau diganggu, sehingga tidak mau melakukan aktivitas lain yang seharusnya dilakukan. Di dalam pikirannya hanya bermain gadget tanpa memikirkan yang lain.
Orangtua harus mencoba masuk ke dunia anak untuk mencegah kecanduan gadget. Cari tahu minat dan bakatnya, kemudian mendukung secara penuh. Rangkaian kegiatan positif diyakini menjauhkannya dari gadget. “Sebisa mungkin kasih kegiatan positif yang bisa menjauhkannya dari gadget,” kata Asrifin. (OL-12)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved