Kamis 16 Juni 2022, 11:15 WIB

Sampah Mikroplastik Ancam Ekosistem dan Kesehatan Manusia

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Sampah Mikroplastik Ancam Ekosistem dan Kesehatan Manusia

ANTARA/Iggoy el Fitra
Anak-anak bermain di antara sampah di Sungai Batang Arau, Padang, Sumatra Barat.

 

DOSEN Oseanografi dan Biologi Laut Fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Mufti Petala Patria mengatakan sampah mikroplastik mengancam ekosistem dan kesehatan manusia.

"Produksi plastik yang tinggi sebagian besar akan menjadi sampah. Sekitar 8 juta ton sampah plastik akan dibuang atau terdeposit di laut. Sampah di laut banyak yang terdampar di pesisir pantai dan banyak juga yang mengambang terbawa arus di permukaan laut. Plastik-plastik di lautan tersebut sangat mengganggu hewan-hewan laut," jelas Mufti dalam keterangan resmi, Rabu (15/6).

Ia mencontohkan sampah jaring nelayan yang menjerat hewan laut seperti penyu, hiu, dan paus. Selain itu, sampah di laut juga dapat dianggap oleh hewan laut sebagai makanan dan ketika termakan akan mempengaruhi sistem pencernaan hingga menyebabkan kematian pada hewan tersebut.

Baca juga: Temuan Mikroplastik dalam Darah, Indonesia Harus Tuntaskan Masalah Sampah

Mufti juga menyampaikan terdapat juga jenis sampah plastik yang membahayakan bagi biota dan ekosistem laut yaitu mikroplastik. 

Mikroplastik merupakan plastik dengan ukurannya lebih kecil dari 5 mm. Mikroplastik sendiri dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu primary dan secondary microplastic.

Dikatakannya, seperti halnya sampah plastik biasa, mikroplastik juga dapat masuk ke dalam tubuh hewan karena dianggap sebagai makanan. Salah satunya adalah kerang laut yang menyaring air laut untuk mengambil bahan makanannya. 

Berdasarkan hasil penelitiannya di Muara Kamal, dalam satu kerang hijau dapat mengandung 7 hingga 469 partikel mikroplastik.

Selain itu, mikroplastik juga dapat masuk ke dalam tubuh manusia dari makanan laut yang dikonsumsi. Hal itu menjadi seperti siklus, manusia menghasilkan primary dan secondary microplastic, lalu mikroplastik tersebut terbawa arus hingga lautan dan dimakan oleh hewan laut yang kemudian dikonsumsi oleh manusia kembali.

"Hasil riset pada beberapa hewan percobaan, mikroplastik akan berpengaruh pada perubahan kromosom yang dapat menyebabkan infertilitas, obesitas, dan kanker. Selain itu, mikroplastik juga dapat menyebabkan respon imun yang tidak normal. Hal tersebut mungkin dapat terjadi pula pada manusia," ujar Mufti.

Oleh sebab itu, perlu kesadaran dan keseriusan dalam mengatasi masalah mikroplastik yang tidak hanya mengancam ekosistem laut tetapi juga kesehatan manusia.

Mufti mengatakan hal utama yang bisa dilakukan adalah mengurangi penggunaan plastik, menggunakan kembali plastik (recycle), berpartisipasi dalam kegiatan membersihkan sampah di sungai atau pantai,
mengurangi penggunaan microbeads dalam produk kecantikan, ikut mengampanyekan upaya mengurangi penggunaan plastik, dan mendukung organisasi yang berperan aktif dalam mengurangi sampah plastik. (Ant/OL-1)

Baca Juga

Antara

70,65% Lansia Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Lengkap

👤MGN 🕔Rabu 01 Februari 2023, 22:16 WIB
Sebanyak 18.323.786 lansia telah menerima vaksin dosis pertama. Jumlah itu sama dengan 85,02 persen dari...
Dok. ICM

Sejumlah Apartemen Kelolaan Inner City Management Meriahkan Perayaan Imlek 2574

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 01 Februari 2023, 21:58 WIB
“Dengan latar belakang yang cukup beragam, momen-momen seperti ini diharapkan dapat menjaga keharmonisan yang terjalin antar penghuni...
Ist

Keberhasilan FOLU Net Sink 2030, Kerja Bersama Semua Pihak

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 01 Februari 2023, 21:17 WIB
Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan sektor FOLU sendiri ditargetkan dapat berkontribusi hampir 60% dari total target penurunan emisi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya