Selasa 29 Maret 2022, 11:40 WIB

Temuan Mikroplastik dalam Darah, Indonesia Harus Tuntaskan Masalah Sampah

Faustinus Nua | Humaniora
Temuan Mikroplastik dalam Darah, Indonesia Harus Tuntaskan Masalah Sampah

dok.ant
Sampah plastik yang dibuang sembarangan mencemari lingkungan.

 

PARA peneliti menemukan kandungan partikel plastik dalam darah manusia untuk pertama kalinya. Sebabnya 77% sampel darah yang diuji pada studi ilmiah diketahui mengandung polusi mikroplastik.

Menurut studi tinjauan sejawat yang dipublikasikan pada jurnal Environment International, polietilena tereftalat (PET) adalah jenis plastik yang paling banyak ditemukan pada aliran darah manusia. Plastik PET paling sering digunakan untuk memproduksi botol minuman, kemasan makanan dan pakaian.

"Dari penemuan itu menunjukkan bahwa partikel-partikel tersebut melakukan perjalanan ke seluruh tubuh. Bahkan partikel kecil itu mungkin bersarang di organ-organ tubuh," ujar Chief Operating Officer Common Seas Indonesia, Celia Siura dalam keterangannya, Selasa (29/3).

Studi ini dilakukan berdasarkan instruksi Common Seas dan dipimpin ilmuwan dari Vrije Universiteit, Amsterdam. Studi ini mengamati darah dari 22 orang yang diuji untuk mengetahui kandungan lima jenis plastik-polimetil metakrilat (PMMA), polipropilena (PP), polistirena (PS), polietilena (PE), dan polietilena tereftalat (PET).

Diketahui bahwa 17 dari 22 donor yang diamati mengandung sejumlah besar partikel plastik dalam darahnya. Para pegiat yakin bahwa temuan baru ini menimbulkan kekhawatiran serius atas dampak plastik terhadap kesehatan.

"Para peneliti telah membuktikan bahwa partikel plastik dapat diangkut ke organ lainnya melalui aliran darah dan dapat menyebabkan respons peradangan. Mereka menyebut partikel mikroplastik itu bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, air, serta udara yang dihirupnya," imbuhnya.

Dijelaskannya, temuan tersebut tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Karena polusi plastik di Indonesia sangat tinggi dengan sampah plastik berada di sungai, di laut, di darat dan di daerah pertanian. Hal ini meningkatkan kemungkinan dikonsumsi hewan ternak dan ikan yang kemudian dimakan manusia.

Selain itu, di Indonesia, plastik sering bersentuhan dengan makanan misalnya, sayuran, buah-buahan, air, minuman ringan, daging, dan ikan. Sehingga, cara terbaik untuk mengurangi paparan mikroplastik itu adalah dengan mengurangi jumlah sampah plastik.

Namun Indonesia memiliki masalah plastik yang luas dan berkembang karena infrastruktur pengelolaan limbah yang buruk, kurangnya alternatif plastik yang layak, dan impor limbah. Indonesia adalah rumah bagi dua sungai paling tercemar di dunia dan lebih dari 80% kota di Indonesia akan kehabisan ruang TPA dalam tiga tahun ke depan.

“Sampah plastik mengambil alih negara kita. Melalui karya kami, kami melihat secara langsung kehancuran lingkungan, sosial, dan ekonomi yang disebabkan oleh aliran plastik ke sungai Brantas. Sungguh mengejutkan mengetahui hari ini bahwa plastik juga ada dalam darah kita, mengalir melalui tubuh kita,” kata Celia Siura.

Ia menyebut, Common Seas sebagai LSM internasional yang memiliki misi untuk mengatasi polusi plastik, dengan dukungan dari pemerintah daerah dan 40 juta komunitas PC Muslimat NU yang kuat. Pihaknya akan bekerja sama untuk membantu menciptakan Sungai Brantas yang bersih, aman, dan sehat.

“Sungai Brantas merupakan salah satu sungai paling tercemar di dunia. Common Seas mencatat, terdapat 1,5 juta sampah popok sekali pakai yang dibuang di Sungai Brantas setiap harinya. Pada tahun 2023, Common Seas akan mencegah pembuangan 62,4 juta popok sekali pakai ke Sungai Brantas,” terangnya.

“Mereka melatih penjahit lokal dan penyandang disabilitas untuk membuat dan menjual popok yang dapat dipakai kembali, menjangkau ribuan keluarga dengan cepat melalui jaringan yang ada, dan mengurangi jumlah sampah popok yang masuk ke sungai,” sambung Celia Siura.

Common Seas, menurutnya, akan mempekerjakan lebih dari seratus ibu rumah tangga yang tinggal di sepanjang sungai. “Proyek ini akan menghasilkan sekitar IDR 130 miliar keuntungan ekonomi ke daerah tersebut, dan keluarga juga dapat menghemat biaya dengan beralih ke popok yang dapat dipakai kembali,” pugkasnya.

Sebagai informasi, Common Seas merupakan perusahaan sosial yang menangani krisis polusi plastik dengan mendorong kebijakan baru, berinvestasi dalam ekonomi sirkular, dan mengkatalisis perubahan budaya dalam cara kita membuat, menggunakan, dan membuang plastik. Common Seas memiliki misi untuk mengurangi jumlah plastik yang diproduksi dan mencegah masuknya sampah plastik ke sungai dan laut kita secara cepat dan signifikan. (OL-13)

Baca Juga: Dorong Komitmen Berkelanjutan Industri di Tanah Air

Baca Juga

Dok Breaking Barriers Initiative.

WM Mann Foundation Berikan Beasiswa untuk Penyutradaraan Teater di Skotlandia

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 17:40 WIB
Hari ini pelaku seni teater Indonesia bisa bergembira dengan hadirnya Breaking Barriers Initiative atau ‘Inisiatif Mendobrak...
MI/ARDI

Tim Ahli Sebut IKN akan Jadi Kota Cerdas Berkelanjutan

👤Ardi Teristi Hardi 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 17:38 WIB
IKN di Kaltim diharapkan mengubah paradigma pembangunan dari Jawa sentris menjadi Indonesia...
MGN/Marianus Marselus

KLHK: Kenaikan Tiket TN Komodo untuk Kepentingan Konservasi dan Pendapatan Daerah

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 11 Agustus 2022, 17:35 WIB
Kenaikan tarif masuk Taman Nasional Komodo menjadi Rp3,75 juta perorang dalam waktu satu tahun menuai banyak komentar dari berbagai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya