Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Mengapa Tanah Perkotaan Kini Berada dalam Titik Kritis?

Thalatie K Yani
26/1/2026 13:02
Mengapa Tanah Perkotaan Kini Berada dalam Titik Kritis?
Ilustrasi(freepik)

Di balik gedung pencakar langit dan jaringan jalan yang padat, kesehatan tanah perkotaan sering kali terlupakan. Padahal, tanah adalah fondasi yang menjaga lingkungan kota tetap layak huni. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kombinasi panas yang meningkat, debu plastik, dan residu garam mulai merusak fungsi tanah secara permanen, sebuah kerusakan yang sering kali tidak terlihat hingga sistemnya benar-benar gagal.

Ketika tanah kehilangan kemampuannya untuk "bernapas" dan menyerap air, dampaknya terasa langsung bagi warga kota: risiko banjir meningkat karena air larian (runoff) yang lebih cepat, sementara pepohonan kota kehilangan tumpuan untuk bertahan hidup.

Tekanan yang Saling Bertabrakan

Penelitian yang dipimpin oleh Rebecca Rongstock dari Rillig Group di Freie Universität Berlin (FU Berlin), menyoroti bagaimana berbagai tekanan lingkungan perkotaan berinteraksi satu sama lain. Menggunakan ruang iklim yang dikontrol ketat, tim peneliti menguji 140 sampel tanah dengan enam faktor stres yang biasa ditemui di wilayah urban.

Hasilnya menunjukkan sebuah anomali yang mengkhawatirkan: faktor yang semula dianggap membantu, justru bisa berbalik menjadi beban tambahan ketika bertabrakan dengan tekanan lain secara bersamaan.

Paradox Suhu Panas dan Garam

Suhu yang lebih hangat biasanya dianggap dapat mempercepat metabolisme mikroba dalam kondisi terkontrol. Namun, dalam ekosistem kota yang kompleks, panas justru menjadi bumerang.

"Eksperimen berulang kali menunjukkan bahwa perlakuan tunggal dengan faktor perubahan global, seperti suhu yang lebih tinggi, dapat memberikan efek positif pada tanah," kata Rongstock.

Namun, dalam campuran stres yang lengkap, pemanasan justru mempercepat penguapan. Hal ini menyebabkan polutan terkonsentrasi dan merusak struktur mikroskopis tanah yang seharusnya menahan air dan udara.

Kondisi ini diperparah oleh penggunaan garam jalan saat musim dingin. Air tanah yang asin menarik kelembapan keluar dari sel-sel mikroba, menghambat pertumbuhan, dan merusak enzim yang berfungsi membangun struktur tanah yang sehat.

Bahaya Mikroplastik dan Kekeringan

Selain garam dan panas, tanah kota juga dijejali dengan fragmen ban dan debu plastik. Meski mikroplastik mungkin tidak terlihat berbahaya secara langsung, perannya berubah drastis saat tanah mengalami kekeringan. Tanah yang kering cenderung menolak air (hidrofobik), menyebabkan hujan hanya menggenang di permukaan dan meningkatkan risiko banjir bandang.

Penelitian ini mencatat bahwa polutan seperti surfaktan (zat sisa deterjen) yang awalnya tidak berbahaya, menjadi racun bagi mikroba ketika aktivitas biologis mereka sudah menurun akibat stres lainnya.

Solusi: Memutus Rantai Stres

Kabar baiknya, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature ini memberikan petunjuk praktis untuk restorasi lahan. Menghilangkan satu faktor stres saja—misalnya dengan mengurangi penggunaan garam atau menurunkan suhu melalui penghijauan—terbukti dapat membantu tanah pulih lebih cepat.

"Alasan utamanya adalah kita tidak tahu bagaimana faktor-faktor stres berinteraksi ketika mereka terjadi bersamaan," ujar Rongstock.

Melindungi kesehatan tanah kota memerlukan kebijakan yang tidak hanya mengatasi satu masalah, tetapi mampu mengurangi tekanan perkotaan yang tumpang tindih secara kolektif. Tanpa tanah yang sehat, kota akan kehilangan kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan iklim di masa depan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya