Rabu 08 Juni 2022, 09:15 WIB

Kolaborasi Guru dan Pustakawan Dukung Keberhasilan Pembelajaran Siswa

Faustinus Nua | Humaniora
Kolaborasi Guru dan Pustakawan Dukung Keberhasilan Pembelajaran Siswa

ANTARA/NOVRIAN ARBI
Pengunjung membaca buku di Perpustakaan Bung Karno di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jawa Barat, Senin (6/6/2022).

 

KERJA sama antara guru dan pustakawan merupakan aspek yang signifikan dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran siswa. Meskipun hal tersebut tampaknya masih perlu dukungan dari seluruh unsur yang terlibat dalam aktivitas belajar di sekolah.

Dalam jurnal yang ditulis oleh peneliti Universitas Airlangga (Unair) Erina Wahyu Anggreini dan Fitri Mutia, guru dinilai belum melihat pustakawan sebagai mitra potensial dalam proses akademik. Seringkali pustakawan hanya dilihat sebagai penyedia dokumen dan perpustakaan sebagai fasilitas pendukung di lingkungan sekolah, bukan sebagai mitra yang berperan penting bagi keberhasilan belajar para siswa.

"Kerjasama yang baik antara guru dan pustakawan bukanlah hal yang sepele karena banyak kasus memperlihatkan kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat dalam banyak hal diantaranya meningkatkan minat baca siswa, kemandirian dalam belajar, mengembangkan literasi informasi, prestasi siswa, dan sebagainya," tulisnya dalam jurnal berjudul 'Trust, Collegiality, and Communication Between Teachers and Librarians to Support Student Learning' seperti dikutip dari lama Unair, Selasa (7/6).

Baca jugaPeran Penting Probiotik untuk Kesehatan dan Pencernaan

Baca jugaUPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar Semarakkan Bulan Bung Karno

Beberapa hasil penelitian tentang kerja sama antara guru dan pustakawan menunjukkan bahwa semakin sering dilakukan kerja sama antara guru dan pustakawan maka semakin tinggi pula pemanfaatan layanan dan koleksi di perpustakaan tersebut. Proses pembelajaran akan lebih maksimal apabila guru dan pustakawan didasari dengan rasa saling percaya.

Namun pada kenyataannya pustakawan masih kurang percaya diri dalam bekerjasama dengan guru. Hal tersebut dikarenakan profesi pustakawan masih dipandang rendah oleh masyarakat sehingga menjadikannya kurang percaya diri.

Selain itu kolegialitas antara guru dan pustakawan juga masih dinilai rendah, seperti minimnya kegiatan diskusi bersama antara guru dan pustakawan. Hubungan antara keduanya juga terpisah oleh jarak pada ruang kerja yang berbeda, sehingga menyebabkan kurangnya komunikasi guru dan pustakawan.

"Intensitas komunikasi menjadi salah satu masalah yang menyebabkan keduanya tidak bisa bekerjasama dalam mendukung pembelajaran siswa. Guru dan pustakawan cenderung hanya melakukan komunikasi terkait kebutuhan buku yang diperlukan dalam pembelajaran, padahal pustakawan memiliki banyak pengetahuan terkait literasi yang dapat membantu proses pembelajaran menjadi lebih maksimal," jelasnya.

Pada kenyataannya di sekolah dalam perencanaan dan pengembangan kurikulum belum terdapat kerjasama antara pustakawan dan pihak pembuat kurikulum. Kalangan pendidik seringkali menginterpretasikan bahwa profesi pustakawan hanyalah sebagai teknisi yang tidak perlu dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar, apalagi dalam kegiatan penyusunan kurikulum sekolah.

Guru dianggap lebih memiliki keterampilan dalam mengajar dan mengetahui seluk beluk kurikulum. Hal tersebut juga menyebabkan banyak pustakawan yang tidak terlalu tertarik untuk bekerja sama dengan pihak sekolah pada pengembangan kurikulum.

Baca juga: Perkuat Koordinasi, Ditjen GTK Segera Bahas Rekrutmen dan Formasi PPPK dengan KemenPAN-RB

Apabila dilihat kedepannya, sekolah akan lebih baik jika dalam merencanakan suatu kurikulum bekerja sama dengan perpustakaan. Hal tersebut dikarenakan pustakawan memiliki pengetahuan akan seluruh koleksi yang dimiliki perpustakaan serta mengetahui informasi yang up to date.

"Apabila terdapat kerjasama antara guru dan pustakawan maka hal tersebut akan dapat menunjang proses pembelajaaran siswa untuk memanfaatkan informasi yang ada pada perpustakaan serta dapat meningkatkan lulusan yang kompeten pada sekolah," imbuhnya.

Aspek pertama yang penting dalam kerjasama adalah kepercayaan antar individu dan inisiatif dari kedua belah pihak. Berikutnya, yaitu kolegialitas yang merupakan hubungan kerjasama antar rekan kerja yang dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk proses belajar mengajar. Aspek penting lainnya yang dapat menunjang keberhasilan proses belajar siswa yaitu adanya komunikasi yang baik antara guru dan pustakawan sehingga tercapai proses belajar yang efektif.

"Kerjasama akan berhasil jika kepercayaan, kolegialitas, dan komunikasi terjalin dengan baik antara guru dan pustakawan. Hal ini bukanlah tujuan dari salah satu pihak, namun merupakan tujuan sekolah untuk membangun lingkungan belajar yang saling mendukung melalui kerjasama. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kerjasama antara guru dan pustakawan penting dilakukan untuk mencapai tujuan dan mendukung proses pembelajaran, meskipun keduanya memiliki peran yang berbeda," tandasnya. (H-3)

Baca Juga

Ist

Rayakan Malam Tahun Baru, Bigland Hotel Bogor Gelar Carnival Land

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 06 Desember 2022, 11:03 WIB
BIgland Hotel Bogor kembali menyajikan perayaan meriah untuk seluruh tamu pada malam tahun baru, dengan memberikan penampilan yang seru...
Newsx.com

Perempuan dengan IMT Tinggi Berisiko Alami Long Covid-19

👤Basuki Eka Purnama 🕔Selasa 06 Desember 2022, 11:00 WIB
Long covid-19 atau dikenal sebagai sindrom pasca-covid-19 merupakan kondisi saat gejala selama atau setelah infeksi covid-19 bertahan...
Ist/PP Muhammadiyah

Ikut Pelatihan STEM di Singapura, Kepsek Muhammadiyah Siap Terapkan Terobosan Baru 

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 06 Desember 2022, 10:50 WIB
Sebanyak 17 kepala sekolah Muhammadiyah tuntas mengikuti pelatihan STEM dan Digitalisasi di Nanyang Polytechnics International (NYPI)...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya