Senin 18 April 2022, 16:37 WIB

RI tidak Punya Basis Data yang Kuat Soal Agama dan Kepercayaan

Faustinus Nua | Humaniora
RI tidak Punya Basis Data yang Kuat Soal Agama dan Kepercayaan

Antara
Warga berjalan di kawasan Gereja Nazaret dan Masjid Al Azhar yang berlokasi di Palangka Raya.

 

INDONESIA dinilai tidak memiliki data yang komprehensif terkait enam agama dan kepercayaan. Hal itu diungkapkan Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan, Sosial, dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional BRIN Ahmad Najib Burhani.

Alhasil, sulit mendapatkan informasi yang lengkap dalam menentukan sebuah kebijakan. “Kita tidak memiliki data yang komprehensif tentang enam agama di Indonesia. Apalagi dengan berbagai agama di luar enam agama, yang memiliki perwakilan di Kementerian Agama,” ujar Ahmad dalam keterangan resmi, Senin (18/4).

Sejumlah data yang dimiliki enam agama di Indonesia, lanjut dia, pun tidak mempunyai informasi yang lengkap. Kondisi itu menjadi salah satu pemicu prejudice stereotype. Lalu, ada juga stigma tentang berbagai hal di luar enam agama di Indonesia.

Baca juga: PGI: Jadikan Ramadan dan Paskah sebagai Momen Memupuk Toleransi

Apabila menyoroti agama minoritas di Indonesia, jumlahnya juga selalu berubah. Menurut Ahmad, ada dinamika dengan agama minoritas atau agama kepercayaan di Indonesia, yang jumlahnya sangat banyak.

Begitu juga dengan aspek kercayaan di Indonesia, pun jumlahnya relatif banyak. Seperti bahasa memiliki data, itu juga tidak semuanya memiliki deskripsi dan catatan yang lengkap. 

Direktorat Kepercayaan memiliki data, namun salah satu kelemahannya data tersebut tidak bisa diakses oleh masyarakat. Khususnya, mereka yang mau mengkaji tentang agama di Indonesia.

“Data klasifikasinya kadangkala secara akademik masih campur aduk, antara kelompok kepercayaan tertentu. Ada yang bagian dari agama dan ada pula penghayat kepercayaan. Masih bingung membaca data tersebut,” pungkas Ahmad.

Pihaknya menyoroti beberapa kelemahan terkait kepercayaan di Indonesia. Tugas BRIN untuk memperkuat data, sehingga memudahkan peneliti dalam menjalankan tugasnya. “Kita perlu melakukan pendataan lebih konprehensif dan sistematis,” imbuhnya.

Baca juga: Wapres Tekankan Moderasi beragama sebagai Kunci jaga Keutuhan Bangsa

Jumlah data yang bergabung dengan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) lebih dari 100. Lalu, di luar MLKI juga masih ada. “Apabila pergi ke Papua, di sana banyak bahasa dan juga kepercayaan lokal. Ada provinsi lain yang selama ini belum tersentuh penelitian etnografis,” kata dia.

Ahmad berharap proyek ini dilanjutkan Pusat Riset Agama dan Kepercayaan. Dalam hal ini, untuk mendata, mengumpulkan dan memberikan deskripsi tentang agama dan kepercayaan di Indonesia. 

Sehingga, pada 2024-2025, Indonesia sudah memiliki data komprehensif dan kuat tentang paham keagamaan. “Di samping itu, akan memudahkan proses selanjutnya saat penelitian, pengembangan dan dalam membuat insight baru,” tandas Ahmad.(OL-11)


 

Baca Juga

AFP/PATRICK HERTZOG

Kembangkan Obat Kanker, Peneliti BRIN Desain Nano Partikel NLCs

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 28 Juni 2022, 17:15 WIB
BRIN berusaha mendesain nano partikel yang dapat meningkatkan bioavailabilitas obat anti kanker yang umumnya mengandung...
ANTARA/ Fakhri Hermansyah

Mensos Beri Bantuan Jemaat Penyandang Disabilitas HKBP Rawalumbu

👤Rudi Kurniawansyah 🕔Selasa 28 Juni 2022, 16:45 WIB
Bantuan yang diserahkan berupa alat kursi roda elektrik, alat bantu dengar, kursi roda adaptif, tongkat tuna netra, kaki tangan palsu,...
Antara

Libur Sekolah, Ini Rekomendasi Tempat Wisata dari Menparekraf

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 28 Juni 2022, 16:19 WIB
Dirinya mengingatkan masyarakat yang akan berlibur pada momentum libur sekolah, tetap menjaga kewaspadaan terhadap pandemi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya