Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mendorong para periset untuk melibatkan kampus/perguruan tinggi dalam kegiatan riset mereka. Hal ini sebagai upaya mengatasi keterbatasan sumber daya riset yang saat ini masih tersebar di banyak tempat dan sedang dalam proses pengalihan ke BRIN.
Salah satu riset yang dapat melibatkan kalangan kampus adalah riset bidang perikanan perairan umum daratan.
“Terkait dengan kajian stok perikanan perairan umum daratan, menurut saya, harus melibatkan kampus. Seharusnya, kita (periset) yang mendesain risetnya, pelaksanaan dan monitoringnya melibatkan mahasiswa,” ungkap Handoko dalam keterangan resmi, Sabtu (2/4).
Baca juga: BRIN Kembangkan Upaya Deteksi Produk Halal yang Cepat
Di sisi lain, lanjut Handoko, keterlibatan kampus juga sekaligus mendidik generasi muda untuk melakukan kegiatan riset yang tidak bisa serta merta diajarkan di bangku kuliah.
“Karena riset itu learning by doing, yang tidak bisa diajarkan di bangku kuliah. Kita tidak perlu sumber daya banyak. Walaupun sedikit, tapi harus excellence, dengan melibatkan kampus,” tegasnya.
Dalam rangkaian kunjungannya ke Sumsel, Handoko meninjau Kantor Arkeologi Sumsel. Ia menerangkan, lokasi itu akan menjadi kantor coworking space Kawasan BRIN Palembang.
Terkait riset arkeologi dan bahasa, Handoko meminta para periset untuk fokus pada mekanisme kerja dan substansi riset apa yang akan difokuskan.
Penyiapan tahapan atau Standard Operational Procedure (SOP) sangat diperlukan, termasuk digitalisasi pada riset arkeologi dan bahasa.
“Kalau ada koleksi masuk, apa yang harus dilakukan. Misalnya artefak, harus ada digital 3D, termasuk mengetahui usia artefaknya dengan carbon dating, sehingga semua datanya komplit. Kalau orang mau melakukan riset terkait, tinggal mengambil data yang ada, tanpa harus memegang artefak tesebut yang bisa berpotensi merusak,” kata Handoko.
Handoko juga mendorong para periset untuk segera mengambil jenjang S3 untuk memperkuat kapasitas SDM. Menurutnya, riset arkeologi dan bahasa menjadi kunci dalam mengatasi masalah di masa mendatang.
“Riset arkeologi dan bahasa sangat penting dalam mengungkap kearifan lokal, mengubah sejarah, bahkan sebagai bahan untuk memperkuat diplomasi,” pungkasnya. (OL-1)
SEPERTI hujan di tengah hari, ketika mendengar dilantiknya Prof Arif Satria sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko angkat bicara soal aksi unjuk rasa sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di depan Kantor BRIN, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Selasa (27/5).
Rencana efisiensi akan dilakukan antara lain untuk alat tulis kantor sebesar 90%, percetakan dan souvenir 75,9%, sewa gedung, kendaraan dan peralatan 73,3%, perjalanan dinas 53,9%.
Dunia profesional tidak hanya membutuhkan ijazah tapi juga keberanian, passion, kreativitas, inovatif dan adaptif untuk mengikuti perubahan dan perlu membentuk perbedaan.
Kerja sama difokuskan melalui pembiayaan dari pemerintah Indonesia melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.
BRIN mempunyai fungsi sebagai funding agency dalam pelaksanaan riset dan inovasi di Indonesia, bukan hanya untuk peneliti BRIN namun dapat diakses oleh untuk masyarakat umum.
Penelitian ini menawarkan rekomendasi yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Para ilmuan menemukan bahwa bagian otak yang awalnya dianggap hanya memproses penglihatan ternyata dapat memicu gema sensasi sentuhan.
Resiliensi petani merupakan syarat penting jika pengelolaan usaha kelapa di provinsi tersebut ingin berkelanjutan.
Hasil penelitian menemukan persoalan kental manis bukan hanya perihal ekonomi, tetapi juga regulasi yang terlalu longgar.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved