Senin 14 Februari 2022, 10:27 WIB

MSG bukan Penyebab Obesitas

Basuki Eka Purnama | Humaniora
MSG bukan Penyebab Obesitas

Freepik
Ilustrasi MSG

 

MASAKAN dengan bumbu umami yang ditambahkan penyedap rasa Monosodium Glutamate (MSG) sering dikaitkan dengan sebagai faktor penyebab obesitas.

Nyatanya, menurut ahli gizi, yang juga Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof Hardinsyah, ada banyak faktor pemicu obesitas.

"Selain pemicu dari potensi genetik, juga ada potensi gangguan metabolisme atau juga ketidakseimbangan hormonal. Sedangkan terkait MSG, sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menyebut bahwa MSG bisa membuat seseorang menjadi obesitas," kata Prof Hardinsyah dalam webinar: Benarkah Umami Menyebabkan Obesitas?, dikutip Senin (14/2).

Baca juga: Kasus Stunting dan Obesitas Pada Anak di Kalsel Masih Tinggi

"Berdasarkan sejumlah penelitian yang dimuat dalam jurnal penelitian seperti di Tiongkok dan Vietnam, tidak ada yang dapat membuktikan penggunaan MSG menyebabkan overweight atau obesitas," kata Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, pakar pangan Prof Ahmad Sulaemanmengatakan MSG sebagai penyedap rasa memiliki banyak manfaat.

MSG terdiri dari asam glutamat 78%, natrium 12%, dan air 10%, dan merupakan zat gizi. Asam glutamat banyak terkandung dalam bahan makanan sehari-hari seperti telur, ikan, daging, dan juga sayuran.

"MSG bukan unsur kimia yang berbahaya. Bahan bakunya dari tetes tebu melalui proses fermentasi," kata dia.

Menurut dia, MSG juga baik sebagai pengganti garam karena bisa membuat makanan memiliki cita rasa yang tinggi, namun rendah garam.

"Kandungan natrium pada MSG itu hanya sepertiga kandungan natrium pada garam dapur normal, dan sudah banyak juga penelitian terdahulu yang membuktikan bahwa penggunaan MSG bermanfaat membantu penurunan asupan garam namun tetap menjaga palatabilitas makanannya," kata Profesor Ahmad.

"Bahkan sebenarnya, natrium dalam garam itu justru sampai 40%, atau tiga kali lebih tinggi dari MSG, yang artinya, garam lebih berisiko membuat seseorang mengalami hipertensi atau darah tinggi daripada MSG," kata dia.

Grant Senjaya, Head of Public Relation Department PT Ajinomoto Indonesia mengatakan saat ini pihaknya memiliki kampanye Bijak Garam yang bertujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya diet rendah garam dan mengajak keluarga Indonesia untuk hidup lebih sehat dengan mengurangi asupan atau penggunaan garam dalam memasak.

"Salah satu faktor kendala sulitnya mengurangi garam dalam masakan adalah membuat rasanya tetap lezat dan tidak hambar. Kampanye Bijak Garam ini bisa menjadi solusi cermat dalam mengurangi penggunaan garam dalam setiap masakan dengan mempertahankan cita rasa yang tetap seimbang," kata dia. (Ant/OL-1)

Baca Juga

freepik

Ingat, Serat tidak Hanya Berasal dari Buah dan Sayur

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 02 Februari 2023, 04:45 WIB
Konsumsi protein nabati dapat meningkatkan asupan serat karena di dalam sumber protein nabati terdapat pula...
Ist

Menteri LHK dan Dubes RI UNESCO: Status 'in Danger TRHS' Segera Diakhiri

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 01 Februari 2023, 22:32 WIB
TRHS merupakan salah satu warisan alam dunia Indonesia yang terdiri dari TN Bukit Barisan Selatan, TN Kerinci Seblat dan TN Gunung Leuser...
Antara

70,65% Lansia Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Lengkap

👤MGN 🕔Rabu 01 Februari 2023, 22:16 WIB
Sebanyak 18.323.786 lansia telah menerima vaksin dosis pertama. Jumlah itu sama dengan 85,02 persen dari...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya