Sabtu 05 Februari 2022, 09:55 WIB

Kematian Akibat Varian Delta dan Omikron Perlu Dikaji Lebih Dalam

HUMANIORA | Humaniora
Kematian Akibat Varian Delta dan Omikron Perlu Dikaji Lebih Dalam

MI/ Ramdani
COVID-19 TERUS MELONJAK: Petugas medis melakukan tes swab PCR warga dari dalam mobil di Swab PCR FastLab Bumame, Kebon Jeruk, Jakarta.

 

JUMLAH angka kematian sebanyak 42 warga akibat covid-19 pada 4 Februari 2022 patut menjadi perhatian semua pihak.  Tercatat sebulan yang lalu, 4 Januari 2022  ada 3 orang yang meninggal akibat covid-19, artinya angka kematian harian sudah naik lebih dari 10 kali lipat.

Atas tren mortalitas dalam sebulan terakhir ini, Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI dan mantan Direktur WHO Asia Tenggara menyarankan perlu dilakukan analisis yang lebih mendalam terhadap dua varian tersebut yang kini semakin menyebar di Indonesia. "Memang kenaikannya jauh lebih rendah dari trend peningkatan kasus, tetapi kejadian wafat kan amat menyedihkan dan tidak dapat tergantikan, jadi akan baik kalau dilakukan analisa mendalam setidaknya dari dua aspek," ujarnya kepada Media Indonesia, Sabtu (5/2).

Tjandra menjelaskan kajian pertama tentang varian yang berhubungan dengan peningkatan angka kematian. Data yang diterima bahwa yang meninggal karena omikron di Indonesia sejauh ini adalah lima orang. Jadi, menurutnya akan lebih baik kalau dianalisa  varian mana yang menyebabkan angka kematian naik menjadi sampai 42 orang.

"Kalau ternyata meninggal akibat varian delta (karena yang meninggal akibat omicron tercatat lima orang) maka perlu juga digali apakah memang jumlah pasien varian delta juga makin meningkat sehingga ada peningkatan kematian ini," ujarnya.

Di sisi lain, kalau  kematian akibat varian omicron, maka tentu perlu digali kenapa sampai menimbulkan kenaikan kematian seperti saat ini. Menurut Guru Besar FK UI ini hasil analisa tentang varian yang behubungan dengan peningkatan kematian mungkin akan dapat menjadi salah satu masukan bagi kebijakan pengendalian dan juga mitigasi covid-19 di Indonesia di kemudian hari, agar dapat disesuaikan dengan lebih tepat.

Aspek ke dua, menurut Tjandra, analisa yang lebih tehnik klinis. Dalam hal ini akan baik kalau dilakukan audit untuk mengetahui penyebab kematian (cause of death/COD). "Katakanlah sejak 16 Desember 2021 dimana kasus omikron pertama dilaporkan. Seperti yang biasa dilakukan maka dapat dianalisa kelompok umur yang meninggal, jenis kelamin, ada tidaknya komorbid dan kalau ada maka apa jenisnya, status vaksinasi dan lainnya.

Yang tidak kalah pentingnya, kata Tjandra, adalah dimana tempat meninggalnya, apakah di rumah sakit atau di rumah. Ia menambahkan data yang didapat akan punya dampak klinik bagaimana penanganan pasien gawat dan juga dampak kebijakan kapan pasien harus masuk rumah sakit, atau bentuk kebijakan terkait lainnya.(H-1)
 
 

Baca Juga

DOK Pribadi.

Perkembangan Teknologi Harus Dimanfaatkan untuk Perkokoh Nilai Kebangsaan

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 26 Juni 2022, 17:30 WIB
Daya adaptasi dan inovasi yang mumpuni dari setiap anak bangsa yang didasari nilai-nilai kebangsaan sangat dibutuhkan untuk menjawab...
ANTARA/Nova Wahyudi

Hari Ini 3.683 Jemaah dari 7 Kloter Diberangkatkan ke Arab Saudi

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Minggu 26 Juni 2022, 17:15 WIB
Rencana keberangkatan jemaah haji Indonesia gelombang 2, Minggu, (26/6) Juni 2022 akan diberangkatkan sebanyak 9 kloter dari 7...
Ist

Sandiaga Uno: Desa Wisata Loang Baloq Paduan Ekraf dan Kearifan Lokal 

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 26 Juni 2022, 15:42 WIB
Lokasi Desa Wisata Taman Loang Baloq cukup strategis. Dari Lombok International Airport Praya sekitar 30 menit menggunakan mobil menuju...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya