Sabtu 15 Januari 2022, 11:42 WIB

YLKI Apresiasi Kenaikan Cukai Rokok

Humaniora | Humaniora
YLKI Apresiasi Kenaikan Cukai Rokok

ANTARA/YUSUF NUGROHO
Pekerja memproduksi rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) di salah satu pabrik rokok di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (23/12/2021).

 

YAYASAN Lembaga Konsumen Indonesia mengapresiasi Keputusan Menteri Keuangan Nomor 192/2021 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau Berupa Sigaret, Cerutu, Rokok Daun atau Klobot, dan Tembakau Iris. Kenaikan cukai diharapkan dapat melindungi konsumen dari paparan zat adiktif, seperti tembakau.

"Kita sambut baik keputusan tersebut. Kenaikan cukai rokok itu dilakukan untuk dimensi perlindungan konsumen karena cukai rokok itu memang berfungsi untuk perlindungan pada konsumen bahkan calon konsumen dari paparan zat adiktif seperti tembakau," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, Sabtu (15/1).

Tulus mengharapkan, kenaikan harga rokok sebagai efek naiknya cukai dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk mengurangi konsumsi rokok. Kenaikan cukai rokok ini, menurut dia, perlu dilakukan karena harga rokok di Indonesia termasuk yang termurah di dunia.

Baca juga: Menparekraf Ajak Desa Wisata Maksimalkan Inovasi Produk Wisata 

Baca jugaBMKG: Waspada Gelombang Sangat Tinggi Hingga 6 Meter di Perairan Indonesia

"Cukai rokok kita saat ini merupakan cukai yang tergolong paling rendah di dunia dan kemudian harganya juga menjadi harga rokok yang termurah di dunia," ujarnya.

Selain kenaikan cukai rokok, hal lain yang perlu untuk diperhatikan adalah masih maraknya penjualan rokok secara eceran.

Tulus mengatakan meskipun cukai rokok dinaikkan, harga rokok per batang masih terlalu murah untuk dibeli masyarakat kelas menegah bawah, remaja, dan anak-anak.

"Kenaikan cukai rokok yang terakhir dengan 12 persen itu, kalau dijual per batang, rata-rata konsumen masih bisa membeli rokok itu secara batangan dengan harga kurang dari Rp2.000, jadi rata-rata konsumen bisa membeli rokok Rp1.900 per batang," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah memberikan larangan penjualan rokok secara eceran.

"Rokok ini merupakan produk yang kena cukai dan merupakan racun atau zat adiktif, tapi dijual ketengan seperti kita membeli kacang goreng atau permen," katanya. (Ant/H-3)

Baca Juga

Antara

Nasib Haji Tahun 2022, Menag: Semoga Bulan Depan Ada Kejelasan

👤Mediaindonesia 🕔Senin 17 Januari 2022, 16:45 WIB
Yaqut mengatakan hingga saat ini otoritas Arab Saudi belum memberikan kepastian soal penyelenggaraan ibadah haji 1443 Hijriah/2022...
DOK Pribadi.

Yayasan Ufuk Indonesia Usung Sedekah Jumat dan Wakaf Al-Qur'an

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 17 Januari 2022, 16:20 WIB
Program ini bertujuan memperbaiki dan membangun musala atau masjid menjadi lebih baik sehingga jemaah beribadah dengan nyaman dan...
MI/Ferdian Ananda Majni

Media Indonesia Raih Baznas Award Kategori Media Pendukung Gerakan Zakat Indonesia

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Senin 17 Januari 2022, 15:50 WIB
MEDIA Indonesia meraih Baznas Award kategori Media Pendukung Gerakan Zakat Indonesia yang diberikan dalam rangka HUT Baznas ke-21....

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya