Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengungkapkan, lebih dari 50 tahun sektor riset Indonesia tidak menunjukkan kemajuan. Riset kecil-kecilan yang dilakukan berbagai lembaga riset pemerintah dan litbang Kementerian/ Lembaga belum berdampak signifikan pada pembangunan nasional.
Kemandekan tersebut menjadi alasan untuk mengintegrasikan semua lembaga riset pemerintah ke dalam BRIN. Masalah fundamental sektor riset itu dinilai bisa diperbaiki dengan hadirnya BRIN yang mempunyai kekuatan sumber daya yang luar biasa mulai dari SDM, infrastruktur hingga anggaran.
"Itu (BRIN) memang untuk menjawab problem fundamental riset kita yang kalau kami di internal, ya kita 50 tahun ini hampir tidak bergerak," ujarnya dalam acara Laksana Tri Handoko Jawab Gugatan Soal BRIN: Ada Area Gelap di Eijkman di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored pada Senin (10/1) malam.
Menurut Handoko, mandeknya sektor riset nasional yang berjalan lebih dari 50 tahun itu tidak berlebihan. Hal itu tidak perlu dibandingkan dengan negara maju, cukup dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Thailand yang dulunya belajar teknologi dari Indonesia.
Harus diakui bahwa saat ini banyak periset atau pun dosen yang melanjutkan pendidikannya di negeri Jiran itu. Artinya, selama ini memang perkembangan riset nasional termasuk di perguruan tinggi tidak berjalan.
"Tidak bergerak dari sisi apa kalau kita sandingkan dengan Malaysia, sayangnya. Malaysia tahun 70-an banyak belajar dari kita, Thailand juga sama tapi sekarang kita semua tahu banyak orang Indonesia bahkan dosen di perguruan tinggi, periset kami pun di BRIN banyak ke Malaysia," tutur Handoko.
Baca juga : Diragukan Jadi Ketua Dewan Pengarah BRIN, Ini Jawaban Megawati
Tentu itu bukan hal yang buruk, tetapi ketertinggalan itu yang patut menjadi introspeksi, termasuk para periset sendiri.
Ia menambahkan, sektor riset Indonesia tidak bergerak lantaran terlalu banyak lembaga-lembaga riset kecil. Apalagi lembaga-labaga riset itu justru didominasi lembaga riset pemerintah. Dengan anggaran yang terbagi, infrastruktur di masing-masing lembaga tidak memadai serta SDM yang tidak begitu kuat pada setiap lembaga, hasilnya pun tidak berdampak pada pembangunan.
"Nah, kalau yang harus banyak itu justru riset yang non pemerintah bukan pemerintah. Kalau standar UNESCO 80% riset dan aktivitas riset itu oleh swasta karena swasta itu yang menumbuhkan ekonomi bukan pemerintah. Pemerintah itu kan fasilitator, inabler, tapi pemerintah tidak bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang katakanlah signifikan," jelasnya.
Handoko menyebut bahwa lembaga riset pemerintah terlalu dominan dengan dibagi pada 74 K/L. Sehingga semua kecil, bahkan LIPI yang paling besar saat itu sebenarnya terlalu kecil.
"Makanya kita tidak punya cukup kapasitas dan kompetensi untuk berkompetisi. Padahal riset itu harus berkompetisi karena riset itu menciptakan kebaruan, invensi itu nanti jadi inovasi. Dan kebaruan itu harus global tidak bisa hanya di Indonesia saja, percuma," tandasnya. (OL-7)
Fokus diskusi mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari AI, Internet of Things (IoT), smart mobility, digitalisasi rantai pasok, hingga pengembangan keterampilan masa depan.
Prestasi ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan, memperkuat riset terapan, serta menghadirkan solusi teknologi.
Penderita Restless Legs Syndrome (RLS) memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Riset ini bertujuan memberikan panduan bagi elit politik sekaligus edukasi bagi masyarakat mengenai kompetensi pemimpin yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
Penghargaan bagi peneliti muda menjadi instrumen penting dalam membangun ekosistem riset nasional yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
SEPERTI hujan di tengah hari, ketika mendengar dilantiknya Prof Arif Satria sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko angkat bicara soal aksi unjuk rasa sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di depan Kantor BRIN, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Selasa (27/5).
Rencana efisiensi akan dilakukan antara lain untuk alat tulis kantor sebesar 90%, percetakan dan souvenir 75,9%, sewa gedung, kendaraan dan peralatan 73,3%, perjalanan dinas 53,9%.
Dunia profesional tidak hanya membutuhkan ijazah tapi juga keberanian, passion, kreativitas, inovatif dan adaptif untuk mengikuti perubahan dan perlu membentuk perbedaan.
Kerja sama difokuskan melalui pembiayaan dari pemerintah Indonesia melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.
BRIN mempunyai fungsi sebagai funding agency dalam pelaksanaan riset dan inovasi di Indonesia, bukan hanya untuk peneliti BRIN namun dapat diakses oleh untuk masyarakat umum.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved