Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat dari Januari hingga Desember 2021 kekerasan terhadap perempuan terjadi sekitar 7 ribu kasus dan kekerasan terhadap anak terjadi sekitar 10 ribu kasus.
"Kita juga tidak memungkiri fenomena terjadinya kekerasan ini seperti fenomena gunung es bisa terjadi kapan pun, di mana pun, dan siapa pun bisa menjadi korban. Terutama kalau berbicara perempuan dan anak inilah yang menjadi kelompok rentan," kata Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan (PHP) KemenPPPA Ratna Susianawati saat dihubungi, Senin (13/12).
Data yang dihimpun dari KemenPPPA kekerasan terhadap wanita yakni Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan yang anak disebabkan kekerasan seksual.
Baca juga: Dikti-Ristek: Penelitian dan Pengabdian di PT Bukan untuk Naik Jabatan
Baca juga: Amankah Berkumpul dengan Keluarga Tapi belum Divaksin Covid-19?
Sebelumnya KemenPPPA pada tahun 2016 dan 2018 juga sudah melakukan penelitian bahwa kekerasan terjadi di masyarakat khususnya terhadap perempuan itu menunjukkan satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan. Untuk di tahun 2021 survei yang sama juga dilakukan tetapi KemenPPPA belum merilis hasilnya.
KemenPPPA juga mencatat pada tahun ini terjadi peningkatan laporan kekerasan pada tahun ini. Meski begitu KemenPPPA melihat tahun ini sudah banyak korban yang berani untuk melaporkan.
"Karena ada keberanian masyarakat untuk melapor, keberanian masyarakat melapor itu kan juga akhirnya kasus kekerasan banyak yang terkuak," ucapnya.
Ini juga yang menjadi satu fenomena yang baik, ketika masyarakat berani melaporkan kasus-kasus kekerasan. Kalau dulu misalnya ada kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak banyak yang melaporkan karena dianggap sebagai masalah privasi, padahal itu merupakan masalah serius.
Selain itu KemenPPPA juga memikirkan bahwa penyintas kekerasan seksual ini untuk diberikan ruang pemberdayaan mulai dari sosial, ekonomi, supaya tidak tumpang tindih dengan kementerian lain maka konsentrasi dari KemenPPPA berfokus pada 3 sasaran target.
"Target pertama adalah penyintas kekerasan, penyintas bencana, dan perempuan kepala keluarga. Itu merupakan sasaran target pemerintah dalam 5 tahun ke depan," pungkasnya. (H-3)
PEMERINTAH Provinsi Sumatra Utara mencatat lonjakan kasus kekerasan terhadap anak yang didominasi oleh kekerasan seksual sepanjang tahun 2025.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya membangun ekosistem hukum yang kuat serta edukasi yang memadai untuk melindungi anak-anak.
kasus kekerasan terhadap siswa ini mencederai rasa kemanusiaan.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya kasus penculikan anak yang terjadi belakangan ini.
Psikolog anak, Mira Damayanti Amir, menekankan bahwa darurat kekerasan tengah terjadi di Indonesia.
Survei terbaru yang dirilis Voxpol Center Research and Consulting menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih tergolong tinggi.
Survei tersebut menemukan bahwa mayoritas responden (77%) memperkirakan akan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun.
Menurutnya, kepercayaan publik yang sudah terbentuk perlu dijaga agar tidak menurun di tengah dinamika kebijakan dan tantangan pemerintahan.
Fernando menyebut, posisi Sjafrie sebagai sahabat karib sekaligus menteri paling berpengaruh di kabinet menjadikannya sosok yang sangat kuat.
Founder Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan, survei terbaru menunjukkan langkah Kejagung menunjukkan uang sitaan mendapat apresiasi.
Berdasarkan survei terhadap 1.000 responden pada akhir 2025, sebanyak 82% pekerja Indonesia mengaku bahagia di tempat kerja.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved